SELAMAT DATANG

Blog ini dibuat terutama sebagai sarana diskusi para mahasiswa. Terima kasih atas pengertiannya.....
Postingan tentang BAHASA TOMBULU telah disatukan pada blog: bahasatombulu.blogspot.com
Tugas wawancara pebisnis dipostingkan pada blog: kuraberbisnis.blogspot.com

Kamis, 17 September 2015

Organisasi Bisnis Yang Manusiawi (Julius Runtu) *)

 

Ketika saya melanjutkan studi magister ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, saya diharuskan untuk mengambil program matrikulasi 3 semester yang mana 2 semester harus saya tempuh bersama-sama dengan mahasiswa S-1.Jadilah saya mahasiswa paling tua di kelas yang saya ikuti.Seorang dosen manajemen keuangan terheran-heran melihat saya masuk di kelasnya.Dia lebih tercengang lagi ketika tahu bahwa saya sebelumnya studi S-1 di bidang Filsafat. Akan tetapi saya balik tercengang ketika dia berkomentar: “S-1 Filsafat? Mengapa kamu begitu konyol, sudah enak-enakan di surga, kok mau menyeberang ke neraka?Menurut beliau, filsafat lebih memudahkan seseorang ke surga sebaliknya bisnis lebih mendekatkan seseorang ke neraka.Meskipun semua yang di dalam kelas tertawa (kecuali saya tentunya) tapi tampaknya mereka setuju dengan pernyataan professor keuangan tersebut.Mengapa orang berpendapat bahwa bisnis lebih cenderung membuat pelaku bisnis “mendekat” ke neraka?Apa yang terjadi dalam bisnis sehingga memunculkan penilaian sinis tersebut? Tulisan ini akan mencoba menyoroti sebagian persoalan yang ada dan membahasnya dalam perspektif filsafat. Pembahasan dari perspektif filsafatakan didasarkan terutama pada tulisan Prof. Dr. Armada Riyanto CM dalam berbagai buku yang telah dipublikasikan beliau.

Persaingan Kejam dalam Bisnis

Prinsip scarcity merupakan salah satu asumsi dasar dalam ilmu ekonomi.Prinsip kelangkaan ini terkait dengan sumber daya yang dibutuhkan manusia.Sumber daya itu terbatas sehingga harus dikelola dengan baik dan bahkan “harus diperebutkan”.Selanjutnya muncul kata ajaib “kompetisi” atau “persaingan”.Persaingan telah mendorong organisasi untuk lebih kreatif, inovatif, efektif dan efisien untuk dapat memenangkan persaingan.Sayangnya, tidak semua organisasi menempuh persaingan yang sehat. Selalu ada godaan bagi organisasi yang memiliki “kelebihan” tertentu (misalnya modal) untuk berupaya “mengalahkan” pesaingnya dengan berbagai cara. Upaya monopoli merupakan salah satu upaya yang dilakukan. Dan untuk bisa menerapkan monopoli, suatu organisasi harus “mematikan” organisasi lain yang bergerak di bidang yang sama. Hal itu dilakukan secara halus antara lain dengan menerapkan strategi “predatory price” yang mana perusahaan yang memilliki modal besar menjual produknya di bawah harga pokok produksi (jual rugi) sehingga pesaingnya yang memiliki modal lebih sedikit tidak akan sanggup “meladeninya”. Ketika pesaing telah gulung tikar, organisasi tersebut dapat dengan seenaknya menentukan harga karena dia satu-satunya pemain di bidang itu.
Praktek-praktek tersebut (dengan cara yang lebih halus) masih tetap terjadi. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) masih tetap menerima banyak laporan terkait praktek persaingan yang tidak sehat.Salah satu peritel nasional yang besar sempat diajukkan ke pengadilan oleh para pemasok karena menerapkan uang jaminan untuk pasokan barang dengan harga termurah. Jadi, ketika peritel tersebut menemukan pemasok lain yang lebih murah dari pemasok yang dia miliki, maka uang jaminan si pemasok otomatis hangus. Kebijakan ini sungguh sangat tidak fair karena harga produk bisa berubah sewaktu-waktu bahkan dapat dipermainkan oleh pihak-pihak lain yang tidak bertanggungjawab.Untunglah pengadilan memenangkan gugatan para pemasok sehingga si peritel harus mengganti kerugian para pemasok akibat kebijakan si peritel tersebut.
Selain pendekatan hukum, persaingan tidak sehat itu dapat juga dicegah dengan pendekatan yang lebih mendasar yaitu kesadaran para pebisnis. Meskipun dosen manajemen perubahan saya di UGM merasa bahwa dia dianggap “nyeleneh” oleh rekan sejawatnya, ada argumentasinya tentang bisnis yang sampai saat ini membekas dalam diri saya.Dia hendak menggugurkan asumsi dasar ilmu ekonomi yaitu prinsip scarcity.Menurut beliau, sumber daya itu tidak terbatas.Persoalannya hanya terletak pada ketidakmampuan dan keengganan dalam menemukan alternative sumber daya yang dianggap terbatas tersebut.Konsekuensinya, persaingan itu tidak perlu.Oleh karena itu dia mengusulkan agar “competition” diganti dengan “complementation”. Dengan saling melengkapi, para pebisnis akan mendapatkan berbagai alternative sumber daya yang tidak terbatas.

Eksploitasi atas pekerja

Adalah suatu pemandangan yang biasa di Negara ini untuk menyaksikan demo ribuan buruh setiap mendekati akhir tahun. Sebab pada saat itu, pemerintah bersama pengusaha dan perwakilan buruh akan menetapkan upah minimum untuk tahun berikutnya. Mengapa persoalan ini selalu terulang?Dalam teori ekonomi dikenal istilah 4 M yaitu Man, Machine, Money, dan Methods sebagai penentu factor produksi yang harus dikelola seefektif dan seefisien mungkin agar produktifitas dapat ditingkatkan.Efektif terkait dengan ketepatan untuk mencapai tujuan sedangkan efisien terkait dengan biaya yang dikeluarkan untuk itu.Tidak mengherankan bahwa banyak pebisnis yang sering tergoda untuk mengejar efisiensi (konsekuensinya jelas yaitu pengurangan biaya) untuk keempat factor tersebut termasuk manusia (yang umumnya diwakili kaum buruh). Mereka lupa bahwa sejak jaman revolusi industry, Robert Owen (dalam Wren & Bedeian, 2009: 61-66) telah mengingatkan pentingnya “invest to vital machine” yaitu pekerja jika perusahaan ingin meningkatkan produktifitas.Di Negara ini, kaum buruh harus memacetkan jalan-jalan protocol di kota-kota besar berhari-hari serta berhadapan dengan pentungan petugas keamanan hanya untuk memperjuangkan hak “minimum” mereka.Ketika batas minimum itu sudah ditetapkan, masih ada perusahaan yang sengaja mengakali pengaturan jam kerja sehingga tidak memenuhi asumsi minimum jam kerja yang disyaratkan agar berhak atas standar minimum yang diatur undang-undang.
Menurut Locke (dalam Riyanto, 2013: 121) perbudakan berhenti ketika kerja manusia memungkinkan hidupnya semakin baik.Ketika ada anggota organisasi yang menganggap bahwa gaji tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya tetapi organisasi tidak melakukan perbaikan system (padahal dia mampu) bahkan balik meminta si anggota untuk meninggalkan saja organisasi tersebut jika merasa tidak cocok, bukankah hal itu merupakan bentuk perbudakan baru?
George Luckas (dalam Riyanto, 2013:123) mengemukakan bahwa hal terpenting dalam kerja adalah relasi manusiawi. Ketika bekerja, manusia tidak sekedar menghasilkan sesuatu melainkan ia juga sedang mengkomunikasikan dirinya. Hal itu berdampak pada pentingnya reaksi rekan sekerja dan organisasi terhadap kerja seseorang.Sebab, reaksi tersebut tidak sekedar reaksi terhadap hasil pekerjaannya tapi merupakan reaksi terhadap diri orang tersebut. Alangkah sulitnya untuk menerima bahwa penilaian yang kurang terhadap pekerjaan seseorang akan berhenti pada hasil pekerjaan itu tanpa terus “menohok” sampai ke harga diri orang yang melakukan pekerjaan itu. Akibatnya, organisasi harus mempunyai system penilaian yang fair dan bisa dipertanggungjawabkan. Jika tidak, organisasi akan membunuh secara perlahan-lahan anggotanya setiap siklus penilaian kinerja itu dilakukan. Atau sebaliknya, organisasi akan meninabobokan anggotanya dengan harga diri semu ketika system penilaian ala kadarnya (formalitas) diadopsi dalam organisasi tersebut.
Untunglah banyak buruh yang tidak tahu bagaimana peraturan perlakuan atas factor produksi tersebut dalam pencatatan keuangan perusahaan. Biaya untuk pembelian mesin atau asset berwujud lainnya diperlakukan berbeda. Andai saya manajer dan tahun ini saya membeli mesin seharga 50 juta maka dampak keputusan saya masih terasa secara eksplisit pada laporan keuangan sampai beberapa tahun kemudian karena asset tersebut akan dibagi 5 tahun (jika penyusutannya misalnya 5 tahun) sehingga setiap tahun saya bisa mengurangkan masing-masing 10 juta pada laba kotor sebagai biaya penyusutan sampai tahun kelima ketika nilai buku mesin yang saya beli itu sudah dianggap nol. Filosofi di balik biaya penyusutan ini adalah  ketika tahun kelima saya sudah harus membeli mesin baru, saya sudah memiliki dana untuk itu serta nilai mesin tersebut semakin lama semakin berkurang sampai suatu saat tidak mempunyai nilai lagi bagi perusahaan. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi pengeluaran yang terkait SDM.Semua pengeluaran terkait SDM selalu diperlakukan sebagai biaya.Investasi pada SDM hanya sekedar ungkapan pemanis tanpa dikonkritkan dalam pencatatan keuangan perusahaan.Akibatnya, banyak manajer yang lebih memilih melakukan investasi pada asset berwujud dibandingkan pada yang tidak berwujud yaitu SDM.Mesin dan asset berwujud lainnya diperlakukan lebih “manusiawi” (karena disadari dan diantisipasi “keausannya”) dibandingkan manusia itu sendiri.

Saling Menjatuhkan dalam Organisasi

Persaingan dalam bisnis tidak hanya terjadi antara organisasi dengan organisasi lain. Persaingan juga terjadi di dalam lingkungan organisasi. Tuntutan akan kinerja yang tinggi dengan reward yang tinggi pula memang berdampak pada peningkatan produktifitas perusahaan. Di sisi lain hal tersebut membuat anggota organisasi terjerumus pada orientasi akan hasil. Proses untuk mencapai tujuan sering diabaikan karena yang dipentingkan adalah pencapaian target. Segala cara dihalalkan (misalnya, merebut klien dari rekan kerja, menahan informasi tertentu, dan lain-lain) demi mencapai tujuan. Akibatnya, ketidakpercayaan mewarnai hubungan anggota organisasi.
Gap kompensasi yang terlalu tinggi antar  posisi yang ada dalam organisasi juga berdampak pada upaya “saling jegal” untuk memperebutkan posisi yang lebih “basah”. Pada kondisi ini muncul para oportunis dan “penjilat” yang membuat sikap saling percaya bergerak ke titik nadir.Ungkapan Sartre mungkin agak mewakili gambaran yang umum yang terjadi dalam berbagai relasi tersebut.Sesama (rekan kerja) adalah neraka bagi eksistensi/keberadaan saya.Semua relasi yang terjalin tampak hanya relasi transaksional atau dengan ungkapan yang lebih kasar dapat disebut sebagai relasi “saling memanfaatkan”.Sesama hanya dilihat sebagai “yang sejauhmana barmanfaat bagi saya”.Tanpa bermanfaat, dia tidak ada dalam relasi saya.
Padahal, relasi yang didasarkan pada transaksi akan berumur pendek yaitu sejauh manfaat masih dapat diidentifikasi pada relasi tersebut. Relasi ini tidak mencerminkan martabat manusia.Memberi bukan suatu transaksi karena jika demikian maka tindakan itu selesai pada saat itu (Riyanto, 2013:109). Memberi merupakan penyeberangan dari kepentingan pribadi ke kepentingan orang lain. Memberi memungkinkan  saya  semakin menjadi manusiawi.
Hal lain yang muncul dari kondisi tersebut di atas adalah sikap saling curiga.Semua rekan kerja dapat saja menjadi “musuh dalam selimut” yang sewaktu-waktu dapat menikam dari belakang.Atau menjadi penjilat yang selalu memata-matai kinerja seseorang dan melaporkan ke atasan ketika ada yang tidak beres.Curiga memungkinkan relasi manusia pada pinggiran ketulusan.Tidak ada kedalaman hubungan personal bila curiga datang dan menghantui (Riyanto, 2013:175).Curiga tidak semata-mata perasaan tapi mengindikasikan pengetahuan tertentu.Pengetahuan tersebut belum sempurna. Oleh karena itu, untuk mengatasi kecurigaan maka perlu pencarian akan pengetahuan yang sempurna atau pengetahuan yang sebenarnya. Akan tetapi sebelum menemukannya, curiga yang berkembang dalam organisasi itu telah merusak sendi-sendi relasi manusiawi dalam organisasi tersebut.




Menuju Organisasi Bisnis yang Lebih Manusiawi

Upaya mendasar untuk membuat organisasi bisnis menjadi lebih manusiawi adalah dengan mengupayakan keadilan dalam organisasi tersebut. Keadilan itu penting dalam konteks ekonomi dan bisnis karena keadilan tidak pernah sebatas perasaan atau sikap batin saja tapi menyangkut kepentingan atau barang yang dimiliki atau dituntut oleh  berbagai pihak (Bertens, 2000:85). Apalagi, adil merupakan satu kodrat perbuatan manusia  yang menunjukkan keterarahan pada orang lain. Dengan demikian, adil merupakan keutamaan seseorang yang tertuju kepada orang lain (Riyanto, 2013: 74)
Gejolak yang sering muncul dalam relasi berorganisasi adalah perlakuan yang tidak adil baik oleh system maupun individu (rekan dan pimpinan) terhadap individu lain. Terkait dengan system, banyak individu yang melihat kebijakan yang diambil oleh organisasi,  lebih menguntungkan pihak tertentu (umumnya terkait mereka yang ada pada sumbu kekuasaan dan mereka yang ada di sekitar sumbu tersebut). Kebijakan tersebut antara lain tidak ada kesetaraan dalam akses sumber daya organisasi seperti fasilitas serta peluang untuk pengembangan karir.
Hal yang paling menonjol adalah kebijakan penggajian.Gap yang terlalu tinggi antara karyawan yang terendah dan pimpinan tertinggi masih sangat besar di Negara kita.Gelombang demonstrasi tahunan hanya demi memperjuangkan gaji minimum menunjukkan jauhnya kesejahteraan bagi sebagian besar pekerja. Padahal, sistem kerja yang benar adalah system yang memungkinkan konservasi manusia di masa depan. Kerja dengan gaji yang diterima tidak boleh disempitkan pada kebutuhan saat ini. Kerja juga harus menjadi jaminan bahwa manusia bisa hidup di masa depan, justru ketika dirinya tidak lagi bisa melakukan banyak karena energy sudah habis (Riyanto, 2013:123). Dengan demikian, setiap orang yang bekerja berhak atas masa depan yang layak dan manusiawi.
Persoalan ketidakadilan antar individu sering dipicu oleh ketidakmampuan pimpinan dalam mengelola organisasi.Plato (dalam Small, 2008) mengemukakan seorang yang menjadi pemimpin adalah "raja yang filsuf" yang telah disiapkan melalui berbagai tahapan pendidikan persiapan untuk tempat akhirnya mereka di masyarakat. Remaja putra akan belajar berbagai literatur (dikenakan penyensoran), dan pengetahuan militer, musik dan matematika. Pada usia 20 mereka akan menjalani pelatihan lanjutan dalam matematika, pada usia 30 mereka akan mempelajari dialektika dan filsafat moral, diikuti oleh 15 tahun pengalaman praktis. Sekitar usia 50, mereka mungkin cocok untuk mencapai tingkat tertinggi pengetahuan, yaitu visi "baik". Hal itu menyiratkan bahwa pemimpin haruslah seseorang yang memiliki kompetensi dan disiapkan melalui proses suksesi yang jelas. Pada banyak organisasi bisnis, kedekatan karena factor keluarga atau factor lain yang tidak terkait dengan kompetensinya masih banyak mewarnai proses suksesi yang terjadi.
            Pemimpin yang kompeten akan lebih cenderung menjadi pemimpin yang transformasional, mau memberdayakan bawahan ke level kinerja yang lebih baik. Pemimpin kompeten akan mampu memberi pengharapan pada bawahannya akan kehidupan yang lebih baik. Pengharapan memungkinkan  manusia makin memanusiawi, bahkan bila dirinya sudah berada di pinggiran kehidupannya (Riyanto, 2013:173). Dengan demikian, pemimpin kompeten yang dapat memberi pengharapan kepada bawahannya, merupakan pemimpin yang memungkinkan bawahannya untuk makin manusiawi.
Sebaliknya pemimpin yang kurang kompeten akan cenderung mengandalkan otoritas formal yang dimiliki (SK atau Surat Tugas} dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya. Mereka cenderung jatuh dalam sikap otoriter atau sikap “cuci tangan” dengan berlindung pada aturan yang pada konteks atau situasi dan kondisi tertentu harus ditafsirkan dengan cara yang berbeda. “Saya hanya menjalankan tugas” atau “aturan yang ada memang demikian” merupakan ungkapan-ungkapan “putus asa” dari mereka yang sebenarnya kurang kompeten tapi diserahi tanggung jawab tertentu. Tidak mengherankan kalau kita menemukan pimpinan yang telah mengambil kebijakan yang salah bahkan merugikan organisasi yang sama sekali tidak mencerminkan ekspresi penyesalan atas apa yang telah dilakukannya. Apakah banalitas juga mewarnai bisnis?Banalitas merupakan kekerasan tapi pelakunya tidak melakukan tindakan irasional tapi rasional sehingga memunculkan perasaan kebanggaan bukan penyesalan bagi si pelaku (bdk. Riyanto, 2013:96). Pelaku bahkan merasa berjasa karena telah melakukan hukum yang berlaku.Ketika kesadaran direduksi pada aturan, maka pertimbangan baik dan buruk semata didasarkan pada hukum atau aturan yang ada.
            Lalu, apakah keadilan mungkin diwujudkan dalam lingkup bisnis dan bagaimana kita mengetahui kalau keadilan telah terlaksana dalam suatu bisnis?Jawabannya adalah ketika setiap orang melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya maka disitulah tercipta keadilan (bdk. Riyanto, 2013: 80). Dengan adanya keadilan dalam bisnis maka organisasi bisnis akan semakin manusiawi. Sebab, dengan adanya tatanan yang adil maka kehidupan dan keluhuran martabat setiap manusia dibela dan dimuliakan ( Riyanto, 2013:81).

Penutup
Bisnis sering menampakkan “wajahnya” yang tidak manusiawi bahkan mengarahkan dan atau menjadi “neraka” bagi individu-individu yang terlibat di dalamnya.Akan tetapi, wajah tersebut bukan bagian hakiki dalam bisnis. Dengan mengupayakan keadilan, tatanan bisnis pun dapat menjadi tatanan dengan system kerja yang memenuhi pemuliaan keluhuran manusia. Dalam tatanan yang sedemikian, individu dapat menemukan damai (“surga”?).Damai adalah yang dengannya orang lain mendapatkan penghormatan martabatnya. Damai terjadi ketika tidak ada dominasi terhadap yang lain. Situasi dan kondisi “win-win” bukan “win-lose.”Damai tercipta dalam tata relasi, hubungan setara antar mereka yang berelasi (bdk. Riyanto, 2013:91-92). Itulah harapan akan bisnis yang manusiawi, suatu harapan yang masih perlu perjuangan yang panjang tapi merupakan suatu harapan yang perwujudannya sangat bernilai sehingga sangat pantas untuk terus diperjuangkan.


=o0o=

Daftar Pustaka

Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Yogjakarta: Kanisius
Riyanto, Armada, Marcellius Ari Christy, Paulus Puyung Widodo. 2011. Aku & Liyan: Kata Filsafat dan Sayap. Malang: STFT Widya Sasana.
Riyanto, Armada. 2013. Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogjakarta: Kanisius
----------------------. 2014. Katolisitas Dialogal: Ajaran Sosial Katolik. Yogjakarta: Kanisius
Small, Michael W. 2004.Philosophy in Management: A new trend in management development. The Journal of Management Development, Vol. 23 (2): 183-196.
Wren, Daniel A. & Arthur G. Bedeian. 2009. The Evolution of Management Thought. New York: John Wiley and Sons, Inc.


*)Tulisan ini merupakan bentuk nyata eksistensi saya karena dengan ini saya berpikir. Ketika saya tidak bertanya dan mempertanyakan, tidak pernah sangsi akan apapun, menerima benar begitu saja, maka ketika itu saya tidak berpikir (Riyanto, 2013: 17). Descartes akan menyebut saya tidak memanusaiwi dan tidak “mengada”.
*)Tulisan ini juga merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Filsafat yang diampu oleh Prof. Dr. Armada Riyanto CM pada Program Doktor Ilmu Manajemen UKWMS

Bahan Diskusi:

Setelah Saudara membaca tulisan di atas, bagian atau konsep manakah yang menarik atau justru yang membingungkan? Selamat berdiskusi

 MOHON PERHATIAN:
Meskipun tanggal 24 September 2015 tidak ada perkuliahan (hari raya), postingan baru tetap akan   saya   berikan sekitar tanggal tersebut. Terima Kasih

58 komentar:

  1. Bagi saya yang menarik ialah konsep saling menjatuhkan di dalam organisasi. Tertulis jelas kerap kali kita menemukan hal-hal yang menyimpang saat terlibat di dalam suatu organisasi. Seperti tertulis : Segala cara dihalalkan (misalnya, merebut klien dari rekan kerja, menahan informasi tertentu, dan lain-lain) hal ini sering kali ditemukan dalam kehidupan atau realita yang ada. Baik organisasi kecil maupun besar. Saya rasa konsep dan pengertian ini sangat sesuai dan nyata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kejadian menyimpang memang sering kali ada di dunia kerja, entah apapun it salah satunya adalah saling menjatuhkan, menrut Anda apakah tindkn ini wajar dalam kingkungan bisnis?

      Hapus
    2. Menurut saya bila tujuannya hanya untuk menjatuhkan pihak lain atau memberikan dampak negatif terhadap pihak lain sebaiknya hal itu tidak perlu untuk diterapkan. Karena lebih baik bekerja dengan baik dan sesuai etika dr pd harus bekerja untuk menjatuhkan pihak lain.

      Hapus
  2. Menurut ane, bagian yg menarik adalah pernyataan dosen yang tercengang karena Bpk.Runtu mengambil mata kuliah bisnis : Mengapa kamu begitu konyol, sudah enak-enakan di surga, kok mau menyeberang ke neraka?
    Ane bingung kenapa pikiran orang2 ini semakin pendek dari masa ke masa. Apa pasti kalau bisnis itu selalu kotor, padahal bisnis itu hanya bersaing pintar memainkan taktik. Intinya begini, kalau memang ada peluang misalnya untuk menguasai perusahaan pesaing, apa salah jika mengambil peluang tsb? Kan akhirnya juga kita membeli dengan harga kesepakatan. Ini contoh pertama.
    Kedua, misalnya kita mampu mematikan pesaing dengan merebut pangsa pasarnya, apa salah jika kita berhasil merebutnya?
    Kan kalau tidak mau dikalahkan, ya ayo berusaha mati-matian menjadi yang terbaik.

    Kalau misal ada persekongkolan 2 atau lebih perusahaan untuk mematikan suatu perusahaan kecil lain, itu baru salah. Itu terjadi karena ketamakan pebisnisnya, bukan bisnisnya.
    Bisnis itu sebenarnya merupakan sebuah usaha untuk tetap dapat bertahan hidup.
    That's all...

    Maksud ane di sini, janganlah kita men-generalisir bahwa bisnis itu dekat dengan neraka(hal buruk). Semua itu tergantung pemain bisnisnya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, saya mempunyai pemikiran yang sama dengan sodara andreas tentang bagian yang menarik yaitu ketika para dosen menganggap dunia bisnis itu rawan masuk neraka. ini adalah sebuah kalimat yang lucu namun layak untuk diperbincangkan.

      namun pernyataan sodara andreas yang mengatakan "pikiran orang-orang ini semakin pendek dari masa ke masa" tidak semestinya dilontarkan.

      mari kita lihat dari sudut pandang yang lain....

      bisnis seolah olah menjadi ladang bagi orang-orang untuk berbuat dosa. awalnya bersaing secara sehat, ketika perusahaan berada di ujung kekalahan cara cara tidak sehat pun terpaksa dilakukan. memang tidak etis, tetapi apakah rela keluarganya sengsara ?

      untuk itu tidak hanya dari sisi pebisnis saja. tetapi juga perlu adanya peran pemerintah dan masyarakat. saling bersinergi dalam membangun negara yang adil dan bersih, tenteram.
      tetapi permasalahannya adalah bagaimana cara mewujudkannya ??

      bagaimana menurut tanggapan sodara ane andreas ? atau barang kali teman teman yang lain bisa saling berbagi saran disini.

      Hapus
  3. Menurut saya, bagian tulisan yang menarik adalah di bagian "menuju organisasi bisnis yang lebih manusiawi", karena tertera bahwa seorang pemimpinlah yang secara umum menentukan nasib bawahannya (dalam kasus ini, karyawannya). banyak dijumpai, tidak hanya di bisnis, namun juga di banyak hal lain, pemimpin yang kurang kompeten dalam menjamin berlangsungnya kegiatan organisasinya, atau kurang mampu menjamin kesejahteraan orang-orang di bawahnya. akibatnya, yang paling menderita adalah orang-orang yang bekerja di lapisan bawah, seperti karyawan biasa yang bukan manajer. Namun, apa daya para karyawan ini tidak memiliki cukup pengaruh dan kekuasaan untuk mengubah nasib mereka sendiri, dan terpaksa bergantung kepada pemimpin yang diatasnya tadi. Alangkah baiknya bila untuk ke depannya, pemilihan pemimpin tidak didasari pada kedekatan/relasi dengan pemimpin sebelumnya, sehingga pemimpin yang baru tsb dapat benar-benar memajukan organisasi/perusahaan dan menjamin kesejahteraan orang-orang yang bekerja di bawahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut Anda bagaimana contoh pemimpin yang kurang mampu menjamin kesejahteraan anggota bawahnya?dan yang sudah.

      Hapus
    2. Saya kurang sependapat dengan anda mengenai “pemilihan pemimpin tidak didasari pada kedekatan/relasi dengan pemimpin sebelumnya” , karena di sebuah perusahaan jika akan memilih posisi-posisi kunci seperti “manajer” pasti dinilai secara serius tidak hanya secara subyektif saja, harus di nilai secara obyektif dengan mempertimbangkan kompetensi, pengalaman dan sebagainya. Dan tentunya para pihak direksi akan turut campur tangan dalam menentukan siapa pemimpin yang bisa diandalkan.

      Hapus
    3. Mengenai pertanyaan saudari erlinda, contohnya mungkin bisa kita ambil dari sebuah bisnis restoran kecil. Apabila si pemilik tidak dapat mengoperasikan restoran dengan baik, maka usaha itu tidak akan dapat laba yang besar dan karenanya pendapatan karyawannya tidak naik-naik. Selain itu, terkadang ada pula pemilik usaha yang tidak peka terhadap kebutuhan khusus karyawannya, misalnya karyawan yang sedang sakit atau hamil, apabila mereka tidak peka dan tidak mampu melihat pentingnya membantu karyawannya, maka karyawannya akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. atasan yang sudah menjamin kesejahteraan, contohnya misalnya pemilik usaha kontraktor yang menjaminkan karyawannya dalam asuransi jiwa dan memberikan fasilitas keamanan yang memadai

      Mengenai tanggapan saudari priscilla, memang, dalam perusahaan besar biasanya pemilihan pemimpin dilakukan sesuai prosedur yang saudari kemukakan. Namun, tidak semua bisnis dijalankan dengan prosedur seperti itu. mari kita kembali melihat contoh usaha-usaha kecil, yang kerap kali pergantian kepemimpinannya dilakukan karena adanya relasi (misalnya, orang tua menurunkan usahanya kepada anaknya)

      Hapus
  4. menurut pendapat saya lebih gampang menju organisasi karena banyak mengerti halnya organisasi di lingkungan misalnya sebagai marketing dan semua orang-orang biyar tau bersolisasi terhadap ligkungan sekitar oleh sebab itu seorang marketing mengerti apa itu organisasi dan pintar berorganisasi di lingkungan tersebut

    BalasHapus
  5. Setelah membaca postingan tersebut ada kata-kata mengenai "Sumber daya itu tidak terbatas.Persoalannya hanya terletak pada ketidakmampuan dan keengganan dalam menemukan alternative sumber daya yang dianggap terbatas tersebut. Konsekuensinya, persaingan itu tidak perlu.Oleh karena itu dia mengusulkan agar “competition” diganti dengan “complementation”. Dengan saling melengkapi, para pebisnis akan mendapatkan berbagai alternative sumber daya yang tidak terbatas." Menurut saya itu hal yang diharapkan dalam dunia bisnis agar tidak adanya saling sikut lagi antar competitor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam pernyataan saudara jonny, jadi apakah di sini maksudnya saudara setuju bahwa persaingan itu tidak perlu ? Sebab menurut pandangan saya, persaingan dalam dunia bisnis masih tetap diperlukan untuk menciptakan dorongan bagi setiap pelaku bisnis dalam menentukan strategi yang dapat mengungguli pesaingnya. Dorongan itu yang nantinya akan menjadi semangat juang setiap pebisnis untuk terus meningkatkan kinerja kualitas bisnisnya dari waktu ke waktu. Jika tidak ada persaingan, dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan pebisnis menjadi lesu karena tidak adanya tantangan yang dihadapi. Nantinya hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas kinerja bisnisnya yang dapat merugikan konsumen. Seperti misalnya, penurunan kualitas produk atau tidak adanya pengembangan variasi produk baru yang tentunya hal ini akan merugikan konsumen. Akan tetapi, memang di sini yang perlu ditekankan adalah bahwa persaingan yang terjadi di pasar harapnya dipandang dengan sudut pandang yang positif. Artinya, di dalam persaingan, pebisnis diharapkan menemukan strategi yang dapat mengungguli pesaingnya dengan tetap memperhatikan batasan-batasan etis perilaku bisnis yang ditentukan di dalam peraturan pemerintah. Intinya di sini bahwa saya tetap mendukung adanya persaingan, tetapi dengan konsep "bersaing secara sehat." Di sini maksudnya pebisnis diharapkan dapat menentukan strategi bersaing yang tidak melanggar batasan-batasan etika perilaku bisnis dengan berpedoman pada acuan peraturan hukum pemerintah mengenai tata cara berbisnis yang baik.

      Hapus
    2. Terimakasih saudara Alvin. Saya setuju dengan pendapat saudara, tetap dibutuhkan yang namanya persaingan agar dapat memacu para produsen agar tetap berinovasi dan berkembang tetapi alangkah baiknya persaingannya secara sehat itu diterapkan.

      Hapus
    3. Saya mencoba melengkapi jawaban dari Sdr Jonny, sebenarnya persaingan itu adalah akibat dari tidak ditemukannya sumberdaya yang tidak terbatas. Jika antar perusahaan bekerjasama untuk menemukan sumber daya komplementer, maka persaingan yang ditimbulkan akan lebih minim (misalnya yang timbul hanya persaingan pemasaran secara sehat). Contohnya perusahaan elektronik A dan B bekerjasama untuk mengembangkan suatu produk LCD tv, dengan menggabungkan kekuatan masing-masing perusahaan (misalnya perusahaan A kuat dalam segi pengembangan teknologi dan perusahaan B kuat dalam segi penyediaan pasokan bahan baku elektronik.) Maka dari hasil kerjasama tersebut akan menghasilkan suatu produk LCD tv yang berkualitas dan pastinya menekan biaya masing-masing perusahaan. Disinilah yang dimaksudkan komplementer.

      Hapus
    4. Terimakasih saudari silvia. Saya setuju dengan pendapat saudari. Terimakasih atas tanggapannya.

      Hapus
  6. Prinsip scarcity merupakan salah satu asumsi dasar dalam ilmu ekonomi.Prinsip kelangkaan ini terkait dengan sumber daya yang dibutuhkan manusia.Sumber daya itu terbatas sehingga harus dikelola dengan baik dan bahkan “harus diperebutkan”. Saya tertarik dengan bagian ini apalagi pada zaman sekarang kita memasuki abad 21 yang terjadi struktur perekonomian yang sangat tidak stabil dan sekarang kecenderungan sedang terjadi cosh push inflation yang mengakibatkan skaka tidak ekonomi dan siklus bisnis menjadi lesu sehingga yang mampu bertahan dipasar adalah perusahaan yang benar-benar memiliki modal besar sehingan mampu mengikuti permainan harga. Harga Sumber bahan baku yang semakin mahal ini dan keadaan yang langka membuat perusahaan banyak yang gulung tikar sehinggan sangat dibutuhkan peran opportunity cost dan PPC -> product posibility curve.

    BalasHapus
  7. bagian yang menarik adalah pernyataan "Mengapa orang berpendapat bahwa bisnis lebih cenderung membuat pelaku bisnis “mendekat” ke neraka?Apa yang terjadi dalam bisnis sehingga memunculkan penilaian sinis tersebut?" mungkin dengan melihat kenyataan yang terjadi di dalam dunia bisnis seperti banyak nya perusahaan yang bangkrut dan ada juga yang melakukan PHK besar besaran sehingga banyak orang yang kehilangan pekrjaan sehingga orang berpikir kalau bisnis itu saling menjatuhkan dan dari sudut pandang lain dinilai buruk oleh sebagian orang. namun bisnis tidak seperti itu bisnis yang baik bersaing dengan cara sehat dan yang tidak mampu bersaing akan kalah beginilah bisnis, anda yang memakan atau anda yang akan dimakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan erich dan sedikit menambahi bahwa "Cenderung membuat pelaku bisnis mendekat ke neraka". Yang lebih di tekankan disini ialah pelaku bisnis, dimana dia adalah seorang pembisnis yang akan melakukan apa pun, dan bagaimna pun, cara agar bisnisnya dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan. Meskipun cara yang ia lakukan berdampak buruk bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  9. Menurut saya, yang paling menarik adalah tentang eksploitasi atas pekerja. Karena memang hal ini adalah salah satu hal atau persoalan yang nyata dan masih di hadapi saat ini. Karena menurut saya dan artikel-artikel yang saya baca di internet, UMR saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan yang sudah di tuliskan di atas bahwa pekerja melakukan pekerjaannya melebihi standar yang di tetapkan. Maka dari itu pentingnya peran manajemen SDM dalam suatu perusahaan. Menurut saya, ketika perusahaan memperlakukan pekerjanya secara baik, maka hal itu akan berdampak kembali kepada perusahaan. Ketika pekerja dihargai maka pekerja akan semakin giat dalam bekerja. Namun terkadang pekerja yang sudah dihargai saja masih meminta lebih, apa lagi pekerja yang tidak dihargai sama sekali. Di hargai disini maksudnya adalah diperlakukan secara tidak tepat. Contohnya, seharusnya pekerja pulang kantor jam 4 sore, namun karena perusahaan tidak mau rugi dan ingin memanfaatkan pekerjanya semaksimal mungkin maka pekerja diminta untuk pulang kantor jam 6 sore. Benar seperti yang telah dikatakan, hal ini termasuk dalam eksploitasi pekerja. Dalam berbisnis pun kita harus menghargai pekerja, dimana perusahaan harus memandang secara sadar bahwa pekerja yang ada adalah aset perusahaan yang berharga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan saudara Vincent. Permasalahan mengenai UMR tidak dapat memenuhi kebutuhan adalah permasalahan klasik yang sudah sering terjadi, menurut saya sesungguhnya itu layak, karena angka dari UMR tersebut bukanlah angka yang tiba-tiba muncul menjadi upah dari seorang karyawan, namun telah dipertimbangkan dan dihitung oleh pemerintah, dan apabila sang karyawan tersebut dapat mengolah UMR dengan cerdas maka seharusnya itu cukup. Saya juga ingin menambahkan sebenarnya kepuasan bekerja bukan hanya dilihat dari gaji, melainkan ada faktor seperti kenyamanan kerja, dan pihak MSDM dapat membuat kontrak psikologis yang baik dengan karyawan.
      Terimakasih
      Viviane Sherly - etbis B

      Hapus
    2. Saya sependapat dengan pendapat saudara Vincent dan viviane. Pentingnya peran SDM dalam perusahaan sangat berdampak pada kinerja yang ada di perusahaan. Dalam melakukan kegiatan operational sehari-hari, karyawan memiliki kewajiban terhadap perusahaan. Begitu pula sebaliknya. Hak-hak yang diterima karyawan hendaknya sesuai dengan kontribusinya ke perusahaan. Oleh karena itu menurut saya seharunya karyawan yang berprestasi diberi haknya berupa bonus atau penghargaan yang membuat karyawan terpacu untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kinerjanya. Dengan begitu tercipta hubungan timbal balik yang baik antara perusahaan dengan karyawan.

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat saudara-saudari di atas. Menurut saya penuntutan gaji UMR itu sudah sangat layak untuk di terima oleh setiap karyawan yang bekerja, karena para karyawan telah bekerja sesuai yang di tuntut dengan harapan bisa menperoleh imbalan yang sepadan dengan yang telah dilakukannya.
      Misalnya saja saya ada contoh kasus yang di alami oleh kerabat saya sendiri, saat bekerja di suatu usaha garmen, dia dituntut agar setiap hari masuk tanpa ada hari libur, saat ada hari-hari besarpun dituntut untuk tetap masuk dan lembur, tetapi apa imbalan yang di berikan oleh perusahaan tersebut, jawabannya tidak ada. Bahkan gaji yang di terima pun sama sekali tidak sepadan dan jauh dari UMR. Menurut saya jika karyawan sudah memberikan yang terbaik seauai prosedur yang diinginkan perusahaan, maka karyawan juga harus diberikan imbalan yang sebanding. Karena jika karyawan sewaktu waktu bertindak yang tidak sewajarnya, maka hal tersebut wajar saja karena mereka hanya ingin menuntut apa yang seharusnya menjadi haknya, bahkan jika karyawan tiba-tiba mengundurkan diri hal tersebut wajar.
      Jadi jika perusahaan ingin karyawannya bekerja sesuai yang diinginkan dan sesuai prosedur, maka hargailah mereka dengan imbalan, fasilitas, lingkungan kerja, dll yang baik dan mendukung.
      Terima kasih.

      Hapus
  10. Setelah saya membaca pernyataan mengenai berbagai prinsip diatas, saya tertarik dengan prinsip “Menuju Organisasi Bisnis yang Lebih Manusiawi”. Seperti yang kita tahu bahwa di dalam sebuah perusahaan dan organisasi sangat diperlukan adanya komunikasi atau relasi dari atasan ke bawahan maupun sebaliknya. Manajer dalam suatu perusahaan merupakan akar yang menyalurkan suatu ide dan mengatur karyawannya. Selain itu gejolak yang sering muncul dalam relasi berorganisasi adalah perlakuan yang tidak adil baik oleh system maupun individu (rekan dan pimpinan) terhadap individu lain. Oleh karena itu pemimpin yang baik dan kompeten harus memperlakukan adil setiap karyawannya dan tidak membeda-bedakan antara karyawan satu dengan lainnya .dan seperti hal lainnya pemberian gaji yang sesuai dengan jabatannya. Sehingga hal ini nantinya dalam suatu organisasi akan menjadi organisasi yang lebih manusiawi dan pemimpin mampu memberdayakan karyawannya ke level kinerja yang lebih baik.
    -Festy Yolanda-KelasA-

    BalasHapus
  11. bagian yang menarik ketika saya membaca pernyataan diatas adalah pada bagian tanggapan atau pernyataan dari Dosen Manajmene UGM,dimana beliau ingin menggugurkan prinsip scarcity.beliau mengusulkan agar "competition" diganti dengan "complementation" ,dimana para pebisnis akan saling melengkapi agar dapat memenuhi kebutuhan akan sumber daya alternatif yang tidak terbatas. karena dengan hal tersebut,persaingan dalam bisnis dapat tereduksi,khususnya perihal persaingan bisnis yang tidak sehat.namun menurut pendapat saya, kegiatan "complementation" mungkin cukup susah untuk dijalankan atau dilaksanakan,mengingat adanya kemungkinan suatu perusahaan yang tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan lain,dengan alasan repot dengan urusan pembagian tugas kerja,laba,atau bahkan ingin menguasai sendiri sumber daya serta pangsa pasar yang ada,hal ini lumrah terjadi mengingat adanya sifat alamiah manusia,yaitu tidak pernah puas akan sesuatu,manusia akan selalu berusaha mendapatkan lebih dan lebih.nah,mungkin dengan adanya kegiatan "melengkapi" ini,perusahaan tersebut merasa keuntungan yang didapat akan lebih sedikit daripada ketika perusahaan tersebut berjalan sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf, saya kurang setuju dengan argument yang saudara berikan, karena menurut saya kurang relevan. Sesungguhnya keadaan suatu industry dalam suatu negara tidak dapat hanya dikatakan competition maupun complementation saja, melainkan keudanya sudah digunakan.

       

      Dalam suatu industry untuk menguasai pasar digunakan teknik yang dikatakan monopoli, tetapi beberapa perusahaan lain yang terganggu dapat bergabung dan melakukan yang disebut kolusi, kolusi pun dapat secara formal dan informal, dimana intinya adalah membuat perusahaan tersebut dapat bertahan dan memungkinkan menambah jumlah konsumenya.

      Jika perusahaan tersebut tidak dapat atau bahkan tidak mau bergabung maka akan menjadi kerugian yang sangat besar yang akan dialami perusahaan tersebut, dikarenakan dalam sebuah kolusi pasti terjadi kesepakatan dan menyebabkan aturan sehingga tidak ada yang dirugikan. Terima kasih.

       

      Ian Eka Widjaja / Etika Bisnis / Kelas B

      Hapus
  12. Bagian yang menarik menurut saya adalah mengenai pernyataan "Menurut Locke (dalam Riyanto, 2013: 121) perbudakan berhenti ketika kerja manusia memungkinkan hidupnya semakin baik.Ketika ada anggota organisasi yang menganggap bahwa gaji tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya tetapi organisasi tidak melakukan perbaikan system (padahal dia mampu) bahkan balik meminta si anggota untuk meninggalkan saja organisasi tersebut jika merasa tidak cocok". Di masa kini untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak bagi orang yang pendidikannya rendah sangat susah. hal tersebut yang dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan untuk menekan gaji, sehingga gaji yang diberikan tidak mencukupi bagi kebutuhan pekerja. Mau tidak mau pekerja harus mau mengikuti hal tersebut jika mereka tidak bisa mengikuti ya mereka bisa keluar dari perusahaan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf saya kurang setuju dengan argument yang saudara berikan. Dalam konteks ini dikatakan bahwa perbudakan berhenti, ketika hidup seseorang jadi lebih baik. Bagi saya perbudakan tidak hanya selalu mengarah kepada pendidikan saja.

       

      Pendidikan akan mempengaruhi jenjang karir dan tidak akan mempengaruhi gaji, dikarenakan dari pemerintah sudah menetapkan UMR yang ditinjau dari beberapa kalangan dan disesuaikan dengan kondisi suatu daerah.

       

      Dalam hal ini dikatakan juga bahwa sesungguhnya perusahaan mampu tetapi tidak melakukan yang seharusnya. Maka dengan tidak langsung apapun itu perusahaan tetap salah, bukan pendidikan yang harusnya dipermasalahkan, tetapi etika dari perusahaan tersebut.

       

      Jika saya boleh memberik masukan, perbudakan dapat bermakna luas dan tidak hanya pendidikan. Bisa saja karena ras, suku, agama, budaya dan beberapa aspek lainnya yang secara tidak langsung membuat perbudakan itu terjadi. Apakah jika terjadi demikian ras, suku, agama dan lainya yang harus disalahkan karena menyebabkan perbudakan? Jawabanya tentu bukan, semuanya tergantung dari mindset dan  juga kemauan dari perusahaan atau pimpinannya. Terima kasih.

       

      Ian Eka Widjaja / Etika Bisnis / Kelas B

      Hapus
  13. bagian yang menarik menurut saya ada pada ekploitasi pekerja dimana saat inipun masih banyak perusahaan yang melakukan ekploitasi dengan sengaja atau pun tidak . ekploitasi tidak hanya mengenai umur sang pekerja sudah layak atau tidak, melainkan juga jam kerja yang berlebihan ataupun jam istirahat yang tidak di pertimbangkan.Perusahaan yang terkadang hanya memikirkan meminimkan biaya dan melakukan segala hal . Padahal sudah ada UUD yang mengatur eksploitasi namun masih saja ada yang melanggar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat Patricia, bahwa masih banyak permasalahan yang berhubungan dengan eksploitasi kerja. yang ingin saya tanyakan kepada saudari Patricia, menurut saudari cara atau jalan keluar apa yang perlu dilakukan di negara kita agar dapat meminimalisir atau menghilangkan permasalahan eksploitasi kerja ini, dimana UUD tentang hal tersebut sudah ada, dan semua org tentunya tahu hal tersebut sewajarnya tidak perlu dilakukan. terima kasih

      Hapus
  14. menurut saya, bagian yang menarik adalah mengubah competition menjadi complementation. karena dengan saling melengkapi ini, maka para pebisnis dapat memperoleh berbagai alternatif sumber daya yang tidak terbatas, dan dapat mengurangi terjadinya persaingan, terutama persaingan yang tidak sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan strategi complementation ini, tetapi menurut saudari cindy apakah strategi complementation ini dapat diterapkan di dunia bisnis yang modern saat ini?

      Hapus
    2. Mohon maaf, saya kurang setuju dengan pendapat anda, menurut saya mengubah competition menjadi complementation di dunia modern ini merupakan hal yang sangat sulit diterapkan. Karena di dunia modern ini kebutuhan orang sangat beragam, sehingga mereka selalu mengurus kesibukkan masing-masing. Hal inilah yang menurut saya merupakan salah satu faktor yang dapat menghalangi orang untuk saling melengkapi. Dan juga tambahan dari saya, melengkapi bukan tentang sumber daya saja, tetapi bisa dalam berbagai bentuk. Terima Kasih.
      Yuan H Lie Kelas B

      Hapus
  15. menurut saya yang menarik adalah bagian dimana kita harus saling menjatuhkan saingan... dsini kita bisa melihat betapa jahatnya seseorang jika Sudah berhadapan dengan yang namanya uang. bahkan tidak jarang seseorang tega melakukan tindakan criminal demi menjatuhkan lawannya. kebanyakan bisnis yang Sudah maju tidak lagi binging untuk mengembangkan usahanya, tetapi justru mereka memutar otak untuk bisa menyingkirkan saingannya. hal inilah yang membuat saya tertarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat saudara ivan di mana bisnis atau perusahaan yang sudah maju ia tetap memikirkan bagaimana caranya untuk berinovasi lebih tepatnya agar pesain dari dia bisa terkalahkan, lebih tepatnya menjatuhkan pesaingnya. Hal ini membuat saya tertarik

      Hapus
    2. Dengan keadaan yang demikian tidak heran banyak sekali pendapat yang menyatakan bahwa dunia bisnis itu kejam, banyak persaingan yang terjadi dan dilakukan juga dengan cara cara yang kejam dan tidak sehat yang merugikan banyak pihak juga. Pencegahan yang mendasar yang dapat dilakukan adalah mengubah pola pikir dan menciptakan kesadaran di benak para pebisnis itu sendiri, dimana bisnis harus bisa dijalankan dengan cara dan strategi yang sehat serta manusiawi

      Hapus
  16. persaingan bisnis yang kejam ada alah bagian yang menarik menurut saya , dunia bisnis adalah ekosistem yang kejam. Dan sebagian orang merasa merasa perlu menggunakan kelicikan sebagai alat untuk berhasil seperti halnya prinsip-prinsip yang digunakan Niccolo Machiavelli dalam dunia politik dan kekuasaan.. contoh dalam Diceritakan bahwa di tahun 1975 Jobs pernah bekerjasama dengan Steve Wozniak dalam mengerjakan game Breakout dengan bayaran dari Atari. Wozniak memilih jalan yang lurus dengan mengerjakannya 4 malam berutur-turut tanpa istirahat, sementara Jobs menempuh cara lain yang lebih ‘cerdas’. Ia tak bekerja sekeras Wozniak dan ia mengantongi bonus dari Atari karena dianggap telah berhasil mengerjakan sebuah desain yang efisien.

    BalasHapus
  17. Saya tertarik dengan Menuju Organisasi Bisnis yang Lebih Manusiawi. Karena dengan melakukan keadilan dapat berkaitan dengan kepentingan diri sendiri dan umum sehingga tidak merugikan pada pihak siapa pun. Menerapkan keadilan dapat menciptakan semua bisnis yang lebih terarah pada damai dan manusiawi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang benar argument saudara mengenai keadilan yang damat mensejahterakan dan dapat memanusiawikan, tetapi keadilan sendiri bermakna sangat banyak dan dapat dikatakan dalam pembahasan sebelumnya keadilan belum tentu fair dan fair yang belum tentu adil. Apakah keadilan yang belum tentu fair ini yang dimaksudkan? Apakah dapat diberikan contoh konkretnya? Atau keadilan dengan berbagai jenis lainya, seperti keadilan distribusi, keadilan liberalsm dan bagaimana aplikasinya? Terima kasih.

       

      Ian Eka Widjaja / Etika Bisnis / Kelas B

      Hapus
  18. menurut saya yang cukup menarik untuk dikomentari adalah bacaan mengenai eksploitasi atas pekerja karena menurut saya tidak semua perusahaan "memperbudak karyawan" karena masing-masing perusahaan mempunyai pertimbangan khusus mengenai penetapan gaji bagi karyawan lain halnya jika perusahaan tersebut mampu untuk membayar tetapi tidak memenuhi syarat minimum gaji. kita ambil contoh UMKM yang kurang lebih mempunyai karyawan 10 orang tetapi tidak memenuhi gaji sesuai syarat minimum karena selain biaya yang tinggi memang UMKM tersebut kurang mampu tetapi UMKM tersebut sudah berusaha memberikan fasilitas-fasilitas tambahan kepada karyawan agar mereka tidak merasa dirugikan

    BalasHapus
  19. Menurut saya bagian yang menarik adalah bagian "Saling Menjatuhkan dalam Organisasi". Saya setuju dengan pernyataan yang ada di dalamnya yaitu pernyataan bahwa semua rekan kerja dapat saja menjadi “musuh dalam selimut”. Hal ini sangat mungkin terjadi di setiap perusahaan mengingat kita tidak pernah mengerti secara detail tentang hati dan kepribadian dari masing-masing orang. Sewaktu-waktu orang dapat menikam kita dari belakang, atau terkadang selalu memata-matai kinerja seseorang dan melaporkan ke atasan ketika ada hal yang tidak beres.

    BalasHapus
  20. Saya setuju jika dalam berbisnis kita harus lebih manusiawi karena sebuah perusahaan itu jika ingin berhasil kita harus lebih mengedepankan kesejahteraan karyawannya.,karena karyawan merupakan bagian penting dari perusahaan.

    BalasHapus
  21. Menurut saya bagian yg menarik adalah menuju organisasi bisnis yg lbh manusiawi. Dimana upaya mendasar untuk membuat organisasi bisnis menjadi lebih manusiawi adalah dengan mengupayakan keadilan dlm organisasi tersebut. Karena keadilan itu penting dalam konteks ekonomi dan bisnis. Sehingga keadilan lah yg membuat kita menjadi manusiawi satu dengan lainnya. Dan hal ini membuat organisasi lain yg melihatnya juga pasti akan memberikan nilai yg lebih/ memiliki sudut pandang yg baik bagi organisasi yg menerapkan keadilan tersebut di organisasinya.

    BalasHapus
  22. Menurut saya bagian yang menarik adalah Gap kompensasi yang terlalu tinggi antar posisi yang ada dalam organisasi juga berdampak pada upaya “saling jegal” untuk memperebutkan posisi yang lebih “basah”. Didalam organisasi pasti setiap orang ingin naik jabatan, di banyak organisasi banyak yang saling jegal agar mendapatkan posisi yang diinginkan. Saling jegal disini menguntungkan diri sendiri dan merugikan pihak lain, sehingga bisa menimbulkan rasa benci didalam organisasi tersebut.

    BalasHapus
  23. menurut saya konsep yang menarik adalah menuju organisasi bisnis yang lebih manusiawai yaitu Upaya mendasar untuk membuat organisasi bisnis menjadi lebih manusiawi adalah dengan mengupayakan keadilan dalam organisasi tersebut. Keadilan itu penting dalam konteks ekonomi dan bisnis karena keadilan tidak pernah sebatas perasaan atau sikap batin saja tapi menyangkut kepentingan atau barang yang dimiliki atau dituntut oleh berbagai pihak. Apalagi, adil merupakan satu kodrat perbuatan manusia yang menunjukkan keterarahan pada orang lain. Dengan demikian, adil merupakan keutamaan seseorang yang tertuju kepada orang lain. sehingga bisnis dapat dipandang lebih manusiawi.

    BalasHapus
  24. Menurut saya secara pribadi, konsep yg menarik adalah "Saling Menjatuhkan dalam Organisasi". Memang sudah banyak diketahui bahwa dalam sebuah organisasi/perusahaan, setiap para anggotanya/setiap para karyawannya pasti berlomba-lomba untuk menjadi yg terbaik diantara semua anggota/karyawan yg ada. Menjadi yg terbaik pasti membanggakan diri kita sendiri karena dengan begitu telah membuktikan bahwa diri kita lebih unggul dari yg lainnya.
    Namun yg jd permasalahan disini, orang (baik anggota/karyawan) yg ingin menjadi terbaik tidak semuanya menggunakan proses/cara yg positif (curang/buruk). Keinginannya yg sudah teramat besar untuk menjadi yg terbaik justru bisa membuat dia salah langkah/berperilaku yg tidak patut.
    Solusi yg mungkin bisa saya anjurkan untuk mengurangi kecurangan (menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan) :
    1. Memperketat pengawasan dalam lingkungan organisasi/perusahaan, dengan begitu atasan dapat melihat bagaimana proses orang tersebut dalam berusaha untuk menjadi yg terbaik.
    2. Menerapkan sikap kejujuran dan kesportifitasan-nya , karena bagi saya orang yg jujur itu akan dihargai oleh sekitarnya ; dan dengan adanya kesportifitasan, orang tersebut akan dinilai berlapang dada dalam menerima segala hasil yg ada meskipun hasil tersebut tidak sesuai dengan yg dia harapkan.

    BalasHapus
  25. Dari cerita diatas, yang menarik bagi saya adalah "saling menjatuhkan dalam organisasi" memang itu adalah hal yang tidak baik dalam suatu organisasi, karena mungkin adanya "iming-iming" reward semisal saja pemenuhan target akan diberi komisi menyebabkan para karyawan akna berebut target tersebut yang bisa saja "membunuh" rekan kerja nya yang lain. Untuk itu sebaiknya dilakukan saja hal yang baik.

    BalasHapus
  26. Menurut saya konsep yang menarik adalah "mengubah competition menjadi complementation". Dalam hal ini para pebisnis dapat saling melengkapi satu sama lain dalam hal biaya, peningkatan pengetahuan dan akses ke teknologi baru. Dengan begitu para pebisnis akan mendapatkan berbagai alternatif sumber daya yang tidak terbatas.

    BalasHapus
  27. Menurut saya bagian yang menarik adalah persaingan kejam dalam bisnis. Dalam hal ini tidak semua perusahaan / organisasi dapat bersaing secara sehat. Bahkan mereka dapat melakukan segala macam cara agar bisnisnya jauh lebih baik dari pesaingnya, sehingga sekarang ini banyak perusahaan / organisasi yang menjatuhkan pesaingnya yang bisnisnya bergerak di bidang yang sama demi mendapatkan keuntungan dan dianggap perusahaan yang lebih baik dan bagus dari pesaingnya.
    Di bagian ini juga dijelaskan mengenai persaingan tidak sehat ini bisa di cegah dengan adanya kesadaran para pebisnis. Menurut saya, dengan adanya kesadaran dari para pebisnis, maka tidak ada yang perlu ditakutkan meskipun adanya pesaingnya. Justru dengan adanya kesadaran dari para pebisnis, maka ketika ada pesaingnya. Maka dapat dijadikan acuan untuk menjadi yang lebih baik. Mengenai usulan yang “competition” diganti dengan “complementation”, menurut saya itu bagus. Karena dengan saling melengkapi, maka para pebisnis akan mendapatkan berbagai alternatif sumber daya yang tidak terbatas. Namun untuk menerapkan usulan tersebut, belum semua perusahaan / organisasi dapat melakukan usulan itu.

    BalasHapus
  28. Setelah membaca artikel di atas, hal yang membuat saya tertarik ialah pada bagian "saling menjatuhkan dalam organisasi" .Hal ini menarik karena tanpa disadari di dunia yang sekarang ini bukan hanya di dalam organisasi saja, namun juga di kehidupan sehari-hari hubungan antar manusia yang terjalin hanya bersifat transaksional (hanya memanfaatkan orang lain) seperti yang tertera pada artikel di atas. Kebanyakan orang menggunakan topeng dalam melakukan interaksi dengan sesamanya, sehingga sangat sulit untuk melakukan interaksi dengan sesama namun tanpa kecurigaan. Menurut saya perilaku sekarang ini akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia karena akan memacu manusia untuk melakukan tindakan2 yang keji demi mencapai tujuannya masing2. Manusia semakin kehilangan martabatnya sebagai manusia dan mengarah pada prinsip siapa yang kuat dia yang bertahan seperti hukum alam yang kita tahu bahwa prinsip tersebut memiliki keidentikan dengan hewan yang tidak memiliki akal budi seperti manusia. Bila saya membahas dalam konteks organisasi yang orang2nya memiliki perilaku seperti ini, keberlangsungan dari organisasi tersebut juga akan cepat untuk kandas, karena kondisi organisasi yang tidak sehat. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh pemimpin organisasi, ialah dengan menciptakan susana yang guyub dengan mengadakan acara2 pemerekatan antar anggota organisasi, tidak menciptakan kesenjangan kompensasi yang begitu jauh agar tidak menimbulkan kompentisi yang buruk dengan memberikan perjanjian dia awal bahwa segala bentuk kompensasi yang diberikan itu berbanding lurus dengan kontribusi anggota organisasi terhadap kemajuan organisasi. Dengan begitu menurut saya dapat terjalin interaksi yang sehat antar anggota organisasi.

    BalasHapus
  29. Menurut saya, bagian tulisan yang menarik adalah pada bagian persaingan kejam dalam bisnis, karena banyak seperti yang kita tahu sekarang masih banyak perusahaan yang ingin menguasai pasar dan menjatuhkan pesaingnya dengan cara apapun yang tidak sehat dan menimbulkan kerugian bagi orang lain. Namun hal itu bisa diatasi/dihindari dengan cara membentuk kesadaran dari pebisnis itu sendiri dan menyadari potensi yang dimiliki masing-masing perusahaan untuk memaksimalkan bisnis yang sehat, dan selalu melakukan inovasi untuk bisa bersaing dengan kompetitor lainnya. Sehingga bisnis yang yang dijalankan menjadi langgeng dan menjadi berbeda dengan kompetitornya.

    BalasHapus
  30. Menurut saya yang paling menarik adalah " Persaingan antar organisasi", yang mana menyebabkan upaya saling jegal untuk memperebutkan sebuah posisi yg lebih basah. Dalam hal ini sangat berkaitan dengan yang dikatakan pada awal artikel bahwa " bisnis lebih mendekatkan seseorang ke neraka " pada kondisi seperti ini sering kali muncul para oportunis dan "penjilat" yang membuat sikap paling percaya bergerak ke titik saling curiga , dan juga munculah sikaps saling memanfaatkan. Ada ketakutan dari saya bahwa nantinya manusia manusia tidak lagi memiliki rasa saling percaya atau malah saling curiga serta tidak lagi memiliki keharmonisan dalam kehidupan bisnis atau kehidupan biasa lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan thernadi ,yang persaigan antara organisasi dimana antar organisasi saling bersaing untuk menjadi yang terbaik tapi kebanyakan mengunakan cara yang tidak baik,saya ingin bertanya sikap saling memanfaatkan yang bagimana ? Dan bagaimana cara untuk menghilangkan rasa saling curiga dan rasa tidak percaya,sehingga keharmonisan bisa tetap terjaga
      Petrus D febryan lay /B/etika bisnis

      Hapus
  31. Bagian yang menarik menurut saya adalah persaingan kejam dalam bisnis. Didalam tulisan itu terdapat kalimat bahwa, "sumber daya itu tidak terbatas, persoalannya hanya terletak pada ketidakmampuan dan keengganan dalam menemukan alternative sumber daya yang dianggap terbatas tersebut." Banyak perusahaan bisnis yang hanya berorientasi pada mendapatkan dan mempertahankan sebisa mungkin sumber daya yang telah didapat. Mereka tidak memperdulikan akibat dari tindakan tersebut melainkan hnya berpikir bagaimana perusahaan itu akan tetap berjalan dengan sumber daya yang ada. Menerut saya, di zaman yg sudah berkembang ini sebaiknya perusahaan mulai membuka pemikiran baru mengenai usaha dan upaya untuk membuat/menemukan alternatif sumber daya lain. Agar bisnis tidak lagi sekedar kompetisi untuk mencapai tujuan perusahaan melainkan bisnis yang saling melengkapi satu sama lain sehingga kompetisi yang tidak sehat akan sedikit demi sedikit berkurang.‎

    BalasHapus
  32. Menurut saya topik yang menarik dari bacaan diatas adalah topik "menuju organisasi yang lebih manusiawi" karena seperti yang biasanya saya ketahui di negara kita ini perusahaan atau bisnis masih banyak yang belum memerhatikan kesejahteraan karyawan. masih banyak yang membuka bisnis hanya bertujuan mencari keuntungan semata dan tidak terlalu memerhatikan karyawan sehingga ketidakadilan dalam sebuah bisnis/ perusahaan masih banyak terjadi.
    maka dari itu ketika seorang pengusaha akan mulai bisnis sebaiknya memerhatikan segala aspek yang lebih manusiawi terutama perlakuan terhadap individu yang ada didalam perusahaan tersebut agar etika berbisnis bisa terpenuhi/ tercapai dalam usaha tersebut.

    BalasHapus
  33. Menurut saya bagian yang menarik adalah mengubah competition menjadi complementation. Karena para pebisnis bisa melengkapi satu sama lain khususnya dlaam hal biaya, akses ke teknologi baru dll. Dan membuat para pebisnis mendapatkan alternatif sumber daya yang banyak.

    BalasHapus
  34. Bagian yg menarik bagi saya adalah "Persoalan ketidakadilan antar individu sering dipicu oleh ketidakmampuan pimpinan dalam mengelola organisasi".
    Dari sini kita dapat melihat bahwa sebuah organisasi akan berjalan dgn baik jika memiliki pemimpin yg bijaksana dan adil terhadap semua anggota organisasi.
    Namun, saat ini banyak sekali pemimpin yang tidak dapat mengayomi anggota-anggota organisasinya sehingga muncullah ketidakadilan karena pemimpin hanya mendengar suara dari pihak para penjilat yang selalu mendekati pemimpin.
    Padahal menjadi pemimpin seharusnya dapat mengayomi anggota-anggotanya dan mengerti anggotanya dengan baik.
    Menjadi pemimpin tidak hanya dibutuhkan otak dan keterampilan yang cemerlang, tetapi juga dibutuhkan kepedulian dan kebijaksanaan.

    BalasHapus
  35. Bagian yg menarik bagi saya adalah untuk bisa menerapkan monopoli, suatu organisasi harus “mematikan” organisasi lain yang bergerak di bidang yang sama. Hal itu dilakukan secara halus antara lain dengan menerapkan strategi “predatory price” yang mana perusahaan yang memilliki modal besar menjual produknya di bawah harga pokok produksi (jual rugi) sehingga pesaingnya yang memiliki modal lebih sedikit tidak akan sanggup “meladeninya”. Ketika pesaing telah gulung tikar, organisasi tersebut dapat dengan seenaknya menentukan harga karena dia satu-satunya pemain di bidang itu. Nah dari strategy tersebut telah banyak dipakai oleh perusahaan perusahaan besar di Indonesia contohnya Mie Instant.

    BalasHapus