SELAMAT DATANG

Blog ini dibuat terutama sebagai sarana diskusi para mahasiswa. Terima kasih atas pengertiannya.....
Postingan tentang BAHASA TOMBULU telah disatukan pada blog: bahasatombulu.blogspot.com
Tugas wawancara pebisnis dipostingkan pada blog: kuraberbisnis.blogspot.com

Rabu, 01 Juni 2011

Hubungan stress dengan gender dan jenis pekerjaan (review artikel)

Narayanan, L., Shanker Menon, & Paul E. Spector. 1999. Stress in workplace: a comparison of gender and occupations. Journal of Organizational Behavior. 20: 63-73.

A.     Alasan dan Tujuan Penelitian
Penelitian yang telah dilakukan sehubungan dengan work stress dikaitkan dengan satu jenis pekerjaan. Penulis artikel ini meneliti bukan hanya satu jenis pekerjaan tetapi untuk tiga jenis pekerjaan. Selain itu, ada 2 perbedaan lain dalam penelitian ini dibanding penelitian yang sebelumnya, yaitu fokus pada stressful incidents daripada tipikal lingkungan kerja, dan penggunaan metode open-ended.
B.     Literatur Review/ pengembangan model
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, penulis merumuskan tiga hipotesis sebagai berikut:
1.      Akan ada perbedaan antara sumber stress (stressor) pada pekerjaan yang akan mencerminkan kondisi yang unik dan situasi yang spesifik dari masing-masing pekerjaan. Diharapkan bahwa kurangnya kontrol dan otonomi akan dilaporkan lebih sering dalam pekerjaan level lebih rendah daripada  oleh professors.
2.      Akan ada perbedaan  antara mekanisme pemecahan yang akan mencerminkan kondirisi yang unik dan situasi yangs spesifik dari setiap pekerjaan. Diharapkan bahwa akademisi sebagai level yang lebih tinggi akan menggunakan lebih banyak metode yang terfokus pada problem dalam menghadapi stressor daripada pekerja sales dan clerical sebagai level lebih rendah yang akan lebih menggunakan strategi terfokus pada emosi.
3.      Akan ada perbedaan gender dalam jenis stessor yang diterima dan dalam mekanisme pemecahan. Secara lebih khusus,  konflik interpersonal akan lebih banyak dialami oleh wanita daripada laki-laki sebagai suatu sumber utama stress. Demikian juga, laki-laki  dibandingkan dengan wanita akan menggunakan strategi terfokus pada problem dalam menghadapi stressful event.
C.     Metode
Total partisipan adalah 387 orang yang terdiri dari 137 klerikal, 124 professors, dan 133 sales. 8 partisipan tidak mengalami stress dan 5 partisipan lainnya memberikan data yang tidak lengkap sehingga mereka terpaksa dieliminasi.
Pengukuran yang digunakan  adalah Stress Incident Record (SIR) oleh Newton and Keenan (1985). Sedangkan prosedurnya adalah menghubungi partisipan melalui sekretaris kepala dari  setiap departemen untuk klerikal dan kelompok akademisi dan melalui sales manager untuk kelompok sales.  Kuesioner diisi tanpa nama dan bersifat sukarela.
D.    Hasil
Sumber stress dilaporkan sebagai berikut: 23% dari dari kelompok klerikal melaporkan bahwa penyebab stress adalah kurangnya kontrol atau otonomi dan  sumber yang terbesar (26%) adalah work overload. 31% dari  kelompok akademisi menunjuk konflik interpersonal dan time/effort wasted sebesar 22%. Sedangkan 24% dari kelompok sales menunjuk konflik interpersonal dan time/effort wasted sebesar 19%.
            Mekanisme pemecahan dan cara mereka menghadapi stress dilaporkan sebagai berikut: Kelompok klerikal membicarakannya dengan teman sejawat (31%) dan dengan teman (24%). Kelompok akademisi umumnya langsung menghadapi persoalan antara lain dengan mengambil tindakan langsung (24%) dan membicarakan dengan atasan. Sedangkan kelompok sales membicarakannya dengan keluarga (29%) dan dengan teman sejawat (22%).
E.     Diskusi
Semua yang diekspektasikan pada awal studi dapat dikonfirmasi, sehingga semua hipotesis didukung. Berbagai hasil yang berhubungan dengan penyebab stress maupun bagaimana para partisipan mengatasi stress mereka, dilaporkan konsisten dengan berbagai hasil penelitian sebelumnya. Demikian juga bentuk reaksi afektif individu ketika menghadapi stress yakni frustrasi dan marah konsisten dengan penelitan sebelumnya juga termasuk perbedaan gender mengakibatkan perbedaan dalam memilih bentuk untuk mengatasi stress tersebut. Dengan demikian, studi ini telah menunjukkan bahwa ada beberapa perbedaan dalam stressor yang dirasakan dan mekanisime pemecahan pada level gender dan pekerjaan.
Keterbatasan penelitian ini adalah pengalaman subyektif dari stress yang dilaporkan, tidak dapat diisolasi dari konteksnya yang lebih luas dan lebih besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar