SELAMAT DATANG

Blog ini dibuat terutama sebagai sarana diskusi para mahasiswa. Terima kasih atas pengertiannya.....
Postingan tentang BAHASA TOMBULU telah disatukan pada blog: bahasatombulu.blogspot.com
Tugas wawancara pebisnis dipostingkan pada blog: kuraberbisnis.blogspot.com

Rabu, 01 Juni 2011

Peran kunci self-efficacy dalam menghadapi stress kerja (review artikel)

Schaubroeck, J. & Deryl E. Merritt. 1997.  Divergent effects of job control  coping with work stressors:  the key role of self-efficacy. Academy of Management Journal, 40 (3): 738-754.

A.     Alasan Penelitian
Peneliti ingin menambahkan penelitian tentang apa yang oleh Karasek (1979) sebut sebagai model job demands-control. Mereka  lalu mereview penelitian dan teori yang mengatakan bahwa model job demands-control mengasumsikan  bahwa jobholder memiliki suatu self-efficacy pada level yang tinggi. Oleh karena itu ia menganggap bahwa kontrol bahkan mungkin memiliki konsekuensi kesehatan yang berlawanan di antara hal-hal yang rendah dalam self-efficacy.
B.     Teori dan hipotesis
Setelah mereview model job demands-control dan peran self-efficacy, penulis artikel merumuskan 1 hipotesis utama dengan dua hipotesis turunan sebagai berikut:
1.      The tree-way interaction antara perceived job demands, control, dan self-efficacy akan berhubungan secara signifikan dengan tekanan darah systolic dan diastolic.
2.      Pada level yang lebih tinggi dari self-efficacy, job demands akan memiliki hubungan yang lebih positif dengan tekanan darah systolic dan diastolic di antara subyek-subyek yang melaporkan kontrol yang lebih rendah.
3.      Pada level lebih rendah dari self-efficacy, job demands akan memiliki suatu hubungan yang lebih positif dengan tekanan darah systolic dan diastolic di antara subyek-subyek yang melaporkan kontrol yang lebih tinggi.
C.     Metode
Sample terdiri dari 110 tenaga profesional kesehatan full-time pada suatu rumah sakit rehabilitasi di midwestern, Amerika Serikat. Kuesioner diberikan kepada setiap subjek saat mereka melakukan shift pekerjaan secara reguler.  77 responden menyerahkan data secara lengkap sehingga tingkat response efektif adalah 60%.
Pengukuran: tekanan darah dyastolic dan systolic diukur dengan selft-reported items seperti yang telah digunakan oleh Thomas & Ganker (1995) dan Fox (1993). General self-efficacy scale digunakan untuk mengukur job self-efficacy (diadopsi dari Sherer, et al., 1982). Perceived job demand diukur dengan suatu adaptasi dari Caplan. Sedangkan pengukuran yang independen dilakukan terhadap kompleksitas pekerjaan dan kontrol pekerjaan dengan menggunakan informasi dari Position Analysis Questionnaire (PAQ) dan Dictionary of Occupational Titles (DOT) edisi keempat.
D.    Hasil
Gender memiliki korelasi yang signifikan dengan tekanan systolic dan diastolic, yang mana laki-laki memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Job self-eficacy memiliki korelasi negatif dengan job demands dan berkorelasi secara positif dengan kontrol. Kontrol dan demands tidak berkorelasi dengan tekanan darah.
Penggunaan multiple regression analysis dimaksudkan untuk menguji interaksi dari self-efficacy, perceived job control, perceived job demands dengan tekanan darah diastolic dan systolic dependen secara terpisah. Pada langkah keempat dimasukan the three-way interaktion antara perceived job demands, control, dan job self-efficacy. Hasilnya, mendukung hipotesis sentral yang mana the three-way interaction adalah signifikan dengan dependent tekanan darah systolic dan diastolic.
Variabel PAQ dan DOT  yang diharapkan merepresentasikan kompleksitas pekerjaan berkorelasi secara signifikan dengan pengukuran perceived job complexity (atau job demands) digunakan untuk menguji hipotesis.

E.     Diskusi
Self-efficacy terbukti menjadi suatu determinan dari bentuk interaksi antara job demands dan kontrol tekanan darah yang diprediksikan. Kurangnya kontrol  mungkin secara partikuler berbahaya bagi orang dengan self-efficacy yang tinggi karena situasi yang tak dapat dikontrol dapat menantang persepsi personal. Hasil ini secara mendasar telah direplikasi dalam suatu analisis data sekunder dari sampel yang berbeda sehubungan dengan pekerjaannya yang mencakup beragam pengukuran work stressor, sehingga self-efficacy harus tercakup sebagai suatu moderator dalam analisis agar tidak terjadi seperti pada studi-studi sebelumnya.
Orang yang memiliki self-efficacy yang rendah akan menderita bahkan jika kontrol dinaikkan. Oleh karena itu lebih penting untuk menaikkan self-efficacy seseorang daripada menaikan kontrol untuk mengurangi efek cardiovascular dari job demands. Salah satu cara adalah dengan  behavior modelling dan fokus pada  perubahan penjelasan kausal untuk task outcomes.
Kontrol dan job demands tidak memiliki efek utama  pada tekanan darah. Stress harus ditanggani secara lebih serius, bergantung pada  situasi pekerjaan yang spesifik dari setiap orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar