SELAMAT DATANG

Blog ini dibuat terutama sebagai sarana diskusi para mahasiswa. Terima kasih atas pengertiannya.....
Postingan tentang BAHASA TOMBULU telah disatukan pada blog: bahasatombulu.blogspot.com
Tugas wawancara pebisnis dipostingkan pada blog: kuraberbisnis.blogspot.com

Rabu, 01 Juni 2011

Pendelegasian dan Gaya Kepemimpinan (artikel review)


Schriesheim, C. A., Linda, L. N., &  Terri, A. S. 1998.  Delegation and leader- member exchange: Main effects, moderators, and measurement issues. Academy of Management Journal, 11 (3): 298-318.


A.     Alasan Penelitian
Pendekatan LMX dengan jelas mensyaratkan testing baik untuk hubungan between group maupun within group. Akan tetapi hanya sedikit penelitan yang melakukannya. Oleh karena itu, sekarang disadari bahwa teori dan riset harus diarahkan pada isu-isu  level-of-analisis to be considered fully adequate. Demikian juga halnya sejak pendekatan LMX telah jelas tetapi secara tidak tepat menguji ekspektasi tentang level, penelitian atas isu-isu ini secara jelas dibenarkan.
B.     Literatur Review dan penyusunan hipotesis
1.      Penelitian pada pendelegasian
a         Mengapa pemimpin mendelegasikan
v  Apabila ia ingin mengambil resiko dan menunggu bawahannya sukses
v  Apabila ia merasa beban pekerjaan terlalu besar sehingga ia mengharapkan bantuan dari bawahannya.
v  Apabila ia melihat bawahannya relatif kompeten terhadap tugas tersebut sehingga pemimpin berani menanggung resiko atas akibat dari pendelegasian tersebut.
v  Ia tidak melakukannya dengan 3 alasan:
Ø  Kurang yakin akan kemampuan bawahan
Ø  Tugas nampak begitu penting untuk diserahkan kepada bawahan.
Ø  Tugas nampak secara teknis terlalu sulit

b        Hubungan pendelegasian-kinerja dan pendelegasian-kepuasan
             Leana (1986,1987) mengatakan bahwa tidak ada relasi yang signifikan antara pendelegasian dan kepuasan kerja bawahan atau kepuasan kerja supervisor. Sebaliknya Farrow, Valenzi, dan Bass (1980)  menemukan bahwa  deskripsi bawahan tentang pendelegasian supervisor kepada mereka mempunyai korelasi yang signifikan dengan kepuasan kerja, kepuasan supervisor, dan kinerja. Pendapat ini didukung oleh beberapa penelitian yang dilakukan sesudahnya, sehingga secara umum sebenarnya pendelegasian sering berhubungan secara positif dengan kinerja dan kepuasan bawahan.
2.      Penelitian LMX mencakup pendelegasian
3.      Hipotesis
1.      Baik persepsi subordinate atas kualitas LMX maupun persepsi  supervisor atas (SLMX) akan berkorelasi secara positif dan terpisah dengan level of delegation that subordinates report experiencing at work.
2.      Pendelegasian berhubungan secara positif dengan kinerja.
3.      Baik LMX maupun SLMX memiliki hubungan positif dengan kinerja subordinate.
4.      Baik LMX maupun SLMX akan menengahi (moderat) hubungan antara pendelegasian dan kinerja subordinate dengan cara bahwa hubungan pendelegasian-kinerja akan lebih positif bagi subordinate dengan LMX yang berkualitas tinggi.
5.      Perceived delegation akan berhubungan secara positif pada kepuasank kerja intrinsik dan ekstrinsik dari subordinate.
6.      Baik LMX maupun SLMX akan menengahi hubungan antara pendelegasian  dan kepuasan kerja intrinsik dan ekstrinsik dari subordinate dengan cara  bahwa hubungan pendelegasian-kepuasan akan lebih positif bagi subordinate denga LMX yang berkualitas lebih tinggi.
C.     Metode
Sampel terdiri dari 116 karyawan operatif pada perusahaan pengimport bunga. Setelah kuesioner telah mereka isi, first-line supervisor mereka diminta untuk melengkapi form rating kinerja untuk setiap pekerja, dengan menggunakan suatu short scale measuring kualitas LMX dari perspektif supervisor.
Pengukuran: Perceived delegation diukur dengan mengkombinasikan dua atau tiga item skala pendelegasian yang telah dikembangkan dan diuji oleh Schriesheim dan Neider (1988). Intrinsic dan extrinsic satisfaction diukur dengan menggunakan MSQ (Minnesota Satisfaction Questionaire). Leader-member exchange diukur dengan menggunakan enam-item  skala LMX yang dikembangkan oleh Schriesheim, Neider, Scandura, dan Tepper (1992). Kinerja diukur dengan menggunakan  tujuh-item pengukuran performance-rating yang dikembangkan oleh Mott (1972).
Analisis meliputi: pengujian terhadap demographic and background variable effects, raw score analyses, within and between analyses, multivariate within and between analyses.

D.    Hasil dan Diskusi
Hasil meliputi: raw score analyses (bivariate &  multivariat result) within and between analyses (WABA I result--locus of variance, WABA II result—locus of covariance, & Combined result).
Hasil penelitian ini telah menambah penelitian sebelumnya pada LMX dan pendelegasian, dengan berbagai cara:
1.      Sebuah pengukuran baru terhadap LMX telah dikerjakan berdasarkan konseptualisasi dari LMX yang dikemukakan oleh Dienesch dan Linden (1986).
2.      Hasil yang dikemukakan oleh Scandura, dkk (1986) telah diperluas melalui penggunaan ukuran pendelegasian daripada suatu ukuran yang terutama memfokuskan pada power sharing.
3.      Memberikan kontribusi dalam metodologi yaitu WABA analyses.
4.      Mengindikasikan pentingnya memperoleh ukuran dari LMX dari both parties in a dyad.
E.     Keterbatasan penelitian
Pengumpulan data untuk investigasi dikumpulkan dengan menggunakan paper-pencil instrument maka dikuatirkan hasil yang diperoleh merupakan merely (hanya) methodological artifact.  Oleh karena itu, replikasi  dengan menggunakan metode dan penggukuran yang berbeda, sangat dianjurkan. Sedangkan analisis yang digunakan mencakup dengan tegas data common-source dan pengukuran kinerja merupakan penilaian dari supervisor sehingga mungkin telah menjadi subjek dari beberapa bias yang mempengaruhi  LMX dan SLMX.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar