SELAMAT DATANG

Blog ini dibuat terutama sebagai sarana diskusi para mahasiswa. Terima kasih atas pengertiannya.....
Postingan tentang BAHASA TOMBULU telah disatukan pada blog: bahasatombulu.blogspot.com
Tugas wawancara pebisnis dipostingkan pada blog: kuraberbisnis.blogspot.com

Senin, 10 November 2014

Gaya Menghadapi Konflik (Bahan Diskusi Perilaku Keorganisasian Tanggal 12 November 2014)



Bahan Bacaan: Conerly, Keith & Arvind Tripathi. 2004. What is Your Conflict Style: Understanding and dealing with your conflict style The Journal for Quality and Participation. 27(2): 16-20


Setiap organisasi tidak dapat menghindari terjadinya konflik di dalamnya. Conerly & Tripathi (2004) mengemukakan bahwa setiap orang memiliki gaya sendiri dalam menghadapi konflik yang terjadi dalam organisasi. Ada lima gaya yang biasanya digunakan, yaitu:

  1. Withdrawiing : menghindari konflik yang ada, menganggap bahwa lebih mudah menghindari konflik daripada menghadapinya.
  2. Forcing: menganggap bahwa konflik umumnya hanya persoalan menang-kalah dan kemenangan akan memberikan kebanggaan dan prestasi
  3. Smoothing: menganggap bahwa konflik harus dihindari demi keharmonisan, kuatir dalam berupaya menangani konflik lalu mengganggu hubungan dengan yang lain
  4. Confronting: melihat konflik sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dan sekaligus cara untuk memperbaiki hubungan yang ada
  5. Compromizing: berupaya menyelesaikan konflik tapi tidak mencari kesempurnaan dalam penyelesaian karena tetap berupaya untuk menjaga agar hubungan tetap terjalin

Bahan Diskusi:


  1. Menurut Saudara, manakah gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi? Jelaskan mengapa demikian.
  2. Apakah gaya tersebut sudah cocok dengan yang biasanya Saudara lakukan ketika berhadapan dengan konflik sehari-hari. Berilah contoh dari pengalaman Saudara.

30 komentar:

  1. menurut pendpata saya untuk dapat menghadapi konflik dalam suatu organisasi yang pasti baik untuk dilakukan adalah menyelesaikan konflik tersebut maka dari itu gaya menghadapi konflik confornting dan comprimizing yang pasti akan dianjurkan untuk dapat menuntaskan konflik tersebut. Tetapi saya lebih memilih untuk menggunakan gaya compromising karena untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan membuat kedua piha setuju dengan suatu gagasan yang baik untuk menyelesaikan konflik maka dari itu dapat memperbaiki hubungan antara pihak tersebut.
    Gaya yang disebutkan untuk mengatasi adanya konflik kurang bisa saya terapkan di konflik sehari-hari, ternyata apa yang terjadi gaya pengelesaian seperti withdrawing dan forcing banyak saya lakukan terhadap kehidupan sehari-hari. Sebab bila bertemu konflik yang biasanya dengan teman baik dan konflik sebagai pihak ketiga akan condong ke withdrawing, tetapi bila mana konflik yang lain seperti berkomentar gaya menghadapi konflik forcing biasanya dipakai untuk mendapatkan prestasi untuk memenangkan konflik tersebut.

    BalasHapus
  2. Confronting. Melalui cara itu, kita dapat mengetahui akar permasalahan yang ada, kemudian mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Cara yang dipilih haruslah win-win solution agar tidak merugikan salah satu pihak.
    Dalam dunia organisasi BEM yang saya geluti, kami menggunakan cara confronting. Kami biasanya mengadakan pertemuan pengurus setiap 3 bulan sekali untuk mengevaluasi kinerja program kami, juga untuk menyelesaikan masalah relasi yang terjadi antar pengurus. Melalui pertemuan itu, kami menyampaikan seluruh beban dan keluhan kami, dan dari situlah jalan keluar dapat ditemukan.

    BalasHapus
  3. menurut pendapat saya, gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi adalah Confronting yaitu dengan melihat konflik sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dan sekaligus cara untuk memperbaiki hubungan yang ada. dengan begitu maka konflik yang dihadapi bisa terselesaikan serta hubungan antara satu pihak dengan pihak lain tidak renggang. contohnya, ketika kerja kelompok terjadi perbedaan pendapat yang menimbulkan perdebatan antara anggota kelompok, maka hal tersebut harus diselesaikan secara baik-baik dan tidak saling menyalahkan.

    BalasHapus
  4. Comprimizing , karena dengan menggunakan gaya ini akan mengurangi tingkat kesenjangan jabatan dalam memecahkan masalah di dalam organisasi.Gaya ini mengutamakan demokratis sehingga akan memberikan perpaduan yang seimbang antara kepentingan sendiri dengan orang lain.Selain itu dengan prosesnya yang demokratis mengakibatkan tidak terjadinya kekalahan di satu pihak (adil bagi kedua-duanya).
    Dalam permasalahan sehari-hari gaya ini tidak pernah saya gunakan,saya lebih cenderung ke gaya withdrawling , karena saya cenderung menghindari konflik dengan orang.Pengalaman pribadi saya ketika mengerjakan tugas berkelompok , ketika terjadi konflik mengenai tugas dan bagian yang harus dikerjakan anggota kelompok saya lebih memilih mengerjakan tugas yang sulit atau tugas yang jadi masalah konflik untuk menghindari konflik yang berlebihan.

    BalasHapus
  5. menurut saya confronting karena masalah yang ada harus clear ataupun selesai sebab jika masalah tersebut tidak selesai maka bisa saja berdampak panjang bahkan meluas terhadap kinerja dalam organisasinya.

    dalam permasalahan sehari - hari saya lebih fleksible sebab biasanya menggunakan cara confronting hanya di lingkungan formal saja tetapi jika hal tersebut terjadi di lingkungan in-formal maka saya akan lebih cenderung mengikuti cara penyelesaian masalah yang di berikan oleh pihak yang bersangkutan.

    BalasHapus
  6. 1. Menurut saya gaya yang paling tepat adalah Compromizing karena saya lebih mengutamakan terjalinnya suatu hubungan dalam suatu konflik sehingga tidak terjadi crash (bentrok/masalah) / terdapat gap (celah) dalam hubungan. Ketidaksempurnaan dalam penyelesaian tidak menjadi masalah asalkan memberi timbal balik yang setimpal/adil dalam suatu hubungan baik hubungan individu, kelompok/organisasi, perusahaan dll sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan
    2. Menurut saya cocok tidaknya gaya tersebut tergantung dari konflik yang dihadapi, misalkan saja konflik dalam kerja kelompok, mungkin ada anggota yg free-rider, maka anggota ini bisa dibujuk untuk bisa memberi kontribusi dalam kelompok karena seperti yang sudah dijelaskan bahwa compromizing lebih mementingkan hubungan, tetapi bila cara yang pertama tadi tidak mempan maka konsekuensinya adalah anggota tersebut dikurangi atau tidak diberi nilai dengan tidak mempedulikan resiko hubungan yang renggang dengan anggota yang free-rider tersebut tetapi juga harus mencari cara dalam memperbaiki hubungan dengan anggota tersebut bila sudah terlanjur renggang

    BalasHapus
  7. 1. menurut saya, gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi ialah compromizing, karena itu bisa mengutamakan terjalinnya suatu hubungan dalam konflik sehingga tidak akan terjadi bentrok/masalah dan terdapat gap yaitu (celah) dalam suatu hubungan. dan gaya mengutamakan demokratis karena akan memberikan perpaduan yang seimbang antara kepentingan sendiri dengan orang lain. Ketidak- sempurna dalam suatu penyelesaian tidak akan menjadi masalah asal ada yang akan memberi timbal balik yang setimpal dan juga adil dalam suatu hubungan baik hubungan individu, kelompok/organisasi. sehingga perusahaan tidak akan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
    2. menurut saya gaya ocok tidaknya gaya tersebut tergantung dari konflik yang dihadapi, misalkan saja konflik dalam kerja kelompok, karena saya cenderung menghindari konflik dengan orang yaitu free-rider. pada saat saya mulai bekerja tugas pengalaman yang tidak pernah kulupakan adalah memberi konsekuensi dengan cara anggota tersebut dikurangi atau tidak diberi nilai dengan tidak mempedulikan resiko hubungan yang renggang dengan anggota yang free-rider tersebut.

    BalasHapus
  8. 1. menurut saya, gaya yang paling tepat dalam menghadapi suatu konflik dalam organisasi adalah Confronting karena dapat memecahkan masalah yang ada harus clear ataupun selesai sebab jika masalah tersebut tidak selesai maka bisa saja berdampak panjang, karena itu bisa berakibat fatal terhhadap kinerja yang ada diperusahaan. dengan begitu maka dampak konflik yang biasanya dihadapi bisa tidak dapat terselesaikan serta hubungan antara satu pihak dengan pihak lain tidak akan renggang.
    2.Dalam sehari-hari gaya sangat cocok dan juga lebih fleksible sebab biasanya dengan menggunakan cara ini yaitu confronting hanya juga terdapat di lingkungan formal saja tetapi jika hal tersebut terjadi di lingkungan informal maka akan cenderung bisa dapat diselesaikan oleh orang yang bersangkutan. contohnya ketika kerja kelompok tidak akan terjadi bila perbedaan dan pendapat yang bisa dapat menimbulkan perdebatan antara anggota kelompok.

    BalasHapus
  9. Menurut saya cara yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi yaitu menyelesaikan masalah sebaik mungkin dengan menggunakan confronting supaya kita dapat menyelesaikan permasalahannya sampai ke akar permasalahannya sebaik mungkin dan mencari jalan keluar yang terbaik dari permasalahan tersebut dan dalam kehidupan sehari-hari saya cenderung menggunakan confronting hanya dalam persoalan atau hanya untuk masalah-masalah yang besar atau masalah yang rumit saja dan apa bila menghadapi masalah yang tidak formal saya hanya menyelesaikan dan membicarakan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

    BalasHapus
  10. Menurut pendapat saya gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi adalah gaya confronting. Dengan diterapkannya gaya tersebut maka masalah atau konflik yang ada akan lebih cepat bahkan dapat selesai pada saat itu juga tanpa menimbulkan perasaan yang negating atau buruk antar pegawai yang bersangkutan dalam konflik tersebut. Dengan begitu hubungan antar pegawai bisa terjalin dengan harmonis tanpa adanya perasaan yang buruk dan jelek. Jika kita menerapkan gaya withdrawing, maka masalah atau konflik yang ada akan terus berlanjut dan akan mengakibatkan hubungan antar pegawai tidak harmonis karena bisa saja salah satu pegawai yang berkonflik dapat memiliki perasaan atau perilaku yang jelek (ingin menhancurkan) kepada pegawai lain yang memiliki konflik dengan pegawai tadi.

    Gaya tersebut sudah saya terapkan dalam sehari-hari seperti pada saat kerja kelompok. Pada kerja kelompok berlangsung banyak sekali pendapat-pendapat yang bebeda sehingga dapat menimbulkan suatu perdebatan kemudian timbul juga rasa marah karena pendapatnya tidak diterima. Dengan terjadinya konflik yang seperti itu, maka pada saat itu juga harus diselesaikan agar rasa marah tersebut tidak berkelanjutan karena akan dapat mempengaruhi kerja kelompok untuk tugas berikutnya seperti kita menjelaskan alas an kenapa pendapat dai tidak di terima atau dipakai.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  11. menurut saya gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi adalah gaya confronting, karena dengan menggunakan gaya tersebut saya tidak akan menunda-nunda untuk menyelesaikan sebuah konflik yang ada. konflik yang dibiarkan terjadi secara terus-menerus akan menyebabkan suatu organisasi menjadi tidak berkembang dan stagnan. konflik tersebut juga membuat para anggotanya merasa tidak nyaman. maka dari itu konflik yang ada harus segera diselesaikan agar tidak mengganggu perkembangan organisasi ke depannya.
    gaya confronting sudah sesuai dengan yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak pernah membiarkan konflik dibiarkan begitu saja. contohnya, pada saat memilih universitas yang akan saya masuki setelah lulus sma, banyak masalah dan perbedaan yang terjadi antara saya dan orang tua saya. namun, dengan mengumpulkan semua pendapat dan mencari jalan keluar terbaik, saya pun dapat memilih universitas yang sesuai dengan keinginan saya dan orang tua tanpa adanya rasa tidak nyaman dan menunda-nunda konflik yang ada.

    BalasHapus
  12. 1. Menurut saya, gaya yang tepat digunakan dalam menyelesaikan konflik dalam organisasi adalah Confronting. Alangkah baiknya apabila masalah yang timbul bukan dihindari, tetapi harus diselesaikan agar masalah tidak bertambah besar dan tidak terjadi kesalahpahaman antar anggota organisasi. Menyelesaikan masalah organisasi bersama sama juga dapat melancarkan komunikasi antar anggota organisasi dan membuat angota organisasi bersikap terbuka satu sama lain sehingga mereka dan bekerja dengan baik kedepannya.
    2. Gaya confronting ini cocok dengan saya dan sudah sering saya lakukan. Contohnya, saat saya bergabung dalam salah satu organisasi dalam fakultas. Kami sering mengadakan rapat setiap minggunya dan membicarakan mengenai masalah yang ada, serta berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut. Semua masalah kami bicarakan dengan baik baik, bersikap saling terbuka, dan menegur apabila ada anggota yang berbuat salah. Dengan begitu maka, kinerja kami ke depannya akan lebih baik lagi.

    BalasHapus
  13. 1. Menurut saya, cara yang tepat digunakan untuk menyelesaikan konflik dalam organisasi yakni dengan mengunakan Confronting. Karena dengan confronting masalah yang ada tidak semakin menjadi jadi tapi malah berkurang karena saling menyelesaikan satu dengan yang lain

    2. Confronting cocok dengan gaya saya seperti saat dalam organisasi,setiap orang memiliki pandangan yang berbeda beda untuk suatu hal dan disaat itu ada masalh yang terjadi dari satu pihak dengan pihak lain dan saya ada disalah satu dr pihak tersebut,dsana dengan menggunakan confronting dapat menyelesaikan masalha dengan cepat

    BalasHapus
  14. Confronting,karena menurut pendapat saya bahwa sebuah konflik bila tidak diselesaikan maka konflik tersebut tidak akan hilang dan bahkan dapat menjadi bertambah besar. Bila demikian maka dapat berdampak pada orng lain disekitar kita seperti dengan tidak diselesaikan suatu konflik maka hubungan kita terhadap orang lain mnjadi tidak baik dsb.
    Contoh dikehidupan sehari-hari seperti diskusi antar kelompok yang menimbulkan berbagai macam pendapat..dari situ dengan banyaknya pendapat akan dapat diselesaikan dengan confronting. Jadi kita dapat mncari jalan keluar ataupun mencari pendapat mana yang tepat dalam memecahkan sebuah masalah.

    BalasHapus
  15. 1. Menurut saya gaya penyelesaian konflik yang saya pilih adalah confroting karena dengan gaya ini lebih baik dalam penyelesaian masalah - masalah yang dihadapi sebab suatu masalah harus dihadapi bukan untuk dihindari, bila masalah di depan dihindari akan menjadi masalah - masalah yang lebih besar dan rumit ke depannya dan membuat kita makin tidak dapat menyelesaikannnya
    2. Contohnya saja apabila terjadi konflik dalam sebuah grup atau kelompok teman saya lebih suka menyelesaikan pada saat itu juga agar tidak memperbesar masalah lainnya di kemudian hari

    BalasHapus
  16. Menurut saya cara penyelesaian klonfik yang sesuai adlaah confronting dan compromizing.. karena dengan confroting kita harus menghadapi maslah atau konflik yang ada dalam organisasi.. dengan mengaha
    dpai dan menyelesaikan masalah agar dapat dicari jalan keluar dan bisa memperbaiki hubungan dalam organisasi agar menjadi lebih baik.. dan compromizing juga baik dalam menghadapi konflik.. bahwa setiap org tidak sempurna . Berupaya menerima dan tidak menuntut antar individu..

    BalasHapus
  17. Menurut saya gaya yang paling tepat dalam menghadapi masalah adalah confronting. Konflik tentu tidak dapat dihindari namun konflik tidak lah boleh menjadi sebuah alasan untuk kerusakan relasi antar individu maupun antar organisasi, oleh karena itu confronting adalah gaya penyelesaian konflik yang paling tepat, masalah selesai, hubungan diperbaiki.
    Gaya penyelesaian konflik secara confronting masih belum bisa selalu saya terapkan di dalam kehidupan sehari-hari saya, seringkali justru saya menerapkan gaya withdrawing yaitu berupaya sebisa mungkin menghindarkan diri dari konflik, namun saya sedang belajar untuk berani menghadapi konflik. Sebagai contoh misalnya ada anggota kelompok yang tidak benar dalam bekerja dan merugikan kelompok, saya lebih cenderung untuk mengambil alih tugas mereka daripada harus menyuruh mereka menyelesaikan dan mengerjakan ulang tugas mereka dan menyebabkan terjadinya konflik dalam kelompok.

    BalasHapus
  18. Confronting karna saya tidak suka kalau hidup dalam konflik dengan jangka waktu yang lama...apapun masalahny itu harus dselesaikan secepatnya

    Sangat cocok karna saya akan terpikirkan dengan sebuah konflik apalagi konflik yang besar....seperti orang yang menipu saya dengan jumlah barang yang bisa dibilang banyak...

    BalasHapus
  19. 1. Menurut saya, gaya yang digunakan dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi yaitu, kelima gaya yang telah di sebutkan. Alasan saya memilih semua gaya tersebut karena suatu perusahaan tidak cukup untuk menggunakan satu gaya saja, karena setiap konflik yang terjadi dalam perusahaan sangat beranekaragam dan cara untuk menghadapinya harus dengan berbagai cara sesuai dengan konflik tersebut.
    2. Menurut saya, gaya tersebut sudah cocok dengan yang biasanya saya lakukan ketika berhadapan dengan konflik sehari-hari. Contohnya yaitu pada gaya Confronting. Misalkan saya mempunyai masalah dengan teman atau dengan orang sekitar, saya lebih memilih untuk segera menyelesaikannya dengan tuntas dengan cara yang baik-baik dan terbuka , sehingga masalah tersebut tidak menjadi beban, dan hubungan dengan teman, atau orang sekitar dapat terjalin kembali dengan baik.

    BalasHapus
  20. 1. Menurut saya Confroting karena bagaimanapun bila ada konflik harus segera diselesaikan agar tetap menjaga hubungan yang baik antar sesama dalam organisasi
    2. Menurut saya gaya tersebut sudah cocok dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ada kesalah pahaman teman yang menganggap saya mencemarkan nama baiknya dan saya berusaha mengatasi masalah tersebut sampai selesai. Sehingga hubungan terjalin dengan baik kembali

    BalasHapus
  21. Menurut saya, gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi adalah gaya confronting. Konflik terjadi karena beberapa hal, misalkan saja karena ada perbedaan kepentingan, ketidaksesuaian ide antarkaryawan, dan beberapa hal lainnya. Konflik tersebut dapat menciptakan hubungan atau suasana kerja yang kurang baik dalam perusahaan, maka dari itu konlik tersebut harus disadari sebagai suatu permasalahan dan harus segera diselesaikan.
    Gaya tersebut tidak selalu sesuai dengan yang biasanya saya lakukan ketika berhadapan dengan konflik sehari-hari. Penyebabnya mungkin karena pihak yang bertentangan tidak mau menyelesaikan masalah dengan baik sehingga lebih memilih menghindar (smoothing). Namun dalam konteks penyelesaian konflik dalam kondisi formal atau dalam suatu organisasi, penyelesaian konflik yang digunakan adalah sesuai yaitu gaya confronting.

    BalasHapus
  22. 1. Menurut pendapat saya cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik dalam organisasi adalah confronting karena dengan cara ini kita dapat melihat permasalahan yang terjadi dan cara penyelesaiannya. Dan bila konflik tetap dibiarkan dan tidak diselesaikan maka akan membawa dampak yang buruk dalam organisasi.
    2. Contoh dalam kehidupan sehari - hari adalah ketika terjadi konflik antar teman kelompok saya akan langsung melihat bentuk permasalahannya dan berusaha untuk memecahkan permasalahan tersebut. Karena bila dibiarkan akan semakin berkepanjangan dan terjadi kesalapahaman antara pihak-pihak lain.

    BalasHapus
  23. Menurut saya gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik adalah Confronting karena setiap masalah harus diselesaikan jangan malah di hindari supaya hubungan antar suatu organisasi dapat berjalan dengan baik. Jika kita menghindari masalah tersebut maka suasana dalam kelompok akan semakin rumit saja. Jika saya mempunyai masalah dengan teman saya, supaya hubungan dengan teman tetap berjalan dengan baik, maka saya akan menyelesaikan dalam waktu itu juga supaya tidak menjadi beban pikiran saya.

    BalasHapus
  24. 1. menurut saya cara yang tepat adalah compromizing, karena untuk menyelesaikan masalah yang ada diperlukan jalan pemecahan yang tepat
    2. ya, saat menjalami konflik membicarakan baik" unyuk memperoleh jalan keluar terbaik.

    BalasHapus
  25. kalau saya memilih menggunakan cara Confronting karena yang namanya konflik pasti ada dan tak bisa di hindari, dengan cara tersebut kita tidak hanya menyelesaikan konflik saja tetapi memper erat hubungan dan memperbaikinya dengan yang lain. pengalaman saya adalah konflik dengan teman saya menyelesaikan dengan cara Confronting dengan begitu konflik selesai dan memperbaiki hubungan yang ada

    BalasHapus
  26. 1. Menurut saya cara yang tepat adalah confronting, karena saya menyukai masalah itu selesai dan tidak dibiarkan begitu saja.

    2. Tidak, karena saya menggunakan cara compromizing dimana saya masih tidak menyelesaikan konflik secara sempurna karena ingin terjalin hubungan terus menerus

    BalasHapus
  27. Menurut saya gaya yang pas dalam menghadapi masalah adalah confronting karena setiap masalah harus di hadapi dan kita jangan menghindari masalah yang ada. Dan kita bisa menggunakan masalah untuk mempererat hubungan antara anggota kelompok . Belum karena saya masih menggunakan compromizing karena menyelesaikan konflik seadanya tidak sempurna .

    BalasHapus
  28. Menurut saya yang paling tepat dalam menghadapi konflik adalah confronting karena kita tidak dapat lari dari masalah yang ada dan apabila kita lari dari masalah maka hubungan kita dengan orang tersebut tidak dapat harmonis kembali.
    Iya, saya selalu mencari solusi untuk menyelesaikan konflik yang ada dan tidak lari dari masalah

    BalasHapus
  29. Menurut pendapat saya, gaya yang paling tepat dalam menghadapi konflik dalam suatu organisasi adalah Confronting yaitu dengan melihat konflik sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dan sekaligus cara untuk memperbaiki hubungan yang ada.karena tidak ada hal yang tidak memiliki resiko. Jadi hal yang paling tepat adalah menghadapinya bukan menghindarinya, dengan begitu perusahaan akan memiliki pengalaman tersendiri dengan cara berani menghadapi masalah atau resiko yang muncul tersebut.
    Gaya confronting ini cocok juga untuk resiko-resiko biasa yang dihadapi sehari-hari. Berani menghadapi masalah adalah salah satu kunci utama untuk sukses…..

    Terima Kasih

    BalasHapus
  30. Manteep sob untuk informasinya :)
    http://goo.gl/y46Sp3

    BalasHapus