SELAMAT DATANG

Blog ini dibuat terutama sebagai sarana diskusi para mahasiswa. Terima kasih atas pengertiannya.....
Postingan tentang BAHASA TOMBULU telah disatukan pada blog: bahasatombulu.blogspot.com
Tugas wawancara pebisnis dipostingkan pada blog: kuraberbisnis.blogspot.com

Sabtu, 22 Februari 2014

Pelanggaran Kontrak Psikologis oleh Pekerja dan Pemberi Kerja (Bahan Diskusi IV MSDM II)



Bahan Bacaan:

Nadin, Sara J. & Colin C. Williams. 2012. Psychological Contract Violation Beyond an Employees’ Perspective: The perspective of employers. Employee Relations, Vol. 34 (2): 110-125
Turnley, William H. & Daniel C. Feldman. 1999. The Impact of Psychological Contract Violations on Exit, Voices, Loyalty, and Neglect. Human Relations, Vol. 52 (7): 895-922

        Kontrak Psikologis merupakan harapan tidak tertulis bahwa tenaga kerja dan pemberi kerja mempunyai sifat alamiah dari hubungan kerja mereka. Kotrak tidak tertulis itu terutama terkait dengan harapan bahwa tenaga kerja akan melakukan “yang terbaik” bagi organisasi dan organisasi akan melakukan “yang terbaik” bagi tenaga kerja. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pelanggaran kontrak psikologis berdampak negative terhadap kinerja individu maupun organisasi. Turnley & Feldman (1999) mengemukakan bahwa pelanggaran terhadap kontrak psikologis oleh pemberi kerja berdampak pada meningkatnya jumlah pekerja yang meninggalkan organisasi, meningkatnya protes dan penolakan terhadap kebijakan organisasi, serta menurunnya loyalitas pekerja.
         Nadin & Williams (2012) menyoroti bahwa penelitian terkait kontrak psikologis cenderung berat sebelah. Penelitian lebih banyak menyoroti dampak pelanggaran kontrak yang dilakukan pemberi kerja tapi kurang menyoroti pelanggaran kontrak yang dilakukan oleh pekerja. Oleh karena itu, dalam penelitian mereka, Nadin & Williams (2012) berhasil menunjukkan dampak yang terjadi pada pemberi kerja ketika kontrak psikologis itu dilanggar oleh pekerja.

Bahan Diskusi:


  1. Berikanlah contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEKERJA serta beri masukan untuk cara mengatasinya.
  2. Berikanlah contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEMBERI KERJA serta beri masukan untuk cara mengatasinya

MOHON PERHATIAN:

PAHAMI SUNGGUH-SUNGGUH APA YANG DIMAKSUD DENGAN KONTRAK PSIKOLOGIS SEBELUM SAUDARA BERKOMENTAR. Terima Kasih, selamat berdiskusi…

257 komentar:

  1. 1.Menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan adalah ketika terjadi ketidaksesuaian antara ekspektasi yang diharapkan oleh organisasi atau perusahaan dengan kinerja karyawan. Misalkan karyawan tersebut ditargetkan bisa menjadi pekerja yang berpotensi jika dilihat dari kinerja awal mereka dan bagaimana respon positif mereka terhadap perusahaan. Akan tetapi lama kelamaan ternyata produktivitas dan semangat kinerja karyawan tersebut menurun. Hal tersebut dapat dikatakan pelanggaran kontrak psikologis yang tidak tertulis. Menurut saya cara mengatasinya adalah dengan menciptakan sinergi yang baik antara individu tersebut dan perusahaan. Awalnya harus ditelusuri terlebih dahulu apakah yang menyebabkan kinerja menurun adalah karena karyawan tersebut memang malas atau karena faktor lain yang berasal dari sistem perusahaan sendiri. Karena menurut saya kepuasan kerja menjadi salah satu faktor yang dapat menunjang karyawan agar bekerja dengan handal dalam menyelesaikan tugasnya. Kepuasan kerja adalah emosi atau perasaan individu yang menyenangkan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan yang ditandai dengan imbalan, keadaan pekerjaan, kesempatan berpromosi bimbingan dan dorongan rekan kerja.
    Kinerja individu yang efektif menekankan pada sejauh mana individu tersebut melakukan tugas pekerjaan, apakah hanya sebatas menjalankan tugas sesuai dengan peranannya (in-role) atau melaksanakan tugasnya melebihi peranan yang seharusnya (extra-role). Individu yang dengan sukarela melaksanakan tugasnya melebihi peranannya adalah individu yang memiliki motivasi yang kuat dalam bekerja, memiliki kepuasan dalam bekerja dan adanya perasaan yang diakibatkan dari terpenuhinya kontrak psikologis pegawai/karyawan, sehingga kinerja karyawan tercapai.
    2.Seperti yg sudah saya jelaskan pada poin pertama, bahwa contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pemberi kerja adalah apabila perusahaan tidak memberi keadaan kerja yang membangun, kemudian kesempatan memperoleh promosi. Hal tersebut dapat berdampak pada kinerja karyawan. Solusinya adalah dengan lebih memberikan perhatian kepada kinerja karyawan yang baik, dan memfasilitasi serta memberikan mereka dorongan agar terus terpacu berkinerja dengan baik. Lebih memperbaiki pengelolaan manajemen yang ada dalam perusahaan. Khususnya di bagian personalia. Terima kasih.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pernyataan saudari agatha, namun disini yang ingin saya tanyakan adalah, Manakah yang lebih sulit diselesaikan pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEKERJA ataukah pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEMBERI KERJA?
      Bagaimanakah jika suatu perusahaan telah memberikan kompensasi yang sesuai kepada para karyawan, dan menunjang kepuasan di lingkungan kerja, namun ada pekerja yang melakukan pelanggaran kontak psikologis, apa yang harus dilakukan oleh perusahaan tersebut dan apa saja dampak yang akan ditimbulkan ?
      Terima Kasih

      Hapus
    2. Saya ingin menanggapi komentar Sdri. Agatha. Di sini Sdri. Agatha menyatakan bahwa kinerja karyawan yg menurun merupakan salah satu bentuk pelanggaran kontrak psikologis karyawan thd perusahannya. Sampai sini saya menyatakan kurang setuju karena kinerja karyawan pada dasarnya adalah sesuatu yg tidak bisa dituntut untuk terus stabil dan tidak mengalami penurunan. Banyak faktor yg menyebabkan seorang karyawan mulai mengalami penurunan kinerja, bahkan sesungguhnya ia tidak ingin dengan sengaja mengalami penurunan kinerja. Jadi menurut saya peurunan kinerja seseorang tidak bisa langsung dikatakan sebagai pelanggaran kontrak psikologis dalam perusahaan.
      Namun saya setuju dengan pendapat selebihnya dari Sdri. Agatha mengenai solusi yg diberikan utk mengatasi kinerja karyawan yg mulai menurun ini. Tidak sepenuhnya kesalahan pada pekerjaj namun bisa juga dari sisi perusahaan, dan apabila memang perusahaan yg menyebabkan produktivitas karyawan menurun maka pelanggaran kontrak bisa saja justru dilakukan oleh perusahaan terhadap karyawan.
      Demikian pendapat saya.
      Terima kasih.

      Hapus
    3. Saya mengucapkan trimakasih atas masukan dan pertanyaan yang diberikan oleh saudari Fenska dan Yoshiko. Pertama saya akan menjawab pertanyaan dari saudari fenska. Menurut saya lebih sulit jika pekerja yang melanggar kontrak psikologis, karena jika ditelusuri bisa saja ada banyak faktor yang menyebabkan individu tersebut melakukan pelanggaran, bisa masalah pribadi, masalah dengan rekan kerja atau dengan organisasi. Terkadang ada suatu pendirian dalam diri seseorang yang tidak mau diubah ketika Ia sudah merasa memiliki keputusan yang tepat. Sedangkan jika dari sisi pemberi kerja, pembenahan sistem masih bisa dilakukan untuk memperbaiki hubungan tersebut.
      Jika perusahaan sudah memberikan kompensasi yg sesuai dengan keadilan, namun karyawan tetap melakukan pelanggaran kontrak psikologis maka karyawan tersebut harus diingatkan atau diberi peringatan. Apabila dirasa pelanggaran kontrak psikologis sudah berpengaruh besar terhadap peusahaan maka alternatif pemecatan bisa dilakukan.Tentu saja semua keputusan yg diambil harus bijaksana, dan melalui proses yang benar. Pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan bisa mempengaruhi juga kinerja karyawan lain jika karyawan tersebut tidak bekerja dengan baik dalam tim.
      Kemudian saya akan menanggapi komentar dari saudari yoshiko. Saya setuju memang produktivitas seorang bisa mengalami fluktuasi dan tidak slalu stabil. Yang saya maksudkan adalah karyawan yang benar-benar menunjukkan penurunan kerja signifikan jika dibandingkan dengan kinerja-kinerja yang sebelumnya. Terima kasih.

      Hapus
    4. Menurut saya disini, produktivitas yg menurun bisa dikatakan sebagai pelanggaran kontrak psikologis tapi tidak dengan semangat karyawan. Misalnya karyawan diharuskan membuat 5 kursi, tapi suatu hari dia hanya bisa membuat 4 kursi. Ini adalah pelanggaran yg dibuat karyawan. Pada suatu keadaan, si karyawan sedang tidak bersemangat dalam bekerja tapi asalkan dia melakukan tugasnya dengan baik menurut saya ini tidak menjadi pelanggaran.

      Hapus
    5. Produktivitas yg menurun bisa dikatakan sebagai pelanggaran kontrak psikologis. Benar pendapat Yessica Candra, mengapa saya katakan pendapat ini benar ? karena pada saat karyawan bergabung dengan suatu perusahaan, mereka membuat suatu kontrak psikologis yang tidak tertulis dengannya, meskipun pada umumnya mereka melakukannya secara tidak sadar. Dalam kontrak tersebut karyawan setuju untuk mencurahkan tenaga dan loyalitasnya dalam kadar tertentu. Namun dalam pelaksanaan kadang organisasi gagal dalam memenuhi atau telah mengingkari satu atau lebih kewajiban. Sehingga menyebabkan karyawan juga melakukan pelanggaran kontrak psikologis, seperti yang dikatakan Yessica menurunnya produktifitas dalam membuat kursi dari 5 menjadi 4. Ini adalah penyebab karena saling terjadi pelanggaran antara perusahaan dan karyawan. Sehingga karyawan tidak lagi percaya terhadap perusahaannya. Terima Kasih.

      Hapus
    6. kepada saudari Agatha, saya mau tanya jika si karyawan melanggar kontrak psikilogis atau langgar peraturan kerja, apa yang harus saudari lakukan jika saudari jabatannya sebagai manager atau direktur perusahaan?
      Dan jika si karyawan yang rajin dan tidak melanggar peraturan, sebagai atasan apa yang harus dilakukan kepada si karyawan tersebut?
      Terima Kasih

      Hapus
    7. Saya setuju dengan pendapat saudara Agatha. Dalam kontrak psikologis memang dibutuhkan adanya timbal balik antara pemberi kerja dan pekerja serta pemberi kerja dan pekerja diharapkan memiliki hubungan mutualisme. Namun yang ingin saya tanyakan adalah jika ketidakpuasan yang menjadi penyebab pelanggaran kontrak psikologis, bagaimana cara Anda mengatasinya, mengingat bahwa manusia itu "tidak pernah puas" ? Apakah Anda terus memenuhi apa yang di inginkan karyawan padahal banyak karyawan yang melakukan pelanggaran kontrak psikologis?
      Terima Kasih

      Hapus
    8. Menurut saya sendiri membantu menanggapi pertanyaan sdri.Heranadya, pemberi kerja seharusnya tidak memenuhi keinginan karyawan yg telah melanggar kontrak psikologis. Terkait dengan hubungannya bahwa manusia "tidak pernah puas", maka untuk mencapai kepuasan, karyawan sebaiknya menunjukkan kinerjanya yg memuaskan bukan malah melanggar kontrak psikologis. Seperti misalnya saudara sudah mendapatkan nilai 80 di ujian saudara. Saudara ingin mendapatkan nilai 100, jika saudara menyontek dan ketahuan, maka tidak mungkin tim pengajar (dosen/guru) memberikan saudara kelonggaran untuk terus menyontek lagi, betul tidak ? Salah satu caranya yg dipenuhi keinginan saudara untuk mendapatkan nilai 100, saudara bisa bertanya kepada tim pengajar tentang apa yg saudara yg masih kurang mengerti akan pelajaran tersebut dan saya yakin tim pengajar akan memenuhi keinginan saudara tersebut. Berbuat kecurangan umumnya tidak bisa ditolerin oleh mereka (dosen/guru).

      Hapus
    9. Saya setuju dengan pendapat saudara Agatha. Dalam kontrak psikologis memang dibutuhkan adanya timbal balik antara pemberi kerja dan pekerja serta pemberi kerja dan pekerja diharapkan memiliki hubungan satu sama lain . Namun yang ingin saya tanyakan adalah jika anda seorang manager perusahaan menemukan sebuah pelanggar kontrak seperti itu apa yang akan anda lakukan? Dan jika anda menemukan karyawan anda tidak melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan apa tindakan anda selanjutnya untuk karyawan anda tersebut dan jika ada karyawan anda yang sebaliknya ap yang akan anda beri pada karyawan anda?...


      terima kasih

      Hapus
    10. Saya sependapat dan setuju dengan saudari agatha, bahwa contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan adalah ketika terjadi ketidaksesuaian antara ekspektasi yang diharapkan oleh organisasi atau perusahaan dengan kinerja karyawan , namun saya ingin bertanya bagaimana caranya agar ekspetasi yang diharapkan oleh organisasi terhadap tenaga kerja bisa sesuai? Kemudian apabila seorang pekerja melakukan pelanggaran kontrak psikologis, dampak apa yang dapat di timbulkan? Dan bagaimana cara organisasi mengatasi dampak yang terjadi tersebut? Terimakasih.

      Hapus
    11. Saya setuju dengan penjelasan saudari Agatha tentang pelanggaran kontrak yang dilakukan oleh karyawan atau pekerja yaitu ketika karyawan tersebut ditargetkan, tapi pekerja tersebut melanggarnya atau bekerja tidak maksimal dan tidak sesuai dengan tujuan awal. Ini sangat melanggar kontrak kerja. Sebagai perusahaan, perusahaan harus tegas dan menegur karyawan tersebut supaya kejadian itu tidak terulang kembali.

      Hapus
  2. seperti yang kita ketahui pelanggaran kontrak psikologis yaitu sebuah kontrak yang bersifat implisit antara seorang individu dan organisasinya yang menspesifikkan pada apa yang masing-masing harapkan satu sama lain untuk saling memberi dan menerima dalam suatu hubungan kerja . Selanjutnya contoh yang sering timbul dalam pelanggaran psikologis pekerja yaitu, dengan tiba-tiba menurunya tingkat produktifitas yang pekera tersebut. Padahal pada saat perekrutan karyawan ini sudah di tuntut untuk mencapai target yang telah di tetapkan. Dan di harapkan membawa dampak positif yang besar bagi perusahaan. Tetapi di tengah-tengah perjalanan, produktifitas pekerja tsb menurun. Pertam-tama yang harus di selidiki dan di lakukan oleh pihak perusahaan yaitu, mengetahui apa penyebab turunnya produktifitas karyawannya. Mungkin saja karena peraturan-peraturan yang dibuat oleh perusahaan terlalu ketat. Karywan tidak dijiinkan untuk bnyak istrhat dll. dan perusahaan pun dapat menilai menggunakan kuisioner yang dibagikan kepada karywan.
    Yang kedua, yng mungkin di lakukan oleh pemberi kerja yaitu, tidak melakukan apa yang sudah di tetapka dan di janjikan oleh karyawan. Seperti halnya, menyuruh karyawannya terus bekerja lembur dengan tidak memberikan uang kompensasi/uang tambahan. waktu jam istrhat sangatlah sedikit. Dan tidak mencantumkan hal-hal yang memang menjadi hak karyawan pada surat perjanjian. Cara mengatasinya yaitu, apabila ini sudah terjadi, dan berdampak pada karywan, sebaiknya pihak perusahaan terjun langsung dan menannyakan apa yang salah terhadap siste yang telah ditetapkan. dengan cara itu produktifitas karyawan pun tidak menurun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat saudari yenny dengan menurunya produktifitas pekerja yang tiba tiba dapat menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap perusahaan maupun bagi pekerja itu sendiri. Pihak perusahaan pun harus cepat melakukan tindakan supaya produktifitas karyawan tidak mengalami penurunan. Dengan adanya tindakan yang dilakukan oleh perusahaan maka dapat diketahui apa yang dirasakan karyawan pada saat bekerja diperusahaan itu. Jika karyawan ada yang merasa tidak nyaman dalam proses bekerja maka perusahaan dapat segera memperbaiki agar tidak sampai mengalami penurunan produktifitas. Sehingga antara karyawan dengan perusahaan sama sama tidak ada yang merasa dirugikan.

      Hapus
    2. Seperti yg disampaikan sdri.Yenny pada masalah poin kedua bahwa perusahaan tidak memberikan kompensasi kepada karyawan yg lembur, saya mau menambahkan pada solusi yg diberikan sdri.Yenny adalah tidak hanya menanyakan kepada karyawan apa penyebabnya, tapi seharusnya perusahaan mengevaluasi bahwa karyawan yg lembur memang sebaiknya diberikan uang tambahan karena karyawan bekerja di luar jam kerja normal.

      Hapus
    3. saya setuju dengan pendapat saudari yenni bahwa pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja adalah menurunnya produktivitas pekerja secara tiba-tiba. Karena dengan menurunnya produktivitas pekerja akan berdampak buruk bagi perusahaan sehingga target yang diinginkan/ditargerkan perusahaan tidak dapat tercapai. Dalam kondisi yang seperti ini, pekerja dan perusahaan harus mencari solusi yang tepat agar semua kembali normal, produktivitas pekerja kembali meningkat dan target perusahaan terpenuhi. Terima kasih

      Hapus
    4. joseph julianto-C
      saya setuju dengan pendapat yg dikemukakan oleh saudara yenni.karena menurut saya memang benar pelanggaran kontrak psikologis memang berdampak besar kerugian bagi perusahaan,karena produktivitas kinerja dari karyawan di suatu perusahaan itu menurun dan tidak sesuai harapan yg diinginkan perusahaan.keadaan seperti ini harus segera ditindak lanjuti dengan menyelidiki penyebab produktivitas kinerja karyawan menurun dan mencari solusi dengan benar untuk memperbaiki keadaan seperti ini.

      Hapus
    5. Untuk saudari Yenni, saya setuju dengan pendapat Anda. Yang mau saya tanyakan ialah, apakah kontrak psikologis hanya berkaitan antara pekerja dan pemberi kerja ? Apakah konflik antar karyawan yang menyebabkan ketidaksolidan dalam tim termasuk pelanggaran kontrak psikologis ? Tolong jelaskan
      Terima Kasih

      Hapus
    6. Saya setuju dengan pendapat saudari Yenny Tamara, antara seorang individu dan organisasinya yang menspesifikkan pada apa yang masing-masing harapkan satu sama lain untuk saling memberi dan menerima dalam suatu hubungan pekerjaan. Dengan demikian tiba-tiba menurunya tingkat produktifitas. Sebagai karyawan, perekrutan karyawan ini sudah di tuntut untuk mencapai target yang telah di tetapkan. Dan di harapkan membawa dampak positif yang besar bagi perusahaan agar dapat memberikan penilaian yang baik serta meningkatkan pekerjaan dalam suatu perusahaan.

      Terima Kasih.

      Hapus
    7. Saya setuju dengan sdri Yenny, tetapi disini perlu saya tambahkan bahwa menurunnya kinerja karyawan bukan saja seperti yang sdri jelaskan namun juga dari diri karyawan sendiri yang disebabkan oleh masalah dalam keluarga. Dan dalam hal ini, pimpinan perusahaan perlu melakukan pendekatan secara kekeluargaan untuk dapat membantu dalam menyelesaikannya.

      Hapus
    8. Saya setuju dengan pendapat Yenny tentang pelanggaran yang dilakukan pekerja yaitu menurunnya tingkat produktifitas pekerja atau karyawan saat bekerja. Padahal pekerja sudah dituntut untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Tetapi pekerja tersebut tidak mampu sesuai target. Ini jelas pelanggaran kontrak. Sebagai perusahaan, perusahaan harus tegas dan menegur karyawan tersebut supaya kejadian itu tidak terulang kembali. Supaya menjadi lebih baik lagi.

      Hapus
    9. Saya sependapat dengan saudari yenni, dari contoh yg sudah dijelaskan kepada saudari yenni itu sudah jelas termasuk pelanggaran kontrak psikologis. Karena karyawan sdh melanggar aturan-aturan yg sudah ditetapkan oleh suatu perusahaan walaupun pada saat perekrutan karyawan sudah mengetahui aturan yg sudah ditetapkan oleh perusahaan. Memang pada saat ada masalah karyawan, tidak hanya di dlm perusahaan tetapi masalah keluarga. Kalau masalah keluarga bisa diatur sendiri dan jgn sampai merambat ke dlm perusahaan semua tergantung dari karyawan. Tetapi Kalau masalah karyawan di dalam perusahaan cnthnya tiba-tiba harus ada lembur di dalam perusahaan sudah merupakan resiko karyawan tersebut dan karyawan mau nggak mau harus terima dan apabila karyawan mengeluh maka akan membuat pekerjaan tdk maksimal. Dari contoh tersebut sudah dikatakan termasuk pelanggaran kontrak psikologis.

      Hapus
    10. saya setuju dengan pendapat saudari yenni yang menyatakan bahwa " contoh yang sering timbul dalam pelanggaran psikologis pekerja yaitu, dengan tiba-tiba menurunya tingkat produktifitas yang pekerja tersebut." karena biasanya dalam awal - awal bekerja seorang karyawan tersebut melakukan pekerjaanya dengan sangat giat , hal ini bisa jadi dikarenakan karyawan tersebut ingin dianggap berkompeten atau memang ada juga yang memang konsisten dengan pekerjaanya. tetapi kadang kala saat dalam pertengahan pekerjaannya atau sudah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut karyawan itu kadang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik atau yang biasa disebut produktifitas menurun. hal ini bisa disebabkan karena banyak faktor. Padahal setiap perusahaan mentargetkan karyawannya harus bekerja sampai mana. dan karena hal ini termasuk pelanggaran kontrak psikologis. Terima kasih

      Hapus
  3. Menurut saya, kemungkinan besar pelanggaran kontrak psikologis diawali oleh pemberi kerja yang biasanya di awal menyatakan pemberian gaji, tunjangan, kompensasi, dst yang diekspektasikan lebih oleh pekerja, atau mungkin juga pernyataan akan memberikan pelatihan, pengembangan karir, pemberian keputusan, promosi, keamanan dan lainnya yang ternyata dalam kenyataannya tidak terjadi secara real di kenyataan yang ada, sehingga menjadikan pekerja kurang dalam melakukan produktivitasnya. Hal ini yang dapat menjadikan pelanggaran kontrak pekerja namun dalam konteks ini dilakukan oleh pemberi kerja terlebih dahulu. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelanggaran kontrak psikologis terjadi saat karyawan merasa balas jasa yang kurang dari perusahaan kepadanya. Sedangkan untuk pemberi kerja, melanggar dengan tidak melakukan apa yang sudah dijanjikan kepada pekerja yang menyebabkan kinerja pekerja menurun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Monica,pelanggaran kontrak psikologis menurut saya juga dapat dimulai/diawali dengan tindakan pemberi kerja yang mungkin tidak menepati beberapa perjanjian yang telah disepakati oleh pemberi kerja dan pekerja. Seperti perjanjian awal antara pemberi kerja dan pekerja mengenai tentang gaji dan jaminan asuransi pekerja,yang pada akhrnya perjanjian tersebut tidak dapat dipenuhi oleh pemberi kerja. Sehingga menyebabkan kinerja pekerjaan dari pekerja dapat menurun dan tidak dapat memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan/organisasinya. Sekian terimakasih

      Hapus
    2. Saya setuju pendapat monica. Apabila kita sedang mekamar pekerjaan pasti kita sudah ada perjanjian antara pemberi kerja dan pekerja sendiri. Perjanjian biasnya mengenai gaji jaminan lain seperti jaminan asuransi. Kesepakatan perjanjian memberikan kenaikan kinerja dari pekerja tersebut.

      Hapus
    3. maaf sebelumnya, tampaknya saya kurang setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh sodari Monica mengenai "kemungkinan besar pelanggaran kontrak psikologis diawali oleh pemberi kerja". karena menurut saya kontrak psikologis melibatkan kedua belah pihak. jadi semua kemungkinan pelanggaran dapat diawali baik oleh pemberi kerja maupun pekerja. mungkin ada beberapa pemberi kerja yang melakukan hal tersebut. tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa pelanggaran kontrak ini diawali juga oleh pekerja. Sebagian besar pemberi pekerjaan akan melihat kinerja karyawan terlebih dahulu. pemberi kerja akan memberi bonus yang berupa kenaikan gaji, promosi jabatan, dll sesuai dengan performa yang diciptakan pekerja tersebut. semakin pekerja tersebut memiliki potensi yang baik, maka akan semakin susah pemberi kerja untuk melepasnya. terima kasih.

      Hapus
    4. Saya juga kurang setuju dengan pendapat Saudari Monica.
      Menurut pendapat dan pengalaman saya, tidak semua pelanggaran kontrak psikologis diawali oleh pemberi kerja. pelanggaran psikologis itu menurut saya mayoritas berasal dari si pekerja atau si karyawan tersebut.si pekerja sebelum nya di uji dulu atau di kasih pelatihan selama 6 bulan. dan di terima sebagai karyawan jika dia lolos di uji keuletan dan kepiawaiannya dalam bekerja
      mereka yang melanggar psikologis karna sifat kemalasan dalam bekerja

      Hapus
    5. Terimakasih kepada saudara kevin daud dan reinaldo atas komentarnya.

      Kepada saudari melisa, dan saudara jack cendra, saya memang berpendapat bahwa kemungkinan besar kontrak psikologis dilakukan oleh pemberi kerja, saya tidak menyatakan bahwa 100% pemberi kerja-lah yang selalu melakukan pelanggaran terlebih dahulu. Karena menurut pendapat saya, sebagian besar lah pemberi kerja yang bisa saja dikatakan lalai atau kurang tepat dalam menjelaskan apa yang dijanjikan dari awal sehingga menjadikan ekspetasi karyawan yang terlalu tinggi. Saya juga tidak memungkiri bahwa karyawan juga bisa melanggar kontrak psikologis tersebut karena alasan apapun. Lalu untuk perkataan saudari melisa yang menyatakan bahwa kontrak psikologis tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak itu adalah benar, namun perlu diingat bahwa kontrak psikologis ini dilakukan tanpa ada hitam di atas putih. Sehingga yang dapat diingat hanyalah perkataan dari pemberi kerja dan karyawan secara lisan. Karena tak ada perjanjian tertulis sehingga dapat kita terka saja, di setiap memori manusia pasti ada yang disebut salah persepsi, dimana apa yang di katakan seseorang bisa berarti lain di mata dan pikiran orang lain.

      Dan kepada saudara jack cendra, saya ingin membalik lagi pernyataan anda, jika memang seperti pengalaman yang anda tuliskan yang menyatakan karyawan diuji dan diberi pelatihan dalam kurun waktu 6 bulan yang terbilang lama, mengapa masih ada karyawan yang memiliki sifat malas yang bekerja setelah lolos uji tsb?

      Hapus
    6. saya setuju dengan pendapat saudari Monica bahwa pemberi kerja biasanya mengawali pelanggaran kontrak psikologis. namun yang saya ingin tanyakan, jika suatu saat perusahaan mengalami sebuah masalah yaitu penurunan pendapatan dan profit perusahaan yang otomatis berdampak pada berkurangnya bonus-bonus atau pun hal-hal yang sudah di janjikan kepada karyawan apakah ini menjadi sebuah pelanggaran kontrak psikologis yang disebabkan oleh pemberi kerja?? terima kasih

      Hapus
    7. saya kurang setuju dengan pendapat saudari monica karena pelanggaran terhadap kontrak psikologis disebabkan oleh kedua belah pihak, baik pihak organisasi maupun dari pihak pekerja. Sebuah organisasi tidak akan memberi kompensasi jika produktivitas atau kinerja dari pekerja tersebut buruk atau menurun dan tidak dapat memenuhi target perusahaan. Terima kasih

      Hapus
    8. Saya mau menyanggah pendapat saudari Monica, Anda berpendapat bahwa "kemungkinan besar pelanggaran kontrak psikologis diawali oleh pemberi kerja". Namun pada kenyataan jaman sekarang, banyak kita jumpai bahwa karyawan banyak menuntut terhadap perusahaan, perusahaan sudah berupaya untuk memuaskan karyawan namun karyawan memiliki ego yang tinggi, karyawan tidak mau peduli terhadap kondisi perusahaan, yang karyawan pikirkan hanya kepuasaannya saja, padahal kinerja beberapa dari mereka tidak menunjukkan peningkatan.
      Terima Kasih

      Hapus
    9. saya setuju dengan pendapat saudari monica.
      karena salah satu faktor yang menentukan produktifitas karyawan adalah dukungan dari organisasi. dukungan yang baik serta perhatian yang lebih oleh perusahaan kepada karyawan sangat berpengaruh untuk memaksimalkan kinerja karyawan.

      Hapus
    10. Saya setuju dengan pendapat saudari monica cuman saya mau menambahkan tidak cuman pemberi kerja saja melanggar kontrak psikologis, pekerja pun sering melanggar misalnya saja pekerja sering berbohong ketika diwawancara karena ia ingin diterima oleh tempat penerima kerja jadi tidak sesuai yang diharapkan penerima kerja

      Hapus
    11. saya kurang setuju dengan pendapat yang kemukakan oleh sdri monica mengenai "kemungkinan besar pelanggaran kontrak psikologis diawali oleh pemberi kerja". Karena tidak semua pemberi kerja itu melakukan kesalahan. Akan tetapi pada kenyataannya para karyawan itu sendiri mayoritas pelanggaran psikologis yang harus di perbaikin!..

      Jika itu terjadi apa yang harus anda lakukan?

      terima kasih

      Hapus
    12. Terimakasih saudara Hermahesa atas pertanyaannya, saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda. Kalau menurut saya, jika terjadi penurunan profit perusahaan ini seharusnya bukanlah pelanggaran kontrak psikologis. Karena benar saja, perekonomian memang tidak bisa ditebak. Mungkin bulan ini bisa banyak pemasukan, mungkin bulan depan malah terpuruk. Namun, mungkin bisa diatasi dengan cara, memberi penjelasan kepada karyawan kita, dengan bukti-bukti real mengenai penurunan profit perusahaan. Sehingga karyawan bisa mengerti dan memaklumi jika nantinya tidak bisa memberikan bonus seperti yang dikatakan pemberi kerja di awal. Sehingga tidak menyebabkan kerancuan informasi jika tiba-tiba bonus/tunjangan dll menurun dari bulan-bulan yang sebelumnya. Terimakasih.

      Kepada saudari ayu dian terimakasih komentarnya. Tapi saya ingin menambahkan, di bagian awal saat pelamar kerja datang dan melamart kerja, pemberi kerja pasti akan memberi iming-iming (istilahnya) demi membuat karyawan merasa senang dan terpacu untuk menjadikan perusahaan/organisasi lebih maju/jaya lagi. Terimakasih.

      Terimakasih atas sanggahannya saudari heranadya. Mungkin ada beberapa karyawan yang berpikiran dan berperilaku seperti yang anda sebutkan tadi. Namun bisa kita beri penjelasan jika kita sebagai atasan dari mereka, bahwa perusahaan juga tak bisa 100% memenuhi ego masing-masing karyawan. Perusahaan/organisasi adalah suatu lapangan kerja yang memberikan pekerjaan bagi karyawan agar dapat memenuhi kewajibannya, jika berkeluarga, dst. Namun jika memang karyawan itu tak bisa mengerti situasi dan kondisi dari perusahaan, apalagi jika kinerja mereka memang tidak memuaskan dan tidak menjadi kepentingan utama perusahaan, menurut saya, sebaiknya tidak perlu terlalu dipertahankan. Karena tidak semua perusahaan di masa sekarang ini memenuhi karyawannya jika saya lihat. Tetapi perusahaan mungkin memiliki rasa terpaksa, karena masih menganggap karyawan sebagai aset. Terimakasih.

      Lalu terimakasih kepada saudara ronaldo dan kepada saudara yohanes, memang benar. Saya pun tidak memungkiri. Pasti masih ada banyak di luar sana pekerja yang berbohong saat di interview. Yang bisa kita lihat ya dari first impressionnya. Apakah benar calon pekerja berniat bekerja. Lalu di saat training misalnya. Apakah dia benar-benar bisa diandalkan. Dan jika memang terbukti saat interview calon pekerja mengatakan 'bisa' sedangkan di realisasinya (saat training/pelatihan) ternyata 'tidak bisa' maka pemberi kerja bisa melihat bahwa kenyataan calon pekerja ini tidak bisa jujur dan pasti pemberi kerja akan memberikan sanksi, atau peringatan, dan atau kebijakan-kebijakan yang lainnya. Terimakasih.

      Kepada saudari elisabeth, saya kurang jelas di pertanyaan anda, maksud dari 'para karyawan itu sendiri mayoritas pelanggaran psikologis yang harus diperbaikin!'
      Maksudnya dalam konteks apa yang harus diperbaiki atau seperti apa? terimakasih.

      Hapus
    13. Terimakasih saudara Hermahesa atas pertanyaannya, saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda. Kalau menurut saya, jika terjadi penurunan profit perusahaan ini seharusnya bukanlah pelanggaran kontrak psikologis. Karena benar saja, perekonomian memang tidak bisa ditebak. Mungkin bulan ini bisa banyak pemasukan, mungkin bulan depan malah terpuruk. Namun, mungkin bisa diatasi dengan cara, memberi penjelasan kepada karyawan kita, dengan bukti-bukti real mengenai penurunan profit perusahaan. Sehingga karyawan bisa mengerti dan memaklumi jika nantinya tidak bisa memberikan bonus seperti yang dikatakan pemberi kerja di awal. Sehingga tidak menyebabkan kerancuan informasi jika tiba-tiba bonus/tunjangan dll menurun dari bulan-bulan yang sebelumnya. Terimakasih.

      Kepada saudari ayu dian terimakasih komentarnya. Tapi saya ingin menambahkan, di bagian awal saat pelamar kerja datang dan melamart kerja, pemberi kerja pasti akan memberi iming-iming (istilahnya) demi membuat karyawan merasa senang dan terpacu untuk menjadikan perusahaan/organisasi lebih maju/jaya lagi. Terimakasih.

      Terimakasih atas sanggahannya saudari heranadya. Mungkin ada beberapa karyawan yang berpikiran dan berperilaku seperti yang anda sebutkan tadi. Namun bisa kita beri penjelasan jika kita sebagai atasan dari mereka, bahwa perusahaan juga tak bisa 100% memenuhi ego masing-masing karyawan. Perusahaan/organisasi adalah suatu lapangan kerja yang memberikan pekerjaan bagi karyawan agar dapat memenuhi kewajibannya, jika berkeluarga, dst. Namun jika memang karyawan itu tak bisa mengerti situasi dan kondisi dari perusahaan, apalagi jika kinerja mereka memang tidak memuaskan dan tidak menjadi kepentingan utama perusahaan, menurut saya, sebaiknya tidak perlu terlalu dipertahankan. Karena tidak semua perusahaan di masa sekarang ini memenuhi karyawannya jika saya lihat. Tetapi perusahaan mungkin memiliki rasa terpaksa, karena masih menganggap karyawan sebagai aset. Terimakasih.

      Lalu terimakasih kepada saudara ronaldo dan kepada saudara yohanes, memang benar. Saya pun tidak memungkiri. Pasti masih ada banyak di luar sana pekerja yang berbohong saat di interview. Yang bisa kita lihat ya dari first impressionnya. Apakah benar calon pekerja berniat bekerja. Lalu di saat training misalnya. Apakah dia benar-benar bisa diandalkan. Dan jika memang terbukti saat interview calon pekerja mengatakan 'bisa' sedangkan di realisasinya (saat training/pelatihan) ternyata 'tidak bisa' maka pemberi kerja bisa melihat bahwa kenyataan calon pekerja ini tidak bisa jujur dan pasti pemberi kerja akan memberikan sanksi, atau peringatan, dan atau kebijakan-kebijakan yang lainnya. Terimakasih.

      Kepada saudari elisabeth, saya kurang jelas di pertanyaan anda, maksud dari 'para karyawan itu sendiri mayoritas pelanggaran psikologis yang harus diperbaikin!'
      Maksudnya dalam konteks apa yang harus diperbaiki atau seperti apa? terimakasih.

      Hapus
  4. 1. contoh pelanggaran psikologis oleh karyawan adalah ketika pada waktu masa perekrutan karyawan tersebut berjanji untuk selalu menjunjung tinggi reputasi perusahaan tempat ia melamar bekerja, tapi pada kenyataan ketika ia telah resmi menjadi pegawai, ia justru menjelek-jelekan reputasi perusahaan tempat ia bekerja misanya mengenai pemberian gaji yang terlambat, padahal keterlambatan itu disebabkan oleh karyawan di bagian itu sedang mengalami musibah. hal lain misalnya ketika karyawan berkata bahwa ia orang yang jujur, tapi pada waktu bekerja ada beberapa barang yang ia curi dari toko tempat ia bekerja, meskipun ada alasan mengapa ia melakukan itu. solusinya karyawan harus memiliki moral dan etos kerja yang baik, jika karyawan telah melakukan segala sesuatu nya dengan baik pasti perusahaan yang baik juga akan memberikan hak dari pegawai tersebut.

    2. Contoh pelanggaran psikologis oleh pemberi kerja ialah ketika ia menjanjikan kenaikan jabatan/promosi setelah bekerja 1tahun, tapi setelah berjalan 1 tahun pegawai tersebut tak kunjung promosi. solusinya adalah, pemberi pekerja harus menunjukan etos kerja yang baik terhadap karyawannya, karena ketika pemberi kerja telah memberi janji dan karyawan telah melakukan pekerjaan semaximal mungkin tetapi pemberi kerja tidak menepatinya, secara otomatis akan mempengaruhi kinerja dan psikologs dari pegawai. akhirnya akan berdampak pada kinerja pegawai ke depan dan tidak menutup kemungkinan merembet ke pegawai lain.

    Intinya antara karyawan dan pemberi kerja keduanya harus mampu menjaga setiap komitmen yang telah disetujui untuk saling menghormati di antara keduanya. karena kontrak psikologis akan berdampak pada hubungan timbal-balik diantara keduanya. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin bertanya kepada Sdr Dian. Berkaitan dengan menjelak-jelekkan reputasi perusahaan; Apakah seorang whistle-blower yg membuka kejelekan perusahannya dapat dikatakan sebagai pelanggaran kontrak psikologis oleh karyawan thd perusahannya? Terima kasih.

      Hapus
    2. saya mau tanya kepada saudara dian, bagaimana cara mengatasinya bila ada si karyawan menjelek-jelekkan reputasi perusahaan? apakah si karyawan tersebut bisa di bilang sebagai seorang provokator? jika ya, apa yang saudara lakukan terhadap seorang provokator? apa harus di pecat langsung atau kasih sanksi saja?
      jika saudara sebagai karyawan terlambat menerima gaji, bagaimana solusi terbaiknya?

      Hapus
    3. terima kasih atas pertanyaannya kepada sdri yoshiko dan sdra jack cendra.

      @yoshiko: menurut saya tidak bisa, karena seorang whistleblower biasanya memberikan/membocorkan informasi mengenai hal-hal yang menurut karyawan tsb, perusahaan itu melakukan tindakan yang menyalahi aturan, misalnya korupsi. jadi itu tidak termasuk menjelek-jelekan perusahaan karena memang telah terjadi korupsi di perusahaan tsb.

      @jack cendra: pertama-tama kita harus harus melihat apakah permasalahan menjelekan-jelekan reputasi ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan tentu dengan syarat karyawan tsb harus bisa membersihkan/mengembalikan nama baik perusahaan, jika tidak bisa tentu saya akan menggunakan jalur hukum untuk menyelesaikannya, dan secara otomatis ia akan dikeluarkan dari perusahaan. Untuk masalah provokator atau tidak, kita harus melihat dulu permasalahaannya, apakah akan berdampak bagi karyawan lain apa tidak. dan ketika kita sudah tau masalahnya kita baru tau langkah apa yang akan kita ambil untuk menyelesaikannya.
      Jika saya sebagai karyawan, saya akan meminta baik-baik terlebih dahulu dengan memberi batas waktu, jika tidak di turuti maka saya akan menempuh jalur hukum.

      Hapus
    4. Saya setuju dengan pendapat saudara Dian pada poin pertamanya

      Ada yang ingin saya tanyakan supaya lebih meng"clear"kan pendapat saudara Dian, menurut pendapat anda

      Bagaimanakah proses penghantaran nilai dari perusahaan kepada karyawan, guna memberikan penambahan nilai etos kerja itu sendiri, di mana pendapat dan solusi yang diberikan oleh saudara Dian, yakni "solusinya karyawan harus memiliki moral dan etos kerja yang baik, jika karyawan telah melakukan segala sesuatu nya dengan baik pasti perusahaan yang baik juga akan memberikan hak dari pegawai tersebut", menurut saya sudah benar,

      Namun muncul pertanyaan di benak saya, karena pada prinsipnya karyawan tidak akan berubah dengan sendirinya tanpa ada pengaruh ataupun inisiatif yang dimulai dari perusahaan/ organisasi.

      Hapus
    5. Saya tidak setuju dengan sdr. Dian Chris pada poin pertama yang sdr contohkan, karena hal tersebut bukan merupakan pelanggaran kontrak secara psikologis tetapi sudah merupakan tindakan kriminal yang memang harus / wajib diberi sanksi oleh pihak perusahaan

      Hapus
    6. @apryanto: menurut saya caranya yaitu dengan mengikutkan karyawannya ke seminar-seminar yang memotivasi, membangun diri karyawan kearah yang baik. dan tentudalam kesehariannya petinggi perusahaan harus juga mempraktekan bagaimana moral dan etos kerja yang baik, karena biasanya seorang karyawan meniru apa yang dilakukan oleh atasan, jadi atasan harus bisa meng-influence para karyawannya baik secara langsung atau tidak langsung.

      @davina: kenapa menurut saya itu merupakan pelanggaran psikologis? itu dikarenakan di awal ketika ia direkrut ia mencamtunkan atau mengatakan bahwa ia merupakan pegawai yang jujur tapi kenyataannya berkata lain, sehingga ia telah melanggar perkataanya dan berbuat kriminal.

      terima kasih

      Hapus
  5. Kontrak psikologis adalah suatu kumpulan harapan-harapan tidak tertulis yang ada dalam diri setiap individu dalam organisasi (tanpa memandang hirarki jabatan) yang selalu ada sepanjang individu tersebut ada dalam organisasi tersebut. Pelanggaran kontrak psikologis dapat saja terjadi ketika salah satu pihak telah gagal dalam memenuhi kewajibannya maka akan terjadi pelanggaran kontrak psikologis. Pada karyawan misalnya prestasi kerja nya menjadi rendah, kepuasan kerja rendah, hingga keputusan untuk keluar dari perusahaan lebih tinggi, penurunan kinerja terhadap perusahaan sehingga membuat produktivitas dari perusahaan tersebut menurun. Cara mengatasinya ialah menciptakan hubungan yang baik didalam organisasi, dan karyawan harus berprilaku profesional dalam pekerjaannya.
    Pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja dapat dirasakan oleh karyawan apabila karyawan tidak menerima balas jasa yang sesuai dengan yang dijanjikan oleh organisasi. Keadaan tidak sesuai dapat berupa kurangnya balas jasa yang dijanjikan atau karyawan menerima lebih dari yang dijanjikan seperti pemberian gaji (salary), penerimaan bonus, keseluruhan tunjangan, tunjangan kesehatan dan penerimaan pensiun atas hasil dari kinerjanya. Cara mengatasinya adalah menciptakan hubungan yang baik antara karyawan didalam suatu organisasi agar masalah-masalah dalam organisasi tidak terjadi, selain itu seorang atasan harus mengerti mana yang menjadi haknya dan mana yang harus diberikan oleh karyawan.
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kurang setuju terhadap solusi dr contoh pertama yang diberikan oleh saudara Allan bahwa karyawan harus berprilaku profesional dalam pekerjaannya. Saya ingin berpendapat bahwa, hal tersebut bukan merupakan solusi karena masalah profesional karyawan itu memang kewajiban yang harus dilakukan oleh karyawan. Pasti ada beberapa alasan mengapa profesional karyawan itu menurun, dan organisasi juga harus mencari tahu mengapa itu terjadi, karena bisa saja alasannya berasal dari perusahaan, dan jika organisasi masih "membutuhkan" karyawan tersebut, organisasi harus berupaya untuk meningkatkan profesionalitas/ kinerja karyawan itu kembali. Terima kasih.

      Hapus
    2. Sdra.Alan mengatakan bahwa karyawan menerima lebih dari yg dijanjikan adalah suatu bentuk pelanggaran. Jika menurut organisasi kelebihan itu pantas diterima bagi karyawan yg memang kontribusi bekerjanya lebih dan selayaknya mendapatkan kelebihan tersebut, mengapa dianggap menjadi suatu pelanggaran. Karyawan yg demikian tidak menyangka bahwa kerjanya diapresiasi lebih oleh organisasi dan ini akan menjadi motivasinya dalam bekerja.

      Hapus
    3. saya kurang setuju dengan sdr tentang solusi yang pertama bagaimana kalau karyawan tersebut sudah baik tetapi organisasi tersebut yang menimbulkan masalah bukan kah karyawan yang bekerja didalamnya akan berfikir bahwa kinerja nya terhadap organisasi tersebut hanya kesia-siaan karena tidak dihargai oleh organisasi tersebut.bukan kah yang harus dibenahi adalah kedua-duanya agar menjadi suatu yang bersinergis satu dengan yang lain.

      Hapus
  6. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah ketika pada awal-awal bekerja, pekerja tersebut akan melakukan/mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki sehinga memiliki produktivitas yang tinggi dan dapat membantu mengembangkan perusahaan/organisasi dan ia pun berjanji akan setia/loyal pada perusahaan. Namun, pada kenyataannya setelah beberapa bulan bekerja, produktivitas pekerja itu menurun dan ia pun mulai mencari pekerjaan diperusahaan lainnya. Solusinya adalah perusahaan haruselakukan pedekatan atau menelusuri sebab-sebab yang membuat produktivitas pekerja tsb menurun dan hal apa saja yang membuat dia tidak nyaman lagi sehingga rasa loyalitas pada perusahaan juga menurun. Hal ini bisa saja terjadi apabila harapan/ekspektasi yang ada didlm pikiran pekerja sudah tidak sesuai lagi dngn yang terjadi pada kenyataannya.

    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah pada saat wawancara rekrutmen, pemberi kerja memberikan janji apabila akan membimbing pekerja sehingga dapat bekerja dengan baik. Namun pada kenyataamnya, pemberi kerja hanya membimbing pekerja hanya dlm wktu yang singkat dan memberikan informasi yang tidak jelas ttg pekerjaan yang akan diisi oleh pekerja baru tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin bertanya pada Saudara Adi, Apa poin 1 dan poin 2 termasuk dalam kontrak psikologis? Karena saya bingung dengan maksud saudara

      Terima Kasih.

      Hapus
    2. Mengapa Natalia bingung dengan pernyataan Adi? Mohon dijelaskan dasar kebingungan itu. Terima Kasih

      Hapus
    3. Terima Kasih atas tanggapan dari Pak Runtu.

      Saya bingung untuk poin pertama. Pernyataan Saudara Adi, Produktivitas pekerja itu menurun dan ia pun mulai mencari pekerjaan diperusahaan lainnya. Solusinya adalah perusahaan haruselakukan pedekatan atau menelusuri sebab-sebab yang membuat produktivitas pekerja tsb menurun dan hal apa saja yang membuat dia tidak nyaman lagi sehingga rasa loyalitas pada perusahaan juga menurun. Hal ini bisa saja terjadi apabila harapan/ekspektasi yang ada didlm pikiran pekerja sudah tidak sesuai lagi dngn yang terjadi pada kenyataannya. Maksudnya produktivitas menurun dan pekerja mencari pekerjaan lain dan perusahaan melakukan pendekatan kepada karyawan tersebut, juga harapan/ekspektasi apa yang ada didlm pikiran pekerja sudah tidak sesuai lagi dngn yang terjadi pada kenyataannya?

      Poin yang kedua, memberikan janji apabila akan membimbing pekerja sehingga dapat bekerja dengan baik. Apakah janji yang diberikan pemberi kerja pada waktu wawancara untuk membimbing dalam jangka pendek atau jangka panjang?

      Terima Kasih.

      Hapus
    4. Saya ingin menanggapi pertanyaan saudari Natalia. Untuk pertanyaan yang pertama. Menurunnya produktivitas pekerja bisa disebabkan oleh banyak hal, saya ambil contoh pekerja bisa saja tidak nyaman dengan lingkungan kerjanya dan perlakuan perusahaan tidak sesuai dengan harapan pekerja sehingga pekerja pun berpikiran untuk mencari perusahaan lain yang sesuai dengan apa yang pekerja harapkan sehingga pekerja bisa lebih produktif.
      Untuk pertanyaan kedua. Memang tidak disebutkan akan membimbing dlm jangka wktu brp lama, krna setiap pekerja tentunya memiliki kemampuan yg berbeda" sehingga apabila manajer hanya memberikan sedikit bimbingan terhadap semua pekerja baru maka akan melanggar kontrak psikologis.

      Hapus
    5. Saya kurang mengerti yang Saudara Adi maksudkan "sehingga apabila manajer hanya memberikan sedikit bimbingan terhadap semua pekerja baru maka akan melanggar kontrak psikologis."

      Terima Kasih.

      Hapus
    6. Saya sangat setuju dengan pendapat Saudara Adi tentang karyawan yang hanya berkomitmen pada awal-awal dia bekerja saja,menurut saya itu merupakan pelanggaran kontrak psikologis yang berarti karyawan tersebut termasuk orang yang mudah bosan dan tidak loyal.Menurut saya sebaiknya perusahaan berusaha mempertahankan karyawan yang berprospek dapat menguntungkan bagi perusahaan di masa mendatang dengan cara memberikan reward bagi kinerja karyawan yang baik atau memberikan promosi jabatan.

      Hapus
  7. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja: seperti yang kita ketahui bahwa kontrak psikologis ini berkaitan dengan 'pekerja memberikan apa yang terbaik bagi organisasi', maka ketika pekerja itu masuk dalam organisasi tersebut seharusnya memberikan 100% apa yang terbaik dari dirinya (ada komitmen yang dijaga). Misalnya, pekerja lama kelamaan kurang berkontribusi dalam organisasi tersebut. Hal ini ditandai dengan kinerja menurun, bersikap acuh tak acuh, yang penting hanya menyelesaikan tugasnya, tidak membangun hubungan relasi yang baik dengan pimpinan dan sesama pekerja. Disini terlihat jelas bahwa pekerja tidak memberikan apa yang terbaik bagi organisasi tersebut. Solusinya adalah masing-masing pekerja harus memegang dan memenuhi komitmen dan kesepakatan yang dibuat sejak awal. Selain itu, pihak organisasi juga harus terus memantau setiap perkembangan yang terjadi.
    Contoh pelanggaran kontrka psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja: hal ini berkaitan dengan 'organisasi memberikan apa yang terbaik bagi pekerja'. Misalnya, organisasi melupakan tanggung jawab nya dalam prosedur yang telah disepakati bersama sebelumnya, hal ini seperti organisasi tidak memberikan fasilitas kepada pekerja yang dapat menunjang karirnya, organisasi memperlakukan pekerja sebagai 'sarana belaka'. Solusinya adalah pihak organisasi harus menjaga dan memenuhi komitmen yang telah disepakati bersama serta menyadari bahwa antara pekerja dan organisasi memiliki keterkaitan antar satu sama lain demi mencapai tujuan yang diharapkan.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan saudara sicillia , bahwa pada dasarnya kontrak psikologis harus dijaga antara karyawan dan organisasi . Dan saya mau bertanya jika sebuah organisasi sudah istilahnya melaksanakan kontrak psikologis itu dengan baik dan sesuain, apakah mungkin masih ada karyawan yang melanggar kontrak psikologis itu ?terima kasih

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat saudari sicilia bahwa kontrak psikologis yang dijalin antara pemberi kerja dan pekerja harus dijaga dengan baik. Kedua belah pihak harus melaksanakan kewajiban masing-masing agar pelanggaran kontrak psikologis tidak terjadi dan tidak ada pihak yang dirugikan serta dapat bersama-sama mencapai tujuan dan target dari organisasi tersebut. Terima kasih

      Hapus
    3. Terima kasih atas tanggapannya, saya akan menjawab pertanyaan dari Saudari Ferdiana, menurut saya jika organisasi telah melaksanakan kontrak psikologis itu dengan baik, ada 2 kemungkinan: yang pertama pekerja tidak akan melanggar kontrak psikologis, karena pekerja merasa puas akan hal yang terbaik yang diberikan organisasi baginya. Oleh karena itu pekerja juga akan memberikan yang terbaik untuk organisasi. Atau kemungkinan kedua yaitu masih ada pekerja yang tetap melanggar walaupun organisasi sudah memberikan yang terbaik. Hal ini bisa dipicu dari faktor internal atau eksternal. Jadi kesimpulannya tergantung dari masing-masing pekerja, apakah ia mau memberikan yang terbaik untuk organisasinya. Karena misalnya kesalahan seperti datang terlambat saja itu sudah merupakan pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja, dan itu berarti pekerja belum bisa memberikan yang terbaik bagi organisasi.

      Untuk Saudari Ayu, terima kasih atas tanggapannya :)

      Hapus
    4. Saya setuju dengan pernyataan saudari sicilia bahwa ketika pekerja itu masuk dalam organisasi tersebut seharusnya memberikan apa yang terbaik dari dirinya (ada komitmen yang dijaga) dan masing-masing pekerja harus memegang dan memenuhi komitmen dan kesepakatan yang dibuat sejak awal. Selain itu, pihak organisasi juga harus terus memantau setiap perkembangan yang terjadi. Dengan demikian tujuan dalam organisasi tercapai.

      Hapus
    5. Saya setuji dengan pendapat saudara sicilia bahwa harus adanya komitmen diantara kedua belah pihak yaitu dari pihak pemberi kerja dengan karyawan agar apa yang sudah mereka janjikan dari pihak pemberi kerja dan juga karyawan dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yg sudah mereka janjinya.dengan adanya suatu komitmen pada kedua belah pihak,maka akan mengurangi tingkat pelanggaran psikologis.terima kasih

      Hapus
  8. Menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEKERJA adalah: apabila seorang pekerja tidak bekerja dengan baik, tidak memberikan kontribusi untuk perusahaan atau organisasi, tidak loyal dan tidak berperilaku baik ( seperti membongkar rahasia dan informasi penting perusahaan atau organisasi, tidak jujur berurusan dengan sumber daya dan anggaran. Apabila pelanggaran yang dilakukan tidak terlalu berat bisa diatasi dengan memberikan teguran dan peringatan langsung kepada pekerja, sedangkan apabila pelanggaran yang dilakukan pekerja melebihi batas maka harus dilimpahkan kepada pihak yang berwajib.
    Sedangkan contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEMBERI KERJA seperti : tidak memberikan upah, tidak menghargai hak-hak dari pekerja, tidak ada peningkatan kesejahteraan. Cara mengatasinya yaitu dengan mengatur sistem perusahaan atau organisasi dengan lebih baik lagi dan tetap berlaku seadil-adilnya seperti pada perjanjian awal yang telah disepakati bersama. Karena apabila pemberi kerja melanggar kontrak maka akan berdampak negatif terhadap kepuasan pekerja dan juga berdampak negatif bagi perusahan atau organisasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kurang setuju dengan pernyataan saudari Desy pada poin kedua tentang tidak memberikan upah. Menurut saya jika perusahaan tidak memberikan upah, artinya Perusahaan sdh melakukan pelanggaran kontrak kerja tertulis, bukan lagi hanya pelanggaran kontrak pskologis. Karena harusnya kontrak penandatangan kesepakatan gaji sudah dilakukan diawal ketika pemberi kerja dan pekerja melakukan kesepakatan kerja. Untuk selebihnya saya setuju dengan pendapat saudari Desy. Terima kasih.

      Hapus
    2. saya setuju dengan contoh dan pendapat saudari Desy pada pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja. Namun untuk contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pemberi kerja yang tidak memberi upah, menurut saya itu bukan lagi pelanggaran psikologis dan melanggar perjanjian saat awal pekerja tersebut diterima di perusahaan tersebut dan hal itu dapat dilimpahkan kepada pihak yang berwajib pula sama halnya dengan pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja seperti contoh yang saudari tulis diatas. Terima kasih

      Hapus
    3. saya setuju dengan pendapat sodara Desy pada poin pertama yang mencerminkan atasan yang baik tetapi pada poin ke dua solusi yang saya berikan lebih baik anda berbicara lebih dahulu kepada atasan dan bila dari atasan tidak memberikan jawaban maka yang harus di lakukan adalah melapor ke pihak yang berwajib...trimakasih

      Hapus
  9. Kontrak psikologis adalah suatu kumpulan harapan-harapan tidak tertulis yang ada dalam diri setiap individu dalam organisasi. Kunci dari kontrak psikologis adalah mutualitas diantara individu dengan individu, maupun individu dengan organisasi, mutualitas ini muncul dan hanya terjadi jika masing-masing dari pihak yang berkepentingan memiliki tujuan yang ingin dicapainya dan mereka yakin bisa mencapainya, dan untuk menyeimbangkan kontrak psikologis tersebut kedua belah pihak yang berkepentingan harus merasa bahwa mutualitas ini akan menghasilkan sesuatu yang bernilai .
    1. Contoh: saat dimana perusahaan memberikan kebebasan kepada pekerjanya(salesman), tetapi dengan hasil yang maksimal. Nyata nya dengan kesempatan tersebut disalahgunakan oleh banyak pekerja untuk melakukan hal lain yang tidak ada sangkutannya dg job desc. Mereka masing-masing.
    Untuk masalah diatas sebaiknya perusahaan merekrut serta menyeleksi karyawan yang mempunyai niat kerja tinggi. Dan sebagai tambahan, perusahaan juga menetapkan target penjualan untuk tiap pekerjanya, sehingga para pekerja dapat bekerja dengan bebas tetapi tetap mementingkan tujuan organisasi.
    2. Contoh: ketika pemberi kerja telah menetapkan aturan/kebijakan seperti diberikannya cuti kehamilan selama 3 bulan(60 hari sebelum dan 60 hari sesudah) untuk pekerja wanita yang sedang mengandung, tetapi pada saat itu perusahaan tidak memberikan cuti pada pekerja wanita tersebut.
    Dengan adanya UU yang mengatur tentang K3 untuk karyawan, maka bagi pekerja wanita yang mengalami hal tersebut dapat melaporkan tindakan perusahaan karena tidak sesuai pada perjanjian yang telah disepakati oleh kedua pihak dan UU yang mengatur hal tsb.

    Ketika kedua pihak tersebut melaksanakan kewajibanya dengan baik, maka hal ini dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis antara organisasi dan pekerjanya. Dan apabila hal ini terjadi, akan dapat memotivasi pekerja tersebut untuk melakukanya kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin menyoroti apa yang Saudara Yosua jadikan contoh 1. yaitu "perusahaan juga menetapkan target penjualan untuk tiap pekerjanya" yang saya ingin tanyakan adalah apakah target penjualan yang ditetapkan tersebut semua sama pada tiap-tiap karyawan? mengingat apabila semua target adalah sama, dan kemampuan tiap-tiap karyawan adalah berbeda.
      sedangkan apabila menetapkan target yang berbeda pada tiap karyawan, tidakkah akan menimbulkan munculnya rasa ketidakadilan?

      dengan adanya masalah seperti ini dapatkah organisasi (perusahaan) dan karyawan menjalin kontrak psikologis yang baik?

      terimakasih~

      Hapus
    2. Saya ingin menanggapi tentang solusi dari contoh pertama, pelamar pekerjaan biasanya memang memiliki niat kerja yang tinggi pada awalnya, namun penyeleksi masih belum tahu kinerja sesungguhnya dari pelamar tersebut, bagaimana jika pelamar yang telah diterima untuk dijadikan karyawan niat terhadap kerjanya turun/ tidak baik? Terima kasih.

      Hapus
    3. Terima kasih atas pertanyaan yang saudari berikan.
      Untuk masalah target penjualan seringkali perusahaan tidak membeda-bedakan terkecuali ada hal tertentu. Tetapi apabila kemampuan pekerja tsb tidak sanggup melampaui target yang ditetapkan perusahaan maka pekerja tsb yang harus mengevaluasi dirinya sendiri dan berusaha bekerja lebih giat(internal), bisa juga perusahaan memberikan pelatihan pada pekerja tsb(eksternal).
      masalah niat kerja seseorang dapat diketahui saat penyeleksian pekerja. karena dalam penyeleksian terdapat beberapa tes spti: tes intelektual, psikologis, fisik, dll. Dari situ dapat diketahui seberapa tingkat niat kerja orang tsb. meskipun tidak 100% benar. Lagi pula saat ini perusahaan-perusahaan sering tidak langsung menerima pekerja dan menjadikannya sebagai pegawai tetap melainkan memberikan kontrak kerja selama 3 bulan di awal. Apabila pada pekerja tsb. berkontribusi dengan baik dan tetap produktif maka perusahaan akan memperpanjang kontrak tsb / bahkan menjadikannya sebagai pegawai tetap. Tetapi jika sebaliknya maka pekerja tsb akan dikeluarkan karena masa kerjanya telah habis.

      Hapus
  10. 1. Menurut saya karena kontrak psikologis ini bersifat abstrak jadi pelanggaran yang mungkin dilakukan seperti menurunnya produktivitas para pekerja dan sudah tidak sama lagi dengan komitmen para pekerja ketika awal mereka bekerja di perusahaan tersebut, saran yang bisa saya berikan yaitu dengan pendekatan secara psikologis juga jadi seperti sesekali harus ada kegiatan bersama antara pemilik perusahaan dengan pegawai, adanya kegiatan diluar perusahaan yang sifatnya bukan masalah pekerjaan seperti camping, jalan-jalan dsb. Sebagai perusahaan juga harus mampu membuat pegawai tetap betah ketika bekerja, uang bukan masalah utama ketika seorang karyawan tidak memiliki kenyamanan dalam bekerja.
    2. Pelanggaran psikologis dari sisi pemberi pekerjaan mungkin juga seperti menurunnya dukungan dari perusahaan tersebut jadi mungkin seperti fasilitas dan dukungan moral yang dahulu diterima dan mampu mendukung para pekerja sudah tidak sama lagi seperti dahulu dan mungkin sudah hilang, hal ini mampu menurunkan hasrat para pekerja untuk bisa bekerja lebih maksimal. Jalan keluar yang mungkin dilakukan adalah dengan selalu adanya kegiatan evaluasi pada pemberi kerja dengan para pekerja tentanga penurunan dan peningkatan yang terjadi, ketika pemberi kerja menyadari penurunannya, mereka harus mau berubah atau meningkatnya lagi jika ingin produktivitas pekerja meningkat lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat sodara ivan. evaluasi pekerjaan sangatlah penting dalam suatu organisasi. hal ini bisa menjadi wadah koreksi antara pemberi kerja dan pekerja. dengan begitu, pemberi kerja maupun pekerja dapat mengetahui dimana kekurangan masing - masing dan kemudian berakhir pada peningkatan kualitas kinerja. terima kasih.

      Hapus
    2. saya setuju dengan saudara ivan untuk poin pertama karena tidak semua karyawan yang semakin lama bekerja semakin naik produktivitasnya, beberapa karyawan ada yang menurun dikarenakan banyak faktor seperti stres di tempat kerja karena pekerjaan menumpuk, masalah pribadi karyawan dll.

      saya juga setuju dengan saudara ivan tentang penurunan dukungan untuk pekerja karena karyawan yang tidak diperhatikan di tempat kerja akan tidak produktif, karyawan akan malas bekerja dan pekerjaannya bisa tidak teratur. karyawan butuh diperhatikan sehingga mereka bisa bekerja dengan baik.

      Terima kasih

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat Saudara Ivan tentang solusi atau saran mencegah pelanggaran kontrak yang disebabkan pekerja yaitu dengan pendekatan secara psikologis. Ini merupakan hal yang harus diperhatikan perusahaan dalam memperhatikan karyawan atau pekerja nya. Sebagai perusahaan juga harus mampu membuat pekerja atau karyawan tetap betah ketika bekerja. Perusahaan harus tau itu karena itu penting. Evaluasi harus dilakukan untuk mengantisipasi pelanggaran itu tidak terulang kembali.

      Hapus
    4. saya setuju dengan pendapat ivan tentang poin kedua, bisa saja itu memicu pelanggaran karyawan yaitu fasilitas dan dukungan moral yang dahulu diterima dan mampu mendukung para pekerja sudah tidak sama lagi seperti dahulu dan mungkin sudah hilang hal ini dapat menurunkan kinerja karyawan karena mungkin yang dulunya ada banyak fasilitas yang perusahaan berikan tetapi tiba-tiba fasilitas itu mulai hilang. maka dari itu perlu adanya evaluasi dalam perusahaan tersebut gunanya untuk mengetahui kekurangan yang ada dalam kinerja karyawan dan dapat tetap memberikan hasil yang maksimal.

      Hapus
    5. saya ingin menambahi jawaban dari saudara ivan yang poin pertama. kontrak psikologis tidak dapat dikatakan abstrak karena setiap kontrak yang diajukan bisa saja tertulis, dan hal yang tertulis pasti jelas. untuk itu hal-hal /kesalahan yang tidak sesuai oleh perjanjian pekerja, maka pekerja berhak untuk mendapatkan sanksi yang telah tertulis di perjanjian. lalu solusi yang diajukan selain yang dikatakan saudara ivan dapat pula pengusaha memberi motivasi dengan memberikan bonus ataupun jaminan-jaminan lebih kepada karyawan tersebut sehingga pekerja dapat lebih memikirkan lagi jika pekerja mulai tidak sesuai dengan cara bekerja yang dijanjikan sebelumnya. terimakasih

      Hapus
    6. saya sedikit tidak mengerti dengan pernyataan saudara ivan yang menyatakan bahwa kontrak psikologis bersifat abstrak. jika menurut saya hal tersebut tidak jelas. tetapi saya setuju dengan saran yang ssaudara ivan berikan dengan adanya pendekatan pada para pekerja supaya tetap betah dalam melakukan pekerjaan nya. terima kasih

      Hapus
    7. saya setuju dengan pendapat saudara Ivan bahwa para pekerja akan cenderung bersemangat di awal mereka bekerja, namun setelah mereka sudah lama bekerja sebagian besar mereka akan mengalami penurunan produktivitas,dimana tidak akan sama seperti komitmen mereka di awal.Dan saya setuju dengan solusi tersebut, bahwa pemilik perusahaan harus melakukan pendekatan terhadap bawahan mereka agar terjalin hubungan yang baik antara atasan dan bawahan.Misalnya bisa keluar makan bersama,olahraga bersama,arisan bersama, dll. hal ini bisa menciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi atasan dan bawahan.
      dan juga perlu adanya evaluasi antara atasan dan bawahan sehingga kinerja dalam perusahaan dapat berjalan dengan lancar

      Hapus
  11. Pelanggaran kontak psikologis yang di lakukan oleh pekerja menurut saya adalah pada saat pekerja/karyawan tidak dapat memenuhi janji-janjinya khususnya pada saat perekrutan di bidang wawancara, seperti memberikan kinerjanya dengan maksimal sehingga dampaknya juga akan berpengaruh kepada perusahaan/organisasi. Hal ini terkadang bisa terjadi apabila minat bekerja seorang karyawan menurun, faktor-faktor menurunnya kinerja dari karyawan pun bisa berdasarkan berbagai hal misalnya perlakuan organisasi/ perusahaan terhadap karyawan seperti kurangnya perhatian kepada karyawan dan faktor lain juga yang menurut saya paling berdampak sekali pada turunnya kinerja karyawan adalah ketidaksesuain budaya perusahaan dengan karyawan tersebut. Menurut saya cara untuk menanggulangi hal seperti ini adalah organisasi/perusahaan mencari tahu apa yang membuat kinerja karyawannya menurun dan setidaknya memberikan karyawan semangat bekerja seperti setahun sekali wisata bersama atau alangkah baiknya menanyakan karyawan apa yang di inginkan.

    Pelanggaran kontrak psikologis yang di lakukan pemberi pekerja adalah dimana pada saat karyawan memberikan apa yang di inginkan perusahaan sebaliknya perusahaan tidak memberikan apa yang karyawan harapkan. Misalnya perusahaan/organisasi menjanjikan akan memberikan bonus/kompensasi kepada karyawannya yang memberikan kinerja yang baik, tetapi pada saat hal itu terjadi dari pihak organisasi/perusahaan tidak dapat memberikan bonus/kompensasi sesuai yang di janjikan, contohnya seperti sales mobil, sales ini sudah di janjikan akan di berikan bonus jika penjualannya melebihi 2M sedangkan standarnya hanya 1M, maka pada saat sales tersebut dapat menjual mobil mencapai 2M, sebaliknya perusahaan tidak dapat memberikan bonus yang sudah di janjikan tersebut. Menurut saya sebaiknya perusahaan/organisasi dapat mengetahui apa yang telah di janjikan kepada karyawan karena karyawan menurut saya tidak cuma memiliki 1sifat sehingga sangat berbahaya kepada perushaan yang yang tidak dapat menepati janjinya kepada karyawan karena bisa membuat karyawan tidak betah bekerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan solusi yang diberikan saudara Haldiawan pada pertanyaan no.1
      Kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja, sama halnya dengan pekerja 'bersalah' pada organiasasi, karena pekerja tidak menepati janji-janjinya.
      Tetapi mengapa anda malah menganjurkan organisasi untuk menuruti keinginan karyawan tersebut? bukankah dgn solusi seperti ini akan membuat karyawan bertindak seenaknya sendiri? coba berikan penjelasan!

      Hapus
    2. Terima kasih kepada saudara Yosua Prawiro atas pertanyaannya. Disini saya lebih menjelaskan lagi bahwa dimana janji karyawan dengan memberikan kinerja yang tinggi kepada perusahaan/organisasi juga berhubungan dengan organisasi itu sendiri saya misalkan seperti komentar saya sebelumnya adalah budaya organisasi itu sendiri. Kita sebagai karyawan bisa berjanji akan memberikan kinerja yang maksimal kepada perusahaan, tetapi apakah perusahaan bisa menjamin betah atau tidaknya karyawan di perusahaan tersebut?
      Mungkin saudara Yosua bisa berpendapat bahwa pelanggaran kontrak psikologis yang di lakukan pekerja adalah kesalahan dari pekerja itu sendiri, tetapi kita juga harus melihat sisi lainnya, mengapa pekerja tersebut melakukan kesalahan, pasti ada hal yang membuat karyawan tersebut sulit untuk menepati janji-janjinya, saya ambil contoh gampangnya saja, anda seorang mahasiswa jika sudah berniat dari awal mau mengikuti kelas dengan serius tetapi pada saat pelajaran berlangsung kelas anda mahasiswanya ribut atau melakukan hal yang dapat merusak konsentrasi anda sehingga anda tidak mengerti apa yang dosen jelaskan. Nah dari hal tersebut sama halnya dengan karyawan. Menurut saya tidak ada karyawan yang ingin melakukan kesalahan, tidak ada karyawan yang tidak menginginkan nilai yang maksimal, yang ada hanya dukungan dari lingkungan itu sendiri.
      Dari solusi ini sebenarnya tidak membuat karyawan seenaknya sendiri tetapi membuat karyawan itu sendiri betah dan semangat agar dapat memberikan kinerja yang tinggi. Jika perusahaan ingin karyawannya memberikan hasil yang baik bagi perusahaan, mengapa perusahaan sendiri tidak memberikan hal-hal yang sebagai mana mestinya didapatkan oleh seorang karyawan.
      Apakah anda yang mempunyai perusahaan ingin selalu mengganti karyawannya? Karena menurut saya karyawan itu adalah asset perusahaan dimana kita sudah banyak mengeluarkan biaya untuk karyawan tersebut mulai dari perekrutan sampe pelatihan.

      Kiranya penjelasan saya dapat saudara Yosua pahami.
      Terima kasih.

      Hapus
  12. Kontrak Psikologis merupakan harapan tidak tertulis bahwa tenaga kerja dan pemberi kerja memppunyai sifat alamiah dari hubungan kerja mereka, antara lain kontrak psikologis adalah janji yang tidak tertulis antara tenaga kerja kepada pemberi kerja dan juga sebaliknya, dikarenakan hal ini abstrak atau tidak tertulis, maka sering terjadi pelanggaran dalam kontrak psikologis ini.
    yang pertama contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja kepada pemberi kerja adalah pelanggaran janji yang tidak tertulis di kontrak kerja mereka, contohnya saja sewaktu penerimaan kerja si tenaga kerja sudah bersumpah setia kepada perusahaan namun tidak ad bukti tertulis tentang apa yang telah dikemukakan orang tersebut, akhirnya si pekerja tersebut lebih memilih untuk menjual perusahaan (dalam hal ini yang dimaksud menjual informasi) kepada perusahaan pesaing, jadi secara tidak langsung si pekerja bekerja sebagai mata-mata perusahaan lain, dia tidak bisa disalahkan karena tidak ada bukti tertulis dan kontrak, dia hanya berjanji setia kepada perusahaan, dan tidak menyinggung jika ada perusahaan yang menawarkan jumlah uang lebih dia akan menolak, hal itu tidak menyimpang kepada pekerjaanya, namun menyimpang pada sisi etika yang dimiliki oleh si pekerja tersebut,karena si pekerja tersebut tidak loyal dan tidak beretika dalam berbisnis atau bekerja.Solusinya adalah perusahaan harus lebih ketat lagi dalam pengawasan para pekerjanya, pekerja seperti itu tidak layak dipertahankan walaupun kinerjanya sangat bagus.
    contoh yang kedua mengenai pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja kepada pekerja adalah janji yang dilanggar/atau janji yang dikemukakan hanya untuk menyenangkan pekerja sesaat, saya akan memberi contoh yang benar benar terjadi kepada salah satu rekan kerja dari mama saya, orang tersebut berkata pada temannya dan saya mendengar bahwa sebenarnya waktu interview jam pulang yang ditentukan adalah jam 5 , jika lembur paling lambat sampai jam 6 atau jam 7, namun kenyataanya setelah bekerja pada perusahaan tersebut bukanya gaji lebih besar dan banyak tunjangan, tapi malah orang tersebut setiap hari lembur sampai jam 11, dan bahkan kepala gudang disana harus bekerja sampai jam 2/3 pagi dan masuk kerja kembali pukul 8, hal ini tentu menjadi kontrak psikologis yang sangat menjadi beban pada pekerja, hal itu menyinggung sis etika sang pemberi kerja,seharusnya pemberi kerja dapat menepati janjinya, solusinya adalah jika memang lembur harus diberi uang lembur selayaknya dan menepati janjinya jika lembur hanya sampai jam 6 atau 7, memperkerjakan seseorang sampai dini hari bukanlah hal yang pantas.

    BalasHapus
  13. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis oleh pekerja menurut saya adalah jika seorang karyawan kantor menggunakan telepon kantor untuk menghubungi kolega-koleganya hanya sekedar berbincang saat jam kerja, sehingga tagihan telepon kantor membengkak. Kondisi di kantor tersebut belum ada peraturan yang mengatur penggunaan telepon oleh karyawan. Masukan saya untuk mengatasinya adalah dengan cara membuat ketentuan yang jelas soal penggunaan telepon kantor sehingga kedepannya tidak terjadi kesalahan penggunaan lagi. Bila masih ada yang melanggar maka dapat diberi sanksi.

    2. Sedangkan yang dilakukan oleh pemberi kerja menurut saya contohnya seperti jika pemilik perusahaan menyuruh karyawannya untuk sering kerja lembur, tapi tidak ada reward apapun yang diberikan kepada mereka. Masukan saya, perusahaan hendaknya berlaku adil terhadap kinerja karyawannya. Mereka sudah bekerja lebih keras maka sewajarnya diberi reward. Perusahaan hendaknya membuat ketentuan tambahan untuk kerja ekstra yang dilakukan karyawannya.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat saudari Natania, dan ingin menambahkan untuk kasus pelanggaran kontrak psikologis oleh karyawan tersebut dapat merugikan perusahaan, sehingga ada baiknya sebelum pelanggaran tersebut terjadi, kedua pihak (perusahaan dan karyawan) membuat ketentuan yang jelas. atau dapat juga menggunakan monitor yang dapat mencatat nomor keluar, dan nantinya disesuaikan oleh catatan karyawan yang menggunakan telepon kantor, agar tidak sampai terjadi pelanggaran tersebut.

      dan juga untuk poin ke 2 saya juga setuju yaitu untuk membuat kesepakatan perihal kerja lembur, hal ini juga dapat menghindarkan pelanggaran kontrak psikologis oleh pemberi kerja, sehingga tidak sampai membuat karyawan menjadi antipati terhadap perusahaan.

      terimakasih~

      Hapus
    2. Pada poin pertama saya kurang setuju, sebab pada saat karyawan tersebut diterima dalam perekrutan, selain karyawan di beri penjelasan mengenai visi dan misi perusahaan, karyawan tersebut juga diberi aturan-aturan yang berlaku dalam perusahaan (seperti : pemakaian telepon)
      Pada poin kedua, saya setuju dengan pendapat Anda. Untuk itulah dibutuhkan timbal balik antara kinerja karyawan dengan hasil yang didapatkan karyawan.
      Terima Kasih

      Hapus
    3. Saya setuju dengan penjelasan Natania tentang pelanggaran yang dilakukan pemberi kerja kepada pekerja atau karyawan yaitu pemberi kerja terlalu mengeksploitasi pekerja dan menyuruh pekerja tersebut tetap bekerja di luar jam kerja. Seharusnya pemberi kerja tidak boleh bersikap seperti itu. Pekerja juga manusia, juga butuh istirahat.

      Hapus
  14. Menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja adalah karyawan yang melamar pada suatu perusahaan dan mengisi lowongan yang diminta dan mengaku memiliki pengalaman pada bidang tersebut, tetapi kenyataannya Ia tidak memiliki pengalaman pada bidang itu. Solusinya setiap karyawan yang diterima bekerja sebaiknya diberikan masa percobaan selama 2 sampai 3 bulan.
    Yang kedua pelanggaran kontrak yang dilakukan pemberi kerja adalah perusahaan menunggak pembayaran gaji dan upah lembur karyawan selama berbulan-bulan. Solusinya perusahaan harus tetap komitmen pada perjanjian awal yang telah disepakati dan tetap membayar gaji dan upah tepat waktu sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat, karena hal tersebut merupakan hak karyawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sodari ermelinda, maaf saya agak bingung dengan penjelasan anda. apakah benar contoh pelanggaran kontrak psikologis karyawan ialah mengaku memiliki kemampuan terhadap suatu bidang? bukankah kontrak psikologis itu berkaitan dengan kepuasan kerja karyawan? saya mohon tanggapannya. terima kasih.

      Hapus
    2. Terima kasih atas tanggapan saudari Mellisa maksud saya diatas adalah karyawan yang melamar dan ingin mengisi lowongan tersebut tetapi dia belum berpengalaman dalam bidang itu. Anggapannya karyawan memberitahu bahwa Ia bisa melakukan pekerjaan dengan baik yang membuat perusahaan menaruh harapan terhadap dirinya tapi nyatanya setelah bekerja hasil kerja karyawan belum sesuai dengan apa yang diminta perusahaan.

      Hapus
  15. 1. Ketidak sesuaian dengan apa diharapkan perusahaan terhadap karyawannya. Karyawan tidak mampu mengerjakan tugas dari perusahaan, karena tidak sesuai dengan kemampuannya.
    2. Karyawan tidak memenuhi harapan perusahaan. karyawan selalu menuntut lebih dari perusahaan. Sedangkan pada perusahaan, perusahaan selalu memberikan jam kerja melebihi ketentuan yang ditetapkan dengan tidak meberi gaji pada karyawannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. maaf saya ingin bertanya kepada saudara herman untuk pernyataan anda pada no1. contohnya seperti apa? karena bagi saya jawaban tersebut belum mengarah pada contoh dari pelanggaran kontrak psikologis. karena jawaban tersebut lebih mengarah pada definisi dari pelanggaran kontrak psikologis bukan contoh dari pelanggaran kontrak psikologis

      untuk jawaban yang nomor 2 . saya ingin menanggapi pernyataan saudara mengenai kryawan selalu menuntut lebih dari perusahaan? apa yang anda maksud tentang pernyataan tersebut. terimakasih

      Hapus
  16. Menurut saya pelanggaran kontrak psikologis karyawan adalah ketika ia berkomitmen untuk memberikan yang tetbaik bagi perusahaannya dengan beketja sebaik mungkin dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi perusahaan namun hal tersebut lambat laun menjadi hal yang tidak dilihat secara jelas lagi oleh karyawan yang di tandai dengan mulai malasnya dalan bekerja dan kurang berkontribusi bagi perusahaan sehingga sudah tidak menghasilkan kinerja yang optimal solusinya adalah perusahaan terus menerus memberikan pengarahan sehingga karyawan terus memberikan apa yang di harapkan oleh perusahaan dari mereka

    Menurut saya pelanggaran psikologis perusahaan dimana karyaean sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan tapi tidak mendapatkan balasan dari perusahaannya contoh ketika perusahaan menjanjikan kenaikan jabatan bagi karyawan yang berprestasi sehingga menyebabkan karyawan kecewa hal ini bisa menyebabkan kesenjangan di dalam organisasi seharusnya perusahaan harus bisa menepati janjinya pada karyawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin menanggapi pernyataan pertama dari saudari Dewi, pengarahan seperti apa yang diberikan kepada karyawan? Menurut saya, karena hal itu merupakan kemalasan yang ada dari masing-masing individu karyawan. Terima kasih.

      Hapus
    2. saya ingin menanggapi pernyataan saudari Dewi. yang pertama, karyawan malas bekerja pasti ada penyebabnya bukan? bisa dari individunya sendiri, bisa juga karena perusahaan kurang memperhatikan dan memotivasi karyawan tersebut sehingga karyawan tersebut mengalami kejenuhan. maka menurut saya karyawan yang malas itu bukan sebuah contoh.
      dan yang kedua adalah mengenai pernyataan anda bahwa "ketika perusahaan menjajikan kenaikan jabatan bagi karyawan yang berprestasi sehingga menyebabkan karyawan kecewa... " ini bagaimana maksudnya? saya kurang paham. karena yang saya pahami adalah karyawan jika di beri kenaikan jabatan itu akan senang dan semakin termotivasi. terima kasih

      Hapus
    3. Membantu pertanyaan sdra.Hermahesa, yg saya tangkap dari kalimat sdri.Dewi pada kalimat "ketika perusahaan menjajikan kenaikan jabatan bagi karyawan yang berprestasi sehingga menyebabkan karyawan kecewa... " adalah karyawan yg berprestasi tersebut bisa kecewa karena kenaikan jabatan yg dijanjikan perusahaan hanyalah janji yg tidak berujung pada kenyataannya dirinya memperoleh kenaikan jabatan.

      Hapus
    4. saya ingin menambahi beberapa kalimat pada point pertama(sodari Dewiasih)
      dikomentar anda menulis solusi "perusahaan terus menerus memberikan pengarahan sehingga karyawan terus memberikan apa yang di harapkan oleh perusahaan dari mereka"
      saya hanya mau menambahkan...
      menurut saya, ada banyak solusi untuk mengatasinya yaitu dengan cara membuat karyawan terssebut merasa nyaman dalam pekerjaannya. dalam arti(nyaman) perusahaan harus menepati janji dengan gaji yang sudah di sepakati bersama, dan juga dorongan(motivasi) agar karyawan tersebut tidak merasa stress dengan pekerjaannya.

      terima kasih :)

      Hapus
    5. saya ingin menambahi beberapa kalimat pada point pertama(sodari Dewiasih)
      dikomentar anda menulis solusi "perusahaan terus menerus memberikan pengarahan sehingga karyawan terus memberikan apa yang di harapkan oleh perusahaan dari mereka"
      saya hanya mau menambahkan...
      menurut saya, ada banyak solusi untuk mengatasinya yaitu dengan cara membuat karyawan terssebut merasa nyaman dalam pekerjaannya. dalam arti(nyaman) perusahaan harus menepati janji dengan gaji yang sudah di sepakati bersama, dan juga dorongan(motivasi) agar karyawan tersebut tidak merasa stress dengan pekerjaannya.

      terima kasih :)

      Hapus
  17. 1.Pelanggaran kontrak psikologis terjadi ketika adanya ketidaksesuaian antara pekerja dan pemberi kerja dalam hal psikis.
    Contoh pelanggaran yang dilakukan pekerja seperti pekerja yang diberi kebebasan dalam bekerja , asalkan kinerja yang dilakukan maksimal dan memenuhi target yang diberikan, tetapi kenyataannya pekerja menyalahgunakan kebebasan itu dan tidak memenuhi target yang diinginkan pemberi kerja
    Solusi: memilih pekerja dengan lebih selektif, memilih pekerja yang mengerti akan etos kerjanya
    2.Contoh pelanggaran yang dilakukan pemberi kerja seperti janji" yang diberikan pada awal penerimaan pekerja seperti janji akan pemberian gaji tepat waktu, tetapi pada kenyataannya pemberi kerja terlambat memberikan gaji
    Solusi:pekerja bertanya langsung terhadap pemberi kerja , mengapa sistem pemberian gaji terlambat , jika ada masalah pemberi kerja harus menjelaskan masalah tersebut dan memberikan kepastian tempo beberapa hari gaji akan dibayarkan agar kinerja karyawan tidak menurun

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ingin bertanya kepada Sdr Hangga, apakah bisa dijelaskan lebih rinci lagi solusi untuk poin pertama karena menurut saya memilih pekerja dengan selektif itu pasti dilakukan waktu perusahaan merekrut karyawan baru

      selain itu saya setuju dengan saudara Hangga untuk solusi poin kedua dimana karyawan bisa menanyakan mengapa gaji mereka terlambat diberikan karena gaji mereka juga penting, selain sebagai apresiasi atas pekerjaan mereka juga untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

      Terima kasih

      Hapus
    2. saya akan menjawab pertanyaan saudara kevin , yang dimaksud dalam hal memilih lebih selektif adalah menyaring serta memilah kembali pekerja yang sudah ada
      trima kasih

      Hapus
    3. Terima kasih atas tanggapan saudara Hangga. Memilah kembali pekerja yang serius dalam bekerja itu penting supaya kinerja perusahaan tidak menurun, karena setiap perusahaan pasti memiliki karyawan yang serius dan tidak serius dalam bekerja. karyawan yang serius bekerja akan membuat kinerja perusahaan naik, sedangkan karyawan yang tidak serius akan membuat kinerja perusahaan menurun disebabkan oleh produktivitasnya yang tidak maksimal.

      Hapus
  18. Kontrak psikologis mengacu pada keyakinan tentang janji-janji tidak tertulis seorang karyawan kepada organisasi dan organisasi kepada karyawannya.
    1. Salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah pekerja tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang dijanjikan sebelumnya. Misalnya pada saat wawancara pekerja berjanji akan menaikkan penjualan. Namun, pada kenyataannya selama dia bekerja tidak dapat menaikkan penjualan dalam perusahaan tersebut.
    Cara mengatasinya adalah sebelum menerima pelamar sebagai karyawan dalam perusahaan, perusahaan harus memberikan masa percobaan bagi karyawan tersebut selama 2-3 bulan guna untuk membuktikan pernyataan pelamar tersebut.
    2. Salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah perusahaan menjanjikan adanya pelatihan, pengembangan karir serta lingkungan sosial yang baik dalam perusahaan. Namun, perusahaan tidak melakukan hal tersebut misalnya saja selama bekerja karyawan tidak mendapatkan pelatihan maupun pengembangan karir dalam perusahaan tersebut.
    Cara mengatasinya tentu saja perusahaan harus melakukan apa yang telah dijanjikan kepada karyawannya dan menjelaskan secara terbuka kepada karyawannya siapa yang memang perlu mendapatkan pelatihan dan yang tidak beserta alasan yang sesuai. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada rasa iri antar karyawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pernyataan saudari Bunga Rahayu pada poin pertama, pada poin kedua yang saya ingin tanyakan adalah pernyataan; “menjelaskan secara terbuka kepada karyawannya siapa yang memang perlu mendapatkan pelatihan.” apakah cara tersebut sebaliknya malah menimbulkan pelanggaran kontrak psikologis dari pemberi kerja kembali, terhadap karyawan yang tidak perlu mendapatkan pelatihan? Terima kasih

      Hapus
  19. Pertama contoh dari pelanggaran kontrak psikologis oleh pekerja adalah mengenai penggunaan internet yang tidak berhubungan dengan pekerjaan . Jika disuatu perusahaan belum memiliki peraturan/ kententuan secara jelas mengenai penggunaan internet, maka banyak karyawan yang menggunakan internet pada jam kerja untuk kesenangan pribadi seperti membuka facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya yang akan menurunkan kinerja dari karyawan tersebut. Dampaknyapun cukup besar bagi perusahaan jika karyawan tersebut berperilaku seperti itu, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan perusahaan, tetapi di gunakan untuk hal yang bersifat "menghibur" diri sendiri. Solusinya adalah Perusahaan harus memberikan peraturan tertulis mengenai menggunakan internet yang seperti apa , dan dibantu dengan penggunaan teknologi untuk menunjang peraturan tersebut dipatuhi seperti software yang digunakan diperangkat lunak agar beberapa web tidak bisa dibuka sembarangan, sehingga walaupun karyawan sudah mengetahui mengenai peraturan penggunaan internet tetapi masih melanggarnya, karyawan tetap tidak menggunakan internet tersebut dengan seenaknya.
    Yang kedua contoh dari pelanggaran kontrak psikologis oleh pemberi pekerjaan yaitu ketika karyawan sebelum masuk di dalam suatu perusahaan, pasti lah sang pemberi pekerjaan memberikan job deskripsi yang harus dilakukan oleh karyawan jika terpilih untuk pekerja diperusahaan, nah banyak terjadi di ketika karyawan tersebut telah menjabat pekerjaan yang telah ditentukan di awal sebelum masuk ke perusahaan, tetapi ketika berjalannya waktu pemberi pekerjaan memberikan tambahan-tambahan pekerjaan diluar job deskripsi yang ditentukan di awal tadi. Misalnya saja karyawan admin yang seharus tidak bertugas untuk membuatkan kopi atau minuman ke tamu,ataupun ke atasan itu sendiri , sering hal nya menyuruh karyawan admin untuk melakukan itu yang seharusnya itu tugas dari OB tanpa ada imbalan apapun. Solusinya mungkin pemberi pekerja memberikan aturan mengenai kompensasi lain-lain, sehingga jika pekerja melakukan pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya, maka karyawan mendapat imbalan. Atau bisa juga pemberi pekerja memberitaukan detail gajinya pokoknya dan gaji lain-lain diawal sehingga karyawan tau walaupun melakukan pekerjaan di luar tanggung jawabanya, karyawan dapat bekerja lebih baik karena mengetahui bahwa ada gaji tambahan jika melakukan pekerjaan lain-lain.

    BalasHapus
  20. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah pekerja tidak komitmen dengan perjanjian awal yang telah dibuatnya sebelum masuk ke perusahaan yaitu menjalankan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan perusahaan dan ingin mencapai apa yang menjadi tujuan dari perusahaan tersebut. Misalnya pekerja diberi tugas untuk membuat suatu rancangan yang akan di presentasikan minggu depan, namun pekerja tersebut malah santai-santai dan tidak serius menjalankan tugasnya dan akhirnya membuat tugasnya tersebut tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan dan tidak tepat waktu selesainya. Itu memperlihatkan bahwa kontibusi karyawan tersebut rendah dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh perusahaan. Cara mengatasinya semestinya perusahaan memberikan waktu masa pelatihan dulu kepada karyawannya, sehingga perusahaan dapat mengetahui tingkah laku serta keseriusan karyawan tersebut dalam bekerja.
    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah perusahaan tidak memberikan apa yang semestinya diterima oleh karyawan yang telah memberikan kontribusi tinggi kepada perusahaan sesuai dengan apa yang dikatakan di awal seperti mendapat penghargaan, kompensasi, dan sebagainya. Cara mengatasinya yaitu perusahaan harus melakukan apa yang sudah dijanjikan diawal kepada karyawan apalagi untuk karyawan yang telah memberi kontribusi tinggi bagi perusahaan agar karyawan tersebut tetap bekerja dengan maksimal dan tidak meninggalkan perusahaan.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat dari saudari jessy bahwa kontrak psikologis adalah komitmen yang tidak ditepati oleh pekerja/karyawan kepada perusahaan. Tapi, yang ingin saya tanyakan pada poin kedua apakah dengan diberikannya janji yang sudah dijanjikan pada karyawan, karyawan dapat memaksimalkan pekerjaannya?dan apakah cara tersebut sudah efektif? Mengolah dan memaksimalkan pekerjaan mereka tidak lah mudah dalam perusahaan.Terima kasih

      Hapus
    2. Maaf untuk tambahan yang terakhir maksud saya mengingat bahwa sekarang ini mengolah dan memaksimalkan pekerjaan karyawan tidaklah mudah. Karena tipe dari tiap2 karyawan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya..

      Hapus
    3. saya sangat setuju dengan pendapat jessi pada poin pertama dan kedua ,
      pada poin pertama anda memberikan contoh tersebut, bagi saya yang namanya "kontrak" itu adalah hal yang harus ditepati karena sebuah kontrak terjadi saat kedua pihak yaitu perusahaan dan karyawan melakukan kesepakatan dan jika sudah ada kontrak maka hal tersebut harus dilaksanakan , dan tidak boleh dilanggar. karena kontrak sama dengan janji yang harus di tepati antara kedua belah pihak yang saling sepakat.
      terimakasih

      Hapus
  21. 1. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja, antara lain adalah dimana pekerja tidak memberikan kontribusi pada perusahannya, tidak disiplin dalam bekerja, tidak peduli akan pekerjaannya, dll. Menurut saya yang membuat karyawan melanggar kontrak psikologis adalah dikarenakan adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan karyawan dengan apa yang diberikan oleh perusahaan mereka. Jika perusahaan mengerti dan menjunjung tinggi kontrak psikologis, maka dapat menaikkan tingkat kepercayaan karyawan, menaikkan motivasi dan kepuasan kerja mereka. Pelanggaran kontrak psikologis oleh pekerja dapat diatasi dengan, melihat faktor-faktor apa saja yang membuat produktivitas pekerja menurun. Bisa saja faktor itu dari masalah pribadi karyawan sendiri, manajemen perusahaan, membangun suasana kerja yang mendukung dan lain sebagainya dan itu semua harus diperbaiki sehingga dapat mendukung kinerja, produktivitas, dan kepuasan kerja karyawan.
    2. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis dari pemberi kerja adalah dimana tidak ada reward atau penghargaan atas kinerja karyawannya, tidak memperhatikan pembagian kerja juga kemampuan karyawan dikaitkan dengan gaji;komisi; dan tunjangan, dll. Itu semua dapat diatasi dengan, penekanan akan kontrak psikologis yang sesungguhnya. Dapat dimulai dari pembenahan hubungan kerja antara karyawan dan atasan, jika dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung maka karyawan akan merasa nyaman dalam bekerja. Meningkatkan kepedulian terhadap karyawan, mengakui setiap kinerja karyawan dengan memberikan penghargaan atau reward yang sesuai, maka dengan itu karyawan dapat merasa dihargai jerih payahnya sehingga dapat meningkatkan semangat dan motivasi kerja. Yang terakhir juga harus memperhatikan pembagian komisi sesuai dengan bobot kerja dan kinerja karyawan.

    BalasHapus
  22. 1. menurut saya pelanggaran kontrak psikologis yg dilakukan pekerja : dimana pekerja tidak menjalankan tugas yang telah diberikan oleh perusahaan kepada dirinya dan malah melakukan hal-hal pribadi yang tidak ada hubungannya dengan kerjanya cara untuk mengatasinya mungkin perusahaan memberikan kesempatan istirahat lebih kepada pegawai sehingga ia dapat melakukan keperluan pribadinya.
    2. menerut saya,contoh pelanggaran kontrak psikologis dari pemberi kerja : dimana karyawan atasan memberikan kerja diluar dari job des yang telah diberikan dan tidak ada hubungannya dengan job des karyawan tsb cara mengatasinya mungkin dengan memberikan batasan peritah kepada bawahannya sehingga karyawan pny kebebasan di perusahaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mau bertanya kepada saudara yudis, bagaimana solusi dari contoh yang anda berikan? Terima kasih.

      Hapus
    2. Saya ingin menanggapi pendapat saudara yudis mengenai poin kedua, yang menyatakan bahwa “cara mengatasinya mungkin dengan memberikan batasan peritah kepada bawahannya sehingga karyawan pny kebebasan di perusahaan” disini arti dari kata bebas itu tentunya sangat luas, dan saya kurang setuju. Mungkin saudara yudis bisa menjelaskannya lebih spesifik lagi?
      Karena bisa saja arti dari kata bebas itu sendiri adalah negative, dimana karyawan nantinya bisa santai, atau tidak bekerja secara optimal.
      Terima kasih.

      Hapus
    3. kepada saudara amelia solusinya ya mungkin memberi libur kepada karyawan yang sudah jenuh pada pekerjaannya dll
      kepada saudara felicia bebas disini tidak di arti karyawan bebas bermain dota di kantor bukan tetapi disini bebas dimana karyawan dapat bekerja dengan bebas tidak ada tekanan secara berlebihan

      Hapus
    4. Saya kurang setuju dengan solusi yg diberikan sdra.Yudis, solusi menurut saya lebih tepatnya perusahaan memberi peringatan kepada karyawan yg demikian, karena karyawan jika diberi solusi seperti yg saudara sampaikan tidak tepat dan malah membuat karyawan banyak menghabiskan waktunya untuk hal pribadi daripada bekerja padahal si pemberi kerja menggaji karyawan untuk bekerja. Memberi karyawan kelonggaran untuk tidak bekerja terus menerus (diberikan istirahat karena sudah lelah bekerja) menurut saya wajar tapi disini solusi yg saudara berikan untuk masalah karena si karyawan ingin melakukan hal hal pribadi menurut saya tidak pas.

      Hapus
  23. Kontrak psikologis bersifat timbal balik, yaitu mengacu pada keyakinan tentang janji-janji seorang karyawan kepada organisasi dan hal-hal yang dijanjikan secara optimal oleh organisasi kepada karyawannya Untuk diskusi pada poin pertama yaitu pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja, contoh saat sebuah organisasi telah memberikan hak-hak atau janji-janji tidak tertulis mencakup aspek hubungan kerja baik antara organisasi dan perusahaan seperti kesejahteraan pegawai dan peningkatan karir yang jelas, namun pekerja tidak melakukan kewajibannya dengan baik, pekerja tidak memaksimalkan kinerjanya terhadap organisasi untuk kepentingan organisasi atau perusahaannya, bahkan dapat merugikan sebuah organisasi atau menghambat pencapaian tujuan organisasi. Untuk solusinya, organisasi dapat tidak memberikan janji-janji tersebut apabila pekerja tidak dapat memaksimalkan kinerjanya dengan baik. Jadi, perlu adanya keyakinan oleh masing-masing pihak terhadap persetujuan yang bersifat timbal balik berupa keyakinan terhadap janji yang dibuat, karena organisasi juga mengharapkan karyawan yang dapat selalu kontribusi nya guna kemajuan perusahaan.

    Pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja didefinisikan sebagai suatu keadaan yang dialami dan dirasakan oleh karyawan apabila karyawan tidak menerima balas jasa yang sesuai dengan yang dijanjikan oleh organisasi. Keadaan tidak sesuai dapat berupa kurangnya balas jasa yang dijanjikan. Dalam poin kedua ini, contohnya sebuah janji kepada karyawan yang akan dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi oleh manajer apabila mencapai target yang ditentukan bahkan lebih dan menyediakan keamanan kerja dan memenuhi kebutuhan karyawan apabila karyawan bekerja dengan maksimal untuk kepentingan organisasi atau perusahaannya. Janji-jani inilah yang membuat pekerja memiliki semangat tinggi untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan, namun organisasi melanggarnya dengan tidak memberikan penghargaan atau janji-janji atas kontribusi yang telah diberikan oleh karyawan. Solusinya, karyawan dapat menuntut hak-hak yang seharusnya pantas di dapatkan kepada pimpinan organisasi. Biasanya organisasi akan memberikannya kepada pekerja yang memiliki kontribusi terhadap organisasi tinggi, karena hal ini mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat dari saudari Amelia bahwa kontrak psikologis itu bersifat timbal balik antara pihak perusahaan dengan karyawannya. Oleh sebab, itu jika karyawan ingin hak-haknya atau janji-janji yang di berikan oleh perusahaan bisa di dapatkan, maka mereka harus mampu melaksanakan kewajibannya dan berkontribusi secara aktif di dalam perusahaan. Begitu pula dengan pihak perusahaan, jika ingin karyawan bekerja dengan baik, maka janji-janjinya harus di tepati.
      Terima kasih.

      Hapus
  24. 1. Menurut saya salah satu contoh pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja adalah saat dimana mereka tidak menjalankan pekerjaan mereka dengan semestinya (bekerja sesuai harapan dari tempatnya bekerja) atau dalam kata lain mereka nyeleweng dalam melakukan tugasnya dan ini bisa diatasi dengan menekankan kepada mereka bahwa setiap pekerjaan yang mereka lakukan bisa berdampak baik atau buruk pada perusahaan itu sendiri dan juga dari pihak perusahaan harus memotivasi mereka dengan memberikan penghargaan atau Imbalan bagi setiap mereka yang mampu bekerja dengan baik dan sesuai harapan perusahaan.
    2. Menurut saya salah satu contoh pelanggaran yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah saat dimana mereka memberikan tugas kerja kepada karywan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya karyawan kerjakan (menambahkan pekerjaan bagi karyawan yang sebetulnya tidak haurs dikerjakan oleh karyawan tersebut) dan dengan adanya hal sperti ini pihak perusahaan harus memperhatikan lagi komitmen atau janji yang sudah disepakti oleh kedua belah pihak (karyawan dan perusahaan) agar tidak terjadi hal tersebut.
    Terima Kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ingin bertanya kepada saudara sambas, contoh dari menyeleweng dlam melakukan tugas nya itu seperti apa? tolong berikan penjelasan yang lebih spesifik karena menurut saya contoh tersebut kurang jelas, dan saya kurang mengerti dengan contoh yang ada berikan untuk poin yang pertama.

      saya tidak setuju untuk jawaban saudara sambas yang nomor 2 karena jika anda memberikan contoh "menambahkan pekerjaan bagi karyawan yang sebetulnya tidak harus dikerjakan oleh karyawan tersebut" . karena menurut saya hal tersebut sah-sah saja jika sebuah perusahaan menambahkan pekerjaan bagi karyawannya, karena menurut saya jika sebuah perusahaan menambahkan pekerjaan bagi karyawannya itu tandanya karyawan tersebut mampu mengerjakan hal tersebut. dan jika hal tersebut bukan menjadi bidang pekerjaan karyawan tersebut dan memang karyawan tersebut tidak bisa mengerjakannya maka karywan tersebut bisa protes ke atasannya dan menjelaskan perihal mengapa ia diberikan tugas tersebut yang bukan menjadi pekerjaannya.

      terimakasih

      Hapus
  25. Saya setuju dengan pendapat dari saudari Amelia bahwa kontrak psikologis itu bersifat timbal balik antara pihak perusahaan dengan karyawannya. Oleh sebab, itu jika karyawan ingin hak-haknya atau janji-janji yang di berikan oleh perusahaan bisa di dapatkan, maka mereka harus mampu melaksanakan kewajibannya dan berkontribusi secara aktif di dalam perusahaan. Begitu pula dengan pihak perusahaan, jika ingin karyawan bekerja dengan baik, maka janji-janjinya harus di tepati.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  26. Mengacu pada definisi kontrak psikologis yaitu harapan tidak tertulis antar pemberi kerja dan pekerja untuk memberikan 'yang terbaik', disini menurut saya harapan pemberi kerja kepada pekerja akan berkaitan dengan job desc yang karyawan emban dan kemampuan karyawan untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi perusahaan. Menurut saya, salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah tidak menjalankan job desc atau tugas yang diberikan kepadanya secara total. Pekerja seringkali hanya menjalankan tugasnya hanya 'seadanya' tanpa mau ada usaha lebih untuk mencapai hasil 'yang terbaik' itu sendiri. Saat hal ini dikembalikan kepada pribadi masing-masing, mungkin jawabannya adalah karena setiap orang memiliki kemampuan dan nilai yang berbeda. Tetapi menurut saya, ketika kita diberikan kepercayaan untuk melaksanakan suatu pekerjaan, maka kita tidak perlu membayangkan hasil yang baik atau berekspektasi terlalu tinggi, tetapi apakah yang kita lakukan saat itu (saat menjalankan tugas) sudah merupakan usaha optimal yang bisa kita lakukan. Cara mengatasinya hal ini adalah dengan memberikan evaluasi dari setiap tugas yang sudah dilakukan, agar ada perbaikan dan ada arahan menuju yang lebih baik.
    Pelanggaran kontrak psikologis dari sisi pemberi kerja menurut saya adalah disaat karyawan sudah berusaha memberikan 'yang terbaik', sudah memberikan kemampuannya secara optimal, namun pemberi kerja tidak memberikan suatu reward atau suatu bentuk apresiasi yang lebih terhadap karyawan tersebut. Apabila hal ini terus berlangsung, maka lama-kelamaan kinerja karyawan akan menurun karena merasa tidak ada perhatian dan dukungan atas apa yang mereka usahakan. Cara mengatasi hal tersebut adalah pihak pemberi kerja bisa menyimpan data atau membuat arsip berkaitan dengan kinerja karyawan dalam jangka waktu tertentu. Apabila kinerja karyawan menunjukkan peningkatan, maka pemberi kerja dapat memberikan suatu reward yang sesuai dengan hasil kerja karyawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan Sdri Maria, banyak pekerja yang hanya mengerjakan tugasnya dengan sesuka hati atau seperti yang di katakan sdri Maria "hanya seadannya". pekerja tidak memikirkan untuk yang lebih baik lagi akhirnya kinerja mereka bisa di katakan tidak ada perkembangan atau tidak ada perubahan dalam melakukan pekerjaan.

      yang kedua, ada juga karyawan sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan itu dan bekerja sesuai yang di harapkan perusahaan tetapi pemberi kerja masih saja tidak memperlakukan mereka dengan semestinya. bisa saja karyawan-karyawan yang sudah memberikan yang terbaik itu kinerjanya mulai menurun bahkan mogok kerja.

      Hapus
  27. Contoh dari kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja, adalah datang terlambat saat bekerja. Sebelum menjadi karyawan, pasti sudah ada perjanjian jam berapa karyawan harus bekerja. Namun, seringkali karyawan yang sudah senior akan datang terlambat karena merasa tidak ada yang berhak menegur dirinya. Efek senioritas membuat karyawan merasa dirinya berhak melanggar peraturan-peraturan perusahaan.
    Solusi : memberi teguran bagi karyawan yang datang terlambat, jika tidak bisa. DIberikan sanksi, misalnya potong gaji.
    Contoh kontrak psikologis yang dilakukan pemberi usaha, misalnya adalah memberikan gaji terlambat dari waktu kesepakatan. Memang ada beberapa alasan kuat mengapa gaji sampai terlambat dibayarkan, misalnya karena saat itu pendapatan menurun dan uang diprioritaskan untuk membayar biaya ulititas. Namun, menurut saya gaji karyawan merupakan hak yang harus diterimanya tepat waktu setelah kewajibannya dilaksanakan.
    solusi : pemilik usaha sebaiknya membuat anggaran-anggaran tertentu, dan mengalokasikan uangnya untuk membayar gaji karyawan. Apabila kondisi-kondisi tak terduga yang memungkinkan pemberi usaha tidak dapat membayar gaji, pemili usaha dapat meminjam pada kerabat / keluarga terdekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Solusi lain menurut saya atas kasus karyawan senior yg datang terlambat adalah ketika karyawan yg posisi masih dibawahnya si senior memberi sapaan kepada karyawan senior "Pagi sekali saudara sudah datang ke kantor". Ini bisa menjadi perenungan bagi si senior atas tindakan terlambatnya dan si senior seringkali melihat karyawan lain yg sudah datang tepat waktu dari dirinya akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan ini bisa menyadarkan si senior untuk tidak terlambat lagi.

      Hapus
  28. 1. Contoh pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja menurut saya yaitu, seorang karyawan yang di berikan tugas / pekerjaan oleh organisasinya dengan tujuan agar tugas itu bisa terselesaikan dengan maksimal / sesuai target yang di tentukan oleh perusahaan. Setelah tugas di berikan oleh perusahaan, lalu karyawan tersebut tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak sesuai yang dinginkan oleh perusahaan. Dari situ perusahaan sangat kecewa dengan karyawan tersebut dan mungkin perusahaan tidak ingin mengandalkan karyawan itu lagi. Perusahaan juga langsung memberikan nilai yang kurang baik.
    Solusi dari pelanggaran tersebut adalah perusahaan harus memberikan sanksi terhadap karyawan yang kinerjanya kurang baik, karena itu akan merugikan perusahaan, walaupun hanya masalah kecil atau pun besar. Perusahaan juga dapat menggunakan cara memecat karyawan jika karyawan tersebut selalu membuat kesalahan yang berulang-ulang.
    2. Contoh pelanggaran yang dilakukan oleh pemberi kerja menurut saya yaitu, perusahaan yang menjanjikan tunjangan kepada seorang karyawan yang memberikan janji bahwa setiap bulan mendapatkan tunjangan tersebut. Tetapi tidak setiap bulan perusahaan memberikan tunjangan itu dikarenakan ada masalah yang di alami perusahaan.
    Solusi dari pelanggaran tersebut adalah sebaiknya karyawan meminta tunjangan tersebut untuk memenuhi janji perusahaan itu sendiri karena tunjangan itu sudah menjadi hak karyawan. Perusahaan harus memberikan tunjanga setiap bulan untuk melancarkan hubungan karyawan denga perusahan.

    BalasHapus
  29. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah ketika perusahaan menerima seorang karyawan/pekerja,tentu perusahaan memiliki ekspektasi kepada pekerja ini untuk dapat berkontribusi baik dalam hal yang berhubungan dengan pekerjaan ataupun dengan hal di luar pekerjaan. Namun pada kenyataannya belum tentu pekerja ini melakukan hal sesuai dengan ekspektasi dari pemberi kerja,yang bisa disebabkan oleh banyak hal,baik dari si pekerja ataupun dari pemberi kerja. Dari sisi pekerja,mungkin masalah-masalah pribadi,atau kurangnya motivasi dari pekerja yang menyebabkan pelanggaran kontrak psikologis ini terjadi. Dari sisi pemberi kerja,mungkin terjadi disebabkan karena si pemberi kerja berlaku tidak adil,atau pemberian insentif yang kurang atau tidak sesuai dengan kontribusi yang diberikan oleh pekerja.
    Solusi yang bisa diterapkan tentunya kembali pada kesadaran dari kedua pihak untuk sama-sama bisa saling memenuhi kontrak psikologis masing-masing.
    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah ketika pekerja berhasil memenuhi kewajibannya sebagai pekerja,namun pemberi kerja tidak memberikan imbalan yang sesuai pada pekerja,apapun alasan yang dikemukakan oleh pihak pemberi kerja. Jika terus dilakukan, tentunya akan berdampak pada kinerja dan juga lingkungan pekerjaan,dan juga berimbas pada pemberi kerja itu sendiri. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah pengelolaan yang baik dari pemberi kerja,agar hal seperti ini tidak terjadi atau tidak terulang kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ingin menanggapi saudara ferry, disini saya kurang jelas dengan contoh dari saudara mengenai "expetasi" bisa tolong dijelaskan secara detail expetasi seperti apa yyang diharapkan oleh perusahaan?

      untuk nomor 2 bisakah saudara ferry menjelaskan untuk solusi yg bisa diterapkan adalah pengelolaan yang baik, saya ingin bertanya pengelolaan apa yang anda maksudkan? agar saya bisa mengerti apa yang menjadi solusi yang anda berikan untuk contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja yang saudara berikan. terimakasih

      Hapus
  30. 1.Menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan, misalnya karyawan tidak termotivasi untuk memberikan kinerja yang terbaik dan mencapai target yang diharapkan perusahaan hal ini disebabkan karena pemberian insentif dariperusahaan kepada karyawan tidak sesuai dengan ekspetasi karyawan, padahal karyawan sudah mencapai target yang diharapkan perusahaan. Solusi perusahaan harus memberikan insentif sesuai dengan target yang sudah dicapai pekerja.

    2.Menurut saya contoh pelanggaran psikologis dari pemberi pekerja, misalnya adanya perlakuan istimewa yang diberikan atasan terhadap karyawan tertentu sehingga karyawan lain merasa iri yang berdampak pada kurang kepuasan kerja. Masukan seharusnya pemberi kerja harus lebih bijak dalam memperlakukan karyawan. Terima Kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlakuan istimewa kepada karyawan tertentu bisa saja pantas karena dilihat dari kinerja karyawan ini setingkat lebih baik dari kinerja karyawan lainnya sehingga karyawan lain tidak sebaiknya iri yg berdampak kepada kepuasan kerja melainkan justru bersaing secara sehat dengan karyawan yg berpestasi tadi agar karyawan tersebut bisa merasakan perlakuan istimewa seperti yg dirasakan oleh rekan rekannya yg berprestasi. Tapi jika perlakuan istimewa tersebut diberikan di luar dari alasan yg saya berikan tadi, maka menurut saya tidak heran jika ada karyawan yg iri.

      Hapus
  31. 1. Contoh pelanggaran psikologis yang dilakukan karyawan misalnya karyawan yang kurang memaksimalkan fasilitas yang telah disediakan kantor sehingga menyebabkan tugas yang diberikan kepada karyawan terbengkalai atau kurang maksimal. misalnya saja seorang karyawan yang menyalahgunakan internet kantor, mungkin malah sering dipakai untuk bermain daripada menyelesaikan tugas kantor.
    solusi yang bisa dilakukan menurut saya jika kasusnya seperti ini adalah dengan memberikan batas kuota internet bagi setiap karyawan. bisa saja dengan memprogram setiap komputer karyawan dengan sistem billing agar pemakaian internet bisa dikontrol dan jika telah melewati batas kuota, maka karyawan diharuskan membayar lebihnya.

    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja misalnya janji reward yang tidak dipenuhi. misalnya janji reward bagi karyawan yang selalu tepat waktu dalam bekerja. saat ada karyawan yang selama 1 tahun penuh bekerja tanpa terlambat meminta reward namun tidak diberi oleh pemberi kerja dengan berbagai alasan.
    solusi untuk masalah seperti ini menurut saya janji reward ini sebaiknya juga ditulis dalam perjanjian kontrak kerja agar tidak ada alasan pemberi kerja untuk menunda atau bahkan tidak memberikan reward. karena kontrak psikologis sendiri merupakan sekumpulan harapan-harapan tidak tertulis. jadi definisi ini bisa saja digunakan para pemberi kerja untuk melanggar janji reward yang telah diberikan, bisa saja dengan alasan lupa atau merasa tidak pernah menjanjikan hal seperti itu sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan sdra.Yoga. Pelanggaran lainnya menurut saya misalnya karyawan yg sepele terhadap alat tulis kantor yg harganya murah seperti pulpen pensil terkadang karyawan membawa pulang ke rumah sehingga mau tidak mau organisasi mengeluarkan (lagi) biaya untuk membeli alat tulis kantor. Karyawan ada juga yg iseng merusak fasilitas kantor baik secara sadar maupun tidak sehingga pada suatu saat si karyawan meminta organisasi untuk mengganti fasilitas yg baru.

      Hapus
  32. 1. Contoh suatu pelanggaran terhadap kontrak psikologis yang dilakukan pekerja adalah ketika pada awal mulanya ia menkomitkan dirinya untuk bekerja dengan segenap kemampuannya untuk mencapai tujuan perusahaan namun pada akhirnya ia mulai melalaikannya dan tidak bekerja secara optimal. Dalam hal ini perusahaan harus memberi suatu hal yang dapat meningkatkan motivasi karyawannya untuk bekerja secara optimal misalnya dengan memberi penghargaan bila kinerja karyawan bagus.
    2. Contoh pelanggaran terhadap kontrak psikologis yang dilakukan pemberi kerja adalah ketika seorang karyawan telah bekerja secara optimal dan ia tidak diberikan penghargaan terhadap suatu kontribusi yang telah ia berikan maka, hal ini dapat menyebabkan kinerja karyawan tersebut menurun sebab ia merasa perusahaan tidaklah memberikan suatu perhatian atas kerja kerasnya terhadap perusahaan tersebut. Dalam hal ini sebaiknya perusahaan memberikan pengahrgaan bagi karyawan yang telah bekerja dengan baik agar karyawan merasa senang karena ternyata kerja kerasnya diperhatikan perusahaan.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mau bertanya tentang pemberi kerja yang tidak memberikan penghargaan terhadap karyawannya ketika ia bekerja optimal. Mengapa pemberi kerja "wajib" memberikan penghargaan pada karyawan bila karyawan tersebut bekerja secara optimal? Bukankah itu sudah merupakan kewajibannya, bukan merupakan sesuatu yang "wow". Disamping itu, pemberi kerja juga sudah memberikan gaji sebagai bentuk kewajibannya pada karyawan. Terima kasih

      Hapus
    2. saya sependapat dengan saudari Selviana mengenai tentang contoh pelanggaran kontrak psikologis yang di lakukan oleh pekerja. dengan di berinya penghargaan jika kinerja karyawan bagus, maka karyawan tersebut akan termotivasi dan bahkan karyawan tersebut akan memberikan kinerja dengan lebih baik lagi, lebih semangat lagi dalam bekerja. dan saya juga setuju dengan poin ke dua yaitu jika karyawan tidak diber motivasi seperti hal nya penghargaan, maka karyawan akan mengerjakan pekerjaannya dengan seenaknya sendiri dan perusahaan yang mempekerjakannya akan terancam bahwa target perusahaan akan menurun.

      Hapus
  33. 1. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan adalah apabila seorang karyawan yang tidak mengoptimalkan pekerjaan yang diharapkan perusahaan, namun perusahaan telah memberikan fasilitas dan gaji yang sesuai. Misalnya saja, seorang karyawan yang seharusnya menjual sepuluh barang namun hanya menjual delapan barang. Karyawan tersebut tidak bekerja dengan optimal dan tidak menepati target penjualan pada saat waktu yang ditentukan perusahaan.
    Cara mengatasinya adalah perusahaan harus memberikan sebuah pelatihan dan ketegasan kepada karyawan. Perusahaan juga harus memantau atau menilai sendiri kinerja karyawan agar karyawan bekerja dengan optimal dan sesuai dengan standart prosedur yang ada di perusahaan.

    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah apabila seorang karyawan tidak menerima balas jasa yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan perusahaan. Keadaan tidak sesuai dapat berupa kurangnya balas jasa yang dijanjikan atau karyawan menerima lebih dari yang dijanjikan. Misalnya kurangnya balas jasa yang dijanjikan yaitu kinerja karyawan mencapai target namun perusahaan tidak memberikan bonus atau komisi kepada karyawan tersebut.
    Cara mengatasinya adalah perusahaan harus membangun komitmen yang realistis terhadap segala bentuk insentif, reward, dsb. Perusahaan juga harus mengkomunikasikan tersebut kepada karyawan. Selain itu, perusahaan juga harus memenuhi janjinya kepada para karyawan agar karyawan dapat bekerja lebih optimal dan membuat karyawan memiliki semangat tinggi untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat sdri Florencia, no.1 yang berpendapat bahwa cara mengatasi pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan dengan memberikan pelatihan dan ketegasan atas kinerja karyawan tersebut jika tidak maka karyawan tersebut tetap melakukan kinerja yang tidak sesuai harapan perusahaan, dan untuk no.2 saya mungkin akan menambahkan pendapat sdri Florencia, setiap pegawai yang kinerjanya sesuai dengan target yang diberikan bahkan melebihi target seharusnya melakukan protes kepada pimpinan perusahaan karena setiap perusahaan memiliki suatu kewajiban - kewajiban yang harus diberikan kepada karyawan yang telah mencapai target dari perusahaan

      Hapus
  34. 1. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis dari pekerja adalah misalkan saja dalam suatu perusahaan mempekerjakan sebagian karyawan secara kontrak dan diberi kompensasi sejumlah UMR, namun karyawan tersebut tidak berkinerja secara optimal. Maka karyawan tersebut telah melanggar kontrak psikologis terhadap perusahaan. Solusi dari masalah ini adalah karyawan tersebut perlu diberikan teguran dan pembinaan dari atasannya.
    2. Sedangkan untuk pelanggaran kontrak psikologis dari pemberi kerja contohnya adalah supervisor dari karyawan kontrak tersebut meminta sejumlah uang dari pekerja agar mau memperpanjang kontrak pekerja lagi di perusahaan tersebut. solusi dari masalah ini menurut saya dilakukan pemecatan terhadap supervisor karen telah melakukan praktek korupsi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. saya juga setuju dengan pendapat saudara fransiska, contoh pelanggaran psikoogis dari pekerja adalah seperti ketidak tepatan karyawan pada waktu masuk jam kerja contoh pada waktu jam masuk kerja dan jam istirahat mereka menggap santai dalam masalah waktu dan ini sangat tidak disiplin sekali dan karyawan perlu di beri teguran oleh atasannya dan kalau perlu di berikan SP.
      2. sedangkan untuk pelanggaran kontrak psikologis dari pemberi kerja adalah
      -pemberian uang gaji yang terlambat membuat karyawan menunggu
      -pemberian penugasan kerja di luar jam kerja tampa di beri uang lembur.

      Hapus
  35. Menurut saya pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah ketika karyawan saat perekrutan menjanjikan ekspektasi kerja yang tinggi dan menjunjung tinggi kepentingan organisasi, tujuan ini dilakukan pekerja untuk bisa diterima di perusahaan. Setelah karyawan diterima bekerja di perusahaan kinerja awalnya sesuai seperti yang dijanjikan oleh pekerja tersebut. Hingga saat pekerja menjadi pekerja tetap dan berada di jabatan yang ia inginkan, dia akan kurang maksimal dalam bekerja dan tidak segiat dahulu dalam bekerja sehingga kontribusinyatidak sebaik dulu saat awal bekerja. Contohnya ia sering terlambat, mungkin ia sering cuti, dll. Biasanya ini disebabkan faktor pekerja saat perekrutan ingin memberikan kesan yang memuaskan dalam memberikan visi dan misi bekerja di perusahaan sehingga ia terlihat sangat antusias dan menjanjikan dalam memberikan kontribusi yang baik di perusahaan. Solusinya, perusahaan bisa memberikan teguran melalui panggilan yang dilakukan oleh atasan untuk bertanya apakah pekerja mengalami kesulitan dalam bekerja sehingga kontribusinya berkurang. Bila masih tetap berlanjut, harus ada sanksi ataupun ancaman terhadap pergantian posisi, sehingga pekerja akan termotivasi untuk berusaha lebih baik lagi.
    Pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah bila perusahaan menjanjikan adanya insentif bonus kepada pekerja bila bisa mencapai target penjualan yang telah ditetapkan perusahaan. Seringkali perusahaan memberikan target yang sulit dicapai oleh pekerja. Sehingga sulit bagi pekerja mendapat insentif bonus karena target terlalu tinggi untuk dicapai, dan pekerja akan kecewa terhadap perusahaan. Solusinya pekerja harus bertanya akan target yang tidak realistis, karena pekerja telah berjuang bekerja dengan baik tetapi perusahaan malah menyulitkan karyawan. Dan harus ada kritikan terhadap kebijakan yang diberikan perusahaan bila masih diteruskan oleh perusahaan. Bila memang masih tetap berlanjut, dan pekerja mulai terbebani maka pekerja bisa mengancam mengundurkan diri. Dan untuk perusahaan sebaiknya mengurangi tinggi target yang ditetapkan, agar pekerja bisa mendapat insentif dan menambah motivasi serta loyalitas pekerja. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada pelanggaran kontrak psikologis oleh pemberi kerja yg sdra.Marcelino ungkapkan menurut saya bisa jadi itu kurang digolongkan menjadi pelanggaran karena perusahaan benar benar ingin memproses karyawannya untuk sungguh sungguh terlatih dan terampil dalam bidangnya mereka (karyawan). Jika target yg diharapkan perusahaan begitu mudah, maka menurut saya bagi beberapa karyawan itu bukanlah hal yg menantang karena mereka dengan mudahnya mendapatkan insentif bonus. Bukankah karyawan yg bisa mendapatkan insentif bonus karena dia berhasil mencapai target sulit akan menjadi kesenangan bagi karyawan itu sendiri dan terlebih lagi jika insentif yg diberikan benar benar memuaskan setimpal dengan target perusahaan yg dicapainya.

      Hapus
  36. 1. contoh pelanggaran psikologis yang dilakukan karyawan: pada awal diterimanya karyawan, karyawan berjanji akan selalu mengerjakan tugasnya dengan benar dan baik tapi setelah beberapa lama bekerja bahwa karyawan tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh perusahan dan malah bermain-main dengan komputernya. misalnya seorang karyawan diberikan tugas oleh atasannya dan karyawan terebut tidak langsung mengerjakan malah bermain facebook, twitter dll.
    cara mengatasinya adalah dengan memblokir semua situs-situs yang tidak menyangkut dengan pekerjaan.

    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah pada awalnya pemberi kerja mengatakan bila karyawan bekerja dengan baik maka akan diberikan kenaikan gaji dan bonus tetapi jika pekerja telah bekerja dengan baik tapi malah tidak diberikan kenaikan gaji dan bonus akan menyebabkan kinerja karyawan menurun dan mulai malas.
    cara mengatasinya: pemberi kerja harus memberi kenaikan gaji dan bonus sepertipada perjanjian awal bekerja agar karyawan lebih semangat bekerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya pada kasus karyawan yg ditugaskan tidak langsung mengerjakan malah membuka situs jejaring sosial tidak menjadi pelanggaran asalkan karyawan mengumpulkan tugasnya kepada atasannya tidak melebihi dari waktu yg ditetapkan, tapi alangkah baiknya jika karyawan tidak menunda pekerjaannya karena menunda menyebabkan kemalasan yg berujung kepada pengumpulan tugas tidak tepat waktu.

      Pada poin kedua, menurut saya harus ada kejelasan atau standar sejauh mana si karyawan bisa dikatakan bekerja dengan baik sehingga memberikan kenaikan gaji dan bonus tepat pada sasaran. Karyawan yg bekerja memenuhi tugasnya yg telah ditetapkan bisa dikatakan dengan baik tapi bukan berarti dia layak diberikan kenaikan gaji dan bonus, betul tidak ? Dengan penjelasan di atas, mungkin saudara mengerti yg saya maksudkan.

      Terima kasih

      Hapus
    2. untuk saudara Daniel saya hendak bertanya, untuk poin yang pertama solusi anda mengenai pelanggaran kontrak psikologis oleh karyawan. pertanyaannya adalah apakah efektif dengan cara memblokir situs-situs yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan? apakah tidak ada kemungkinan bahwa karyawan tersebut akan melakukan kegiatan lain diluar perusahaan? terima kasih.

      Hapus
  37. Menurut saya salah satu pelanggaran yang terjadi dan terhadap dilingkungan kontrak psikologis adalah itu bermula pada konmitmen dalam diri kita sendiri untuk bekerja dengan apa kemampuan orang tsb untuk mencapai tujuan di organisasi, namun pada akhirnya seorang pekerja mulai melelaikannya dan tidak bisa bekerja dengan maksimal. Maka dari itu sebuah perusahaan terutama manager harus memberikan suatu hal pekerjaan yang baik pada karyawan agan kinerja bisa dapat meningkatnya bekerja sangat optimal misalnya dalam hal kita harus bisa melihat kinerja yang dia miliki selalu mendapatkan keuntungan dari perusahaan maka sebagai atasan kita harus memberikan penghargaan apa saja agar kinerja orang itu selalu bagus diperusahaan dan bisa memajukan kearah yang lebih berkembang. contohnya kalau kita melihat pelanggaran kontrak psikologis kita dapat simulkan bahwa pemberi kerja yaitu pada suatu ketika karyawan itu bekerja dengan sangat optimal, tetapi seorang karyawan tidak diberikan penghargaan khusus yang selayaknya dia terima maka kontribusi yang terjadi kinerja menyebabkan seorang karyawan menurun dan ia merasa perusahaan/organisasi tidak memberikan suatu perhatian atas kerja kerasnya yang dia lakukan buat perusahaat tsb. maka dalam hal ini sebaiknya perusahaan harus bisa memberikan atas penghargaan yang dimiliki seorang karyawan yang sudah bekerja keras/memperjuangkan organisasi itu dengan baik agar karyawan itu bisa menjadi senang dan tidak berpindah keluar organisasi tsb dan bisa menjadi contoh yang lebih baik agar perusahaan tetap lebih maju lagi. dan solusi kedua pemilik usaha harus sebaiknya untuk membuat anggaran-anggaran tertentu, dan bisa mengalokasikan uangnya untuk membayar gaji pada setiap karyawan. Apabila kondisi-kondisi ini yang tak terduga yang memungkinkan pemberi usaha tidak dapat bisa membayar gaji, maka pemilik usaha harus bisa mendapatkan Peminjam uang pada kerabat / keluarga yang sangat terdekat.

    BalasHapus
  38. 1. Salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEKERJA adalah pekerja tidak melakukan apa yang semestinya sudah ia sepakati terhadap organisasi tersebut. Misalnya, ia dikontrak oleh sebuah organisasi dengan durasi 1 tahun, maka secara tidak langsung orang tersebut seharusnya sudah memikirkan matang-matang akan resiko apa yang akan didapatnya, dan tentu saja, ia juga sudah semestinya memberikan kontribusi yang terbaik untuk organisasi. Namun karena ia ternyata tidak mampu menangani kesibukan yang ia dapat setelah masuk ke dalam organisasi tersebut, ia memutuskan untuk keluar di tengah jalan dan mengkambinghitamkan kesibukan yang ia tidak biasa dapatkan sebelumnya.
    2. Salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEMBERI KERJA adalah organisasi tersebut tidak memberikan reward yang seperti ia janjikan atau ada di kontrak sebelumnya, atau mungkin dalam organisasi malah melakukan pelanggaran sedari awal di dalam kontrak. Misalnya, di kontrak tertulis dalam 1 bulan pekerja akan diberi kompensasi sebesar 2 juta, namun nyatanya organisasi tersebut hanya memberikan kompensasi sebesar 1,5 juta, dan ketika ditelusuri untuk mendapat kompensasi 2 juta masih ada syarat yang berlaku yang tidak ikut dicantumkan di dalam kontrak.
    Dan pada intinya adalah pelanggaran kontrak psikologis didefinisikan sebagai suatu keadaan yang dialami dan dirasakan oleh salah satu pihak apabila pihak tersebut tidak menerima balas jasa yang sesuai dengan apa yang diharapkan.
    Terima Kasih.

    BalasHapus
  39. 1.Menurut saya salah satu cntoh pelanggaran psikologis yang dilakukan pekerja adalah saat dimana pekerja tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaaan mereka, mereka tidak bekerja sesuai dg harapan perusahaan. Pkerja hnya asal bekerja dan produktivitas mereka tidak kunjung mngalami peningkatan, mereka tdk memiliki keinginan lebih untuk berbuat lebih baik untuk perusahaan. Untuk mengatasinya dlm hal ini perusahaan tdk hnya perlu memberikan motivasi dan reward untuk memancing pekerja untuk meningkatkan kinerja mereka, tetapi perusahaan perlu menanamkan baik dampak positif maupun dampak buruknya knerja kryawan tsb bagi dirinya sendiri dan bagi perusahaan.
    2.Sedangkan contoh pelanggaran yg dilakukan pemberi kerja pada karywannya adalah saat dimana pemberi kerja merbika kerja di lapangan tdk sesuai dengan job desc yg sudah disepakati bersama, pemberi kerja menambahkan pekerjaan yg seharusnya bukan tugas karywan tsb, dan kemudian menyalahkan karywan tsb apabila terjadi kesalahan yg dilakukan pekerja. Dalam hal ini pekrja bisa meminta perusahaan untuk mengevaluasi ulang kesepakatan yg sudah dibuat bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sdra.Rico mengatakan untuk mengatasi pekerja yg asal bekerja dan produktivitas mereka tidak kunjung naik , maka perusahaan memberikan reward. Apakah ini pantas ? Apakah ini tidak memancing kecemburuan kepada karyawan lain yg produktivitasnya lebih baik dari karyawan yg asal bekerja ? Jika reward tidak berhasil memancing mereka untuk meningkatkan produktivitas mereka, adakah tindakan selanjutnya atau cara lain yg lebih manjur jika Saudara berlaku sebagai pemilik perusahaan ?

      Hapus
    2. kepada saudara rico Septian, cara mengatasi poin 1 dan 2 itu bagaimana supaya tidak ada pelanggaran seperti itu lagi?
      terima kasih

      Hapus
  40. Contoh pelanggaran kontrak psikologis oleh karyawan menurut saya seperti karyawan tidak melaksanakan tugas dengan baik yg menyebabkan turunnya produktivitas suatu penjualan dan melakukan sesuatu yg malah merugikan perusahaan tersebut seperti membocorkan informasi kepada perusahaan lain, mencuri barang, melakukan transaksi rahasia dengan pembeli dsb. hal ini mungkin disebabkan karena ketidakpuasan karyawan terhadap fasilitas yg diberikan perusahaan.
    Contoh pelanggaran kontrak psikologis oleh perusahaan menurut saya seperti memberikan tugas terlalu berlebihan kepada karyawan melebihi aturan yg diberikan, tidak memberikan fasilitas kepada karyawan seperti yg dijanjikan, dan tidak bertanggung jawab terhadap karywan mereka sendiri.
    Terima Kasih

    BalasHapus
  41. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah pada saat seorang pekerja mengalami kejenuhan. Pada awalnya pekerja memang ingin melakukan "yang terbaik" bagi perusahaan, namun setelah bekerja mereka mengalami kejenuhan akan tugas-tugas yang dituntut oleh perusahaan. Hal ini dapat berdampak pada produktivitas pekerja tersebut kedepannya. Dapat saja tugas-tugas yang harus dilakukannya terbengkalai. Solusi dari permasalahan ini adalah perusahaan yang harus turut memberi dukungan dan memberi fasilitas agar pekerjanya tidak selalu berkutat pada pekerjaan. Misalnya: mengadakan gathering di luar kota. Mungkin jika dilihat hal ini akan menambah biaya operasional perusahaan, namun hal ini juga dapat memberikan manfaat bagi pekerja agar tidak jenuh akan tugas-tugasnya.
    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah pada saat perusahaan tidak memberi pembaharuan kembali. Pada saat sebuah perusahaan baru saja dibuka, perusahaan tersebut pasti akan memberikan sistem perusahaan yang baru. Namun apabila sistem yang dipakai oleh perusahaan tidak di ganti dan tidak mengikuti globalisasi, maka hal tersebut dapat berdampak pada perlakuan perusahaan yang tidak memberikan 'yang terbaik' bagi pekerjanya. Seperti misalnya pada perusahaan untuk melakukan pembukuan masih melakukan cara manual dan tidak menggunakan komputer. Hal ini dapat mengakibatkan pekerja yang kesulitan dan mungkin dapat berdampak pada loyalitas pekerja yang menurun.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  42. 1. Menurut saya seperti seorang karyawan yang di saat awal dia di wawancara sudah melakukan persepakatan untuk bekerja secara maksimal tetapi setelah berjalannya waktu ternyata karyawan tersebut tidak memberikan kinerja yang maksimal dan malas - malasan. Cara mengatasinya dengan cara melakukan sistem bonus jika karyawan melebihi targetnya.
    2. Perusahaan yang saat akan mewawancara karyawan baru. Perusahaan menjanjikan memberikan thr kepada karyawannya. Tetapi ternyaat karyawan tersebut tidak mendapatkan thr tersebut. Cara mengatasinya membicarakan kepada atasannya dengan baik-baik dan meminta penyelesaiannya bagaimana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saudara Boby apakah dengan pemberian bonus saja bisa efektif? karena tidak semua karyawan bisa disemangati dengan diberi bonus saja.

      selain itu saya setuju dengan saudara Boby untuk poin kedua karena perusahaan yang berjanji memberikan imbalan harus menepati janjinya, THR juga bisa dianggap sebagai tanda terima kasih perusahaan untuk karyawan sehingga karyawan yang diberi THR akan menganggap dirinya dihargai di perusahaan.

      Terima kasih

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat saudara bobby no.1, mungkin saya menambahkan dengan memberi surat peringatan akan kinerjanya atau mencabut bonus karyawan tersebut atau bahkan mencabut fasilitas dari karyawan tersebut sampai karyawan tersebut bisa semangat lagi dalm pekerjaannya, dan untuk no.2 saya setuju karena hal itu bisa membuat perusahaan berbenah diri

      Hapus
  43. Kontrak psikologis didefinisikan sebagai keyakinan pekerja mengenai obligasi resiprokal (kewajiban timbal balik) antara pekerja dengan organisasinya, dalam hal mana obligasi tersebut didasarkan atas janji yang dipersepsikan oleh pekerja meskipun tidak selalu direkognisi/diketahui oleh agen-agenorganisasi (rekruter, penyelia/supervisor, manajer HR, dsb) (Morrison & Robinson,1997). Menurut sejarahnya, kontrak psikologis berasal dari konsep psikologi klinis,yakni "kontrak psikoterapi", yang dianggap sebagai aspek tak teraba (intangible) dari relasi kontraktual antara psikoanalis dengan pasien (Meckler, Drake, & Levinson, 2003;Schalk & Roe, 2007). Konsep ini diaplikasikan dalam dunia kerja, dan di sinonimkan dengan "kontrak tidak tertulis" (unwritten contract ), yaitu jumlah seluruh harapan mutualistis antara pekerja dan organisasi, termasuk hal-hal apa yang seyogianya diberikan dan diterima oleh masing-masing pihak. Dalam hal ini, pihak manajemen"berjanji" untuk menempatkan pekerja dalam situasi motivasional di mana kebutuhan pekerja akan afeksi, agresi, dependensi, dan pencapaian tujuan-tujuan ego dapat dipenuhi secara memadai. Sebagai ganti (pertukaran) dari kesempatan pemenuhan kebutuhan yang diberikan organisasi tersebut, pekerja berjanji untuk seterusnya mengeluarkan upaya untuk bekerja secara produktif yang menguntungkan organisasi.
    contoh dari pelanggaran kontrak psikolgis dari pegawai yaitu ketika seorang pegawai ataupun karyawan yang pada awalnya memiliki semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan sesuai dengan yang ditargetkan oleh pemberi kerja, namun seiring berjalannya waktu target yang diharapkan sudah tidak tercapai secara tidak sengaja karyawan telah melanggar perjanjian kontrak psikologis. solusinya telusuri dulu apa yang terjadi pada karyawannya jika mereka mengalami kejenuhan adakan rekreasi bersama untuk mendapatkan semangat dan kekeluargaan, jika dikarenakan masalah pribadi berikan penjelasan dan penekanan mereka bekerja bukan untuk membawa masalah pribadinya. Jika pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja contohnya jika dikaitkan dengan contoh yang pertama menurut saya ketika pemberi kerja justru membuat karyawan atau pegawainya merasakan ketidak nyaman entah masalah pribadi antara karyawan dan pemberi kerja, ataupun ketika pemberi kerja tidak sedikitpun memberikan promosi apapun pada hasil kerja karyawannya.solusinya adalah rubah pola pikir sebagai pemberi kerja yaitu tanpa adanya pegawai atau karyawan perusahaan pun tidak akan berjalan begitupun sebaliknya yang harus diterapkan pada pegawainya selain itu berikan promosi yang seharusnya jika melebihi target yang diinginkan oleh pemberi kerja.

    BalasHapus
  44. 1. contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja menurut saya adalah pada saat awal interview kerja dan dilakukan beberapa tes terhadapnya menunjukkan hasil yang baik sehingga karyawan tersebut diterima untuk bekerja tetapi pada realisasinya saat bekerja ia tidak sesuai ekspetasi yang diinginkan sehingga apa yang dia kerjakan tidak maksimal dimata perusahaan dan sering bermalas-malasan dalam bekerja hingga produktivitas karyawan tersebut jeblok, menurut saya hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kejadian tersebut adalah dengan memotivasinya dengan bonus dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman baginya sehingga karywawn tersebuut semangat dalam bekerja.
    2.pelanggaran psikollogis yang dilakukan oleh perusahaan adalah bila saat karyawan yang dibebankan suatu target dan pada realisasinya karyawan itu berhasil tetapi bonus yang dijanjikan perusahaan tidak cair, hal tersebut akan membuat karyawan yang telah bekerja secara maksimal kecewa dan menyebabkan karyawan yang seing berganti kerja karena tidak puas. seharusnya dari sisi perusahaan harus berlaku profesional dan menepati janjinya kepada karyawannya yang telah bekerja dengan baik.

    BalasHapus
  45. 1.Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja adalah saat dia diberi pelatihan di luar perusahaan ataupun luar negeri yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perusahaan menaruh harapan pada karyawan tersebut agar setelah selesai pelatihan dapat mengembangkan diri dan menerapkan hasil pelatihan tersebut pada perusahaan agar lebih berkembang dan bisa membuat dia lebih meningkatkan kinerjanya, tetapi yang terjadi adalah karyawan tersebut tidak serius dalam melakukan pelatihan bahkan ke luar negeri pun dimanfaatkan sebagai liburan dan tidak fokus terhadap tujuan utamanya yaitu pelatihan. Solusinya adalah memilih dan menyeleksi karyawan yang akan di beri pelatihan lebih, tidak hanya dilihat dari catatan prestasi dan akademisnya tetapi sifat dan kemauan bekerja tinggi serta tingkat loyalitas terhadap perusahaan juga perlu dipertimbangkan.
    2.Bila seorang sales motor diberi tantangan dari perusahaan tempatnya bekerja untuk menjual motor lebih dari target maka akan diberikan bonus yang berkali lipat dari sebelumnya, karyawan tersebut telah melebihi target penjualan namun bonus yang dijanjikan tidak juga diberi dari perusahaan, karena takut untuk meminta kepada atasan dan dia merasa bekerja santai dengan bekerja dengan tekun hasilnya sama saja maka da akan bekerja dengan santai, bila target sudah dipenuhi maka dia akan berhenti mencari konsumen lagi. Solusinya adalah jangan memberi harapan pada konsumen secara berlebih tetapi belum tentu bisa dipenuhi, serta mamberi harapan dengan disesuaikan dengan kondisi perusahaan terlebih dahulu, lebih baik memberi secukupnya dan ditepati maka karyawan akan merasa diperhatikan.

    BalasHapus
  46. 1. Contoh : Suparjo melamar pekerjaan sebagai salesman di PT.YXZ, dan akhirnya diterima. Pada awalnya Suparjo d training cara menjadi salesman yg baik dan benar. Kemudian tibalah saatnya untuk praktik. Suparjo mampu mencapai target demi target,ekspektasi demi ekspektasi,dan akhirnya mendapat penghargaan sebagai salesman pendatang terbaik. Suparjo juga kenal dekat dengan barisan manajemen dari perusahaan. Beberapa bulan berlalu dan Suparjo tetap membuktikan kualitasnya sebagai salesman pendatang terbaik. Namun pada suatu titik,Suparjo menemui kejenuhan dalam bekerja. Target juga menurun drastis. Akhirnya Suparjo memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut dan pindah ke perusahaan lain. Solusi nya adalah,sebagai manajer yang baik,harus tahu saat karyawan mulai menurun/berubah menjadi lebih buruk baik sikap maupun kinerja. Manajer harus bertanya apakah ada masalah pribadi atau ada kesalahan dari pihak perusahaan misal gaji,komisi,tunjangan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh perushaaan. Jika kesalahan ada pada pihak perusahaan,maka harus berbenah diri,memberikan sesuai dengan apa yang dikatakan,jika karyawan bosan,berikan libur atau wisata bersama keluarga serta berbicara empat mata dengan atasan agar Suparjo mampu bertahan serta berkontribusi lagi untuk perusahaan

    2. Contoh : gajian setiap tanggal 1 tapi molor hingga beberapa hari. Menaikkan target secara tiba-tiba di tengah bulan. Lembur tidak dibayar. Contoh nyata dari kakak saya sendiri,di awal masuk kerja,perusahaan bilang bahwa jika ada acara penting,boleh pulang lebih awal 1 jam. Awal-awal perusahaan memenuhi itu,namun jalan beberapa bulan,kakak saya tidak mendapatkan itu. Solusi : karyawan secara terbuka menanyakan kepada pimpinan mengapa tidak dipenuhi janji-janji manis di awal. Karena beberapa karyawan sungkan dan takut untuk bertanya kepada pimpinan sehingga hanya ada perbincangan di belakang,bukan secara terbuka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat saudara henokh, rata rata pelanggaran psikologis terhadap pekerja berawal dari pemimpin perusahaan itu sendiri, seperti contoh pemberian bonus terhadap pekerja jika pekerja tersebut sudah kerja melebihi batas waktu jam kerja, tapi pada saat pengambilan gaji kadang dipersulit dan diperlambat pembayaran gaji tersebut, sehingga banyak pekerja yang kecewa terhadap perusahaan itu sendiri. pelanggaran psikologis memang sangat rawan terjadi antara pemberi kerja dan penerima kerja, jadi alangkah baiknya jika pemberi kerja dan penerima kerja sama sama konsekuen dengan tanggung jawabnya masing masing, sehingga tidak menimbulkan kerugian di kedua belah pihak. Terima kasih.

      Hapus
  47. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah dimana pekerja tidak dapat meneyelesaikan pekerjaannya sesuai target yang diberi oleh perusahaan.
    Saran saya untuk mengatasi pelanggaran kontrak psikologis yaitu dimana perusahaan memberi sebuah reward atau bonus kepada pekerja untuk memotivasi pekerja dapat melampaui target dari perusahaan.
    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi pekerja adalah dimana pemberi kerja tidak memberi hak pekerja seperti gaji sehingga pekerja menjadi tidak nyaman di pemberi kerja
    Solusi yang dapat dilakukan oleh pekerja menuntut pemberi pekerja atau memberikan hasil yang kurang memuaskan kepada pemberi perkerja agar pemberi pekerja sadar akan kewajibannya terhadap pekerja.

    BalasHapus
  48. Menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang di lakukan pekerja adalah ketika organisasi telah memenuhi kewajibannya baik telah membayar gaji sesuai yang di sepakati di tambah dengan tunjangan lainnya namun pekerja tidak memenuhi kewajibannyaseperti bekerja asal asalan, malas, tidak bertanggung jawab dengan pekerjaannya dan lain sebagainya sehingga dalam hal ini nampak pihak organisasi di rugikan karena apa yang di keluarkan organisasi tidak sesuai dengan apa yang di terima organisasi. Cara mengatasinya dengan memberi surat peringatan kepada pekerja yang bermasalah tersebut namun sebelumnya harus di cari lebih dulu penyebab mengapa pekerja tersebut berlaku demikian karena bisa jadi pekerja tersebut berbuat demikian karena ada factor dari organisasi yang membuat pekerja bertindak demikian (aturan dan kebijakan organisasi, lingkungan organisasi dan lain lain).
    Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pemberi kerja adalah ketika pekerja sudah selesai melakukan tugasnya/ kewajibannya namun pada saat jatuh tempo pembayaran gaji tidak tepat waktu atau tidak sesuai kesepatan, selain itu pemberi kerja menuntut lebih dari pekerja padahal gaji yang di peroleh tidak sesuai atau dengan kata lain pemberi kerja tidak memenuhi kewajibannya terhadap pekerja seperti yang terjadi pada pekerja/buruh . Cara mengatasinya dengan di bentuknya serikat buruh jika organisasi tersebut menggunakan buruh, namun jika tidak menggunakan buruh bisa membentuk suatu organisasi dimana organisasi tersebut mampu menyuarakan dan mempertahankan apa yang menjadi hak buruh dan karyawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat saudara mengenai contoh pelanggaran kontrak psikologis yakni apabila pihak pemberi kerja dengan pekerja sudah sepakat dengan sistem kerjanya namun satu pihak ada yang tidak menjalankan sistem tersebut maka hal tersebut akan menghambat hubungan antara pihak pemberi kerja dan pekerja yang berdampak pada hasil kontribusi untuk organisasi.
      Seperti contoh yang saudara sebutkan, apabila pihak pemberi kerja sudah memberikan gaji yang disepakati namun pihak pekerja tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Hal tersebut menyebabkan hubungan dalam organisasi tidak baik dan pekerja tidak bisa memberikan kontribusi yang seharusnya ia bisa berikan.
      Maka dari itu, perlunya komitmen antara pihak pemberi kerja dan pekerja agar organisasi dapat berjalan dengan baik.
      Terima Kasih

      Hapus
  49. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis bagi pekerja adalah seorang karyawan yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dgn karyawan lainnya, sehingga karyawan ini dipercaya lebih oleh atasannya. Karyawan tersebut akhirnya naik pangkat. Karena dia merasa bahwa dia merupakan orang yang cukup penting bagi perusahaan maka dia mulai seenaknya sendiri dalam memerintah bawahannya. Cara mengatasinya : Perusahaan harus memberi peringatan yang cukup tegas bagi karyawan ini. Tentunya dengan sikap yang bijaksana. Apabila setelah diperingatkan karyawan ini tetap saja melakukan hal yang buruk tersebut, maka perusahaan harus memberikan sanksi yang tegas, bahkan menurunkan jabatannya bila perlu.
    2. Contoh pelanggaran psikologis yang dilakukan perusahaan yaitu apabila perusahaan tersebut telah sepakat memberi gaji sebesar yang telah disepakati beserta calon karyawan, ternyata setelah karyawan tersebut bekerja d perusahaan itu, perusahaan memberikan gaji yang tidak sesuai dgn kesepakatan(Karena perusahaan mengalami masalah keuangan).Perusahaan menuntut adanya kinerja yang sangat bagus dan produktif dari karyawan, sedangkan karyawan sendiri tidak diberi pelatihan yang cukup oleh perusahaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin menanggapi pernyataan dari saudari Irene untuk point ke 2. Diatas dikatakan bahwa "perusahaan tersebut telah sepakat memberi gaji sebesar yang telah disepakati beserta calon karyawan, ternyata setelah karyawan tersebut bekerja d perusahaan itu, perusahaan memberikan gaji yang tidak sesuai dgn kesepakatan" menurut saya pernyataan tersebut itu menunjukkan bahwa organisasi tidak lagi melanggar kontrak psikologis kepada pekerja, tetapi sudah melanggar kontrak kerja sejak dari awal. Terima kasih

      Hapus
  50. Kelas A / 3103011047
    1. Salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja adalah ketika para pekerja sedang interview untuk masuk perusahaan tersebut, pekerja tersebut ditanya apakah benar-benar serius dan bersemangat dalam menjalani pekerjaan ini, pekerja tersebut menjawab iya dan ia berjanji untuk bersungguh-sungguh. Tetapi setelah beberapa bulan, dia bermalas-malasan dalam bekerja, dan sering terlambat.
    Menurut saya, seharusnya pekerja tersebut harus konsekuen dengan janjinya, dan perusahaan harus meminimalisir penyebab kinerja para pekerja turun.
    2. Salah satu contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah ketika diawal interview, pekerja dijanjikan jenjang karir yang sangat menjanjikan,tetapi Setelah dia bekerja selama 7 tahun, jabatannya tetap seperti pertama kali ia masuk yaitu menjadi sales.
    Menurut saya, perusahaan harus sebisa mungkin memenuhi janjinya dan tidak mengecewakan para pekerja, dan para pekerja harus menunjukkan bahwa ia pantas untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, salah satunya yaitu meningkatkan kinerja untuk memajukan perusahaan.

    BalasHapus
  51. 1. contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja menurut saya adalah pada saat melakukan wawancara kerja dan diberikan tes terhadap karyawan, menunjukkan hasil yang sangat baik sehingga karyawan tersebut diterima bekerja oleh perusahaan.tetapi kenyataannya pada saat sudah diterima bekerja,karyawan tersebut menunjukkan kualitas kinerja yang kurang maksimal dan produktivitasnya menurun. Menurut saya hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kejadian tersebut adalah mendorong dan memotivasi karyawan tersebut dengan memberikan reward pekerjaan yang di atas rata-rata sehingga karyawan termotivasi untuk bekerja dengan maksimal dan menciptakan lingkungan kekeluargaan dan harmonis dalam perusahaan.
    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah pemberi kerja mengatakan bila karyawan bekerja dengan baik dan kualitas kinerja nya semakin meningkat maka akan diberikan kenaikan gaji dan bonus dari perusahaan,akantetapi perusahaan tidak memberikan itu kepada karyawan padahal karyawan tersebut sudah menunjukkan kinerja yang sangat baik. Cara mengatasinya adalah perusahaan harus menepati janjinya sehingga karyawan dapat bertahan bekerja di perusahaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat dari saudari Liliani Imelda yang memberikan penjelasan tentang contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja. Memang benar hal yang dapat dilakukan pertama-tama adalah dengan mendorong dan memotivasi itu adalah hal utama yang wajib dilakukan, selain itu menurut saya karyawan tersebut harus diberi pelatihan-pelatihan kembali lalu diberikan training setelah itu barulah sang karyawan diberikan mendorong karyawan untuk lebih maju, selain itu juga bisa diberikan coaching keluhan dari karyawan tersebut memotivasi karyawan agar lebih bersemangat dalam pekerjaan yang diberikan dari perusahaan kemudian diberikan penghargaan seperti komisi, kompensasi, upah, bonus, dan lain lain. Kompensasi juga tidak harus berbentuk uang, bisa saja diberikan seperti tunjangan hari raya, uang pensiun, pakaian dinas, kafetaria, mushola, olahraga, dan darmawisata. Tujuan lain diberikannya penghargaan atau kompensasi adalah ikatan kerja sama, kepuasan kerja sang manajer pada karyawan tersebut, motivasi, stabilitas karyawan, kedisiplinan pengaruh serikat buruh dan pengaruh pemerintah.
      Pada contoh nomor dua juga saya setuju dengan pendapat saudari imelda apabila karyawan tersebut kinerjanya baik pada manajer maupun perusahaan, dan harus menjanjikan pasti akan diberikan kompensasi apabila karyawan tersebut melakukan pekerjaannya dengan baik.
      Terima Kasih.

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat dari saudari Liliani mengenai contoh pelanggaran kontrak psikologis yang di lakukan pekerja. Dimana terkadang penilaian pada saat melakukan wawancara dengan kenyataan pada saat karyawan itu sudah bekerja dan menjadi bagian dari perusahaan tersebut tidak sesuai dengan kontrak psikologis. Dan cara mengatasinya dengan memberikan motivasi dan memberikan reward kepada karyawan tersebut sehingga dia bisa kembali bersemangat dalam bekerja dan bisa mengingat akan perjanjian pada saat di terima dalam perusahaan . Tanpa harus mengeluarkan ataupun memberhentikan karyawan tersebut, tetapi dengan cara-cara seperti itu (motivai) juga bisa membuat dia mengerti dan menyadari apa yang di harapkan oleh perusahaan.
      Dan saya juga setuju dengan contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja. Dengan memberikan bonus serta kenaikan gaji karyawan tersebut bisa memberikan hasil yang memuaskan bagi perusahaan tersebut.
      Terima kasih.

      Hapus
  52. 1. Menurut saya pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja misalnya pada saat jam kerja seorang karyawan tidak melakukan pekerjaannya namun ia hanya smsan , telponan , dan internetan saja dan bahkan ia menggunakan internet perusahaan untuk melakukan aktivitas pribadinya. sehingga hal ini dapat menurunkan produktivitas perusahaan. cara mengatasinya yaitu dengan cara diadakannya pengawasan terhadap para karyawan agar dapat bekerja dengan semestinya.
    2. Pelanggaran psikologis yang dilakukan pemberi kerja yaitu misalkan seorang karyawan yang disuruh untuk kerja lembur. namun kerja lembur nya tidak sesuai dengan hasil yang ia dapatkan atau kompensasi yang diberikan tidak sesuai dengan waktu dan hasil kerja lembur yang diberikan karyawan.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mau menaggapi jawaban saudara nathalia ,apakah dengan melakukan pengawasan terhadap karyawan justru akan membuat karyawan tersebut menjadi tidak leluasa dalam bekerja karena terus di awasi?, sebab dengan di awasiny seorang karyawan atau pekerja saya rasa karyawan tersebut justru tidak dapat bekerja maksimal , apakah ada solusi lain yang bisa saudara nathalia tawarkan?

      Hapus
  53. Contoh pelanggaran kontrak psikologis karyawan adalah karyawan tidak berkerja seusai dengan apa yang di harapkan perusahan cara mengatasinya mencari karwayan yang seusai dengan apa yang perusahaan harapkan sedangkan pelanggaran yang di lakukan oleh pemberi kerja adalah dengan memberikan karyawan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang di milikinya,pemberi kerja harus benar benar menyeleksi karyawan yang akan di beri pekerjaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. menanggapi pernyataan dari saudara kevin, tentang pernyataan anda yang mengatakan bahwa cara mengatasi nya dengan "mencari karwayan yang sesuai dengan apa yang perusahaan harapkan" menurut saya sangatlah tidak bijak jika perusahaan langsung mencari karyawan yang baru, bukankah mempertahankan karyawan yang lama adalah pilihan yang lebih bijak, karena proses rekruitmen karyawan baru tidaklah mudah, kita harus melalui banyak proses sebelum menemukan karyawan yang sesuai. jadi menurut saya lebih baik karyawan yang sudah ada dipertahankan dan dilakukan tindakan "pembenahan" dengan cara melakukan motivasi terhadap karyawan, melakukan pelatihan, dan juga memberikan bonus jika dia mampu mencapai target yang diharapkan.

      Hapus
  54. contohnya penurunan kinerja karyawan yang seharusnya saat sebelum memulai bekerjanya seorang karyawan sudah
    dijelaskan standart dari pekerjaan yang akan dijalani oleh karyawan tersebut, cara mengatasinya dengan memberikan
    suatu standart baru untuk medapatkan bonus tertentu dengan target hasil yang baru

    sedangkan pelanggaran kontrak psikoligi yang dilakukan oleh pemberi kerja seperti tidak memenuhi kewajibannya dalam memberi hasil dari kinerja
    karyawan atau tidak memberikan kompensasi untuk kinerja karyawan.

    BalasHapus
  55. Menurut Saya,contoh pelanggaran kontrak psikologis yang di lakukan oleh Pemberi Pekerjaan adalah anda melamar sebuah pekerjaan di bank dan di tawarkan untuk bekerja sebagai Teller, namun selang beberapa bulan selama anda dalam masa percobaan tiba-tiba manajer anda meminta anda untuk memenuhi target yang harus di tempuh selama anda bekerja di sana, Jika anda tidak dapat memenuhi target yang anda maka surat ijazah anda tidak akan di serahkan oleh pihak perusahaan, dan itu akan membuat anda tertekan dan stress.
    Sedangkan pelanggaran yang di lakukan oleh Pekerja adalah jika anda memiliki sopir dan dia mengendarai kendaraan terlalu cepat meskipun dia ahli dalam berkendara namun tetap saja dapat membuat tuannya stress.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin coba menambahkan pendapat Saudara Aloysius, berkaitan dengan contoh pelanggaran kontrak psikologis oleh pekerja yang Anda berikan. Menurut saya, supir dalam contoh tersebut tidak selalu melanggar kontrak psikologis. Mungkin saja ia menyetir dengan cepat sebagai suatu bentuk usaha untuk membawa majikannya ke tempat tujuan tepat waktu sekaligus menyenangkan majikannya. Bila ia menyetir sambil tetap berhati-hati dan memperhatikan keselamatan penumpangnya, maka menurut saya supir di sini tidak melanggar kontrak psikologis. Namun, akan berbeda lagi ceritanya bila supir tersebur menyetir dengan cepat, sambil ugal-ugalan, karena ia malas, maka supir di sini dapat dikatakan melanggar kontrak psikologis karena ia tidak memberikan yang terbaik pada majikannya selaku pemberi kerja.

      Terima Kasih^^

      Hapus
  56. 1. Pelanggaran psikologis dari pekerja terhadap pemberi kerja ialah saat terjadi penurunan kinerja dan kualitas kerja serta banyaknya waktu bekerja oleh pekerja. Awalnya baik-baik saja, namun pekerja seperti menjauh dari pemberi kerja, produktivitas menurun, jam pulang lebih awal, sering ijin. Pemimpin yang baik, harus mampu melihat perubahan dari pekerja. Solusinya adalah pemberi kerja harus memberikan peringatan serta menanyakan apa penyebab dan apa mau dari pekerja.

    2. Pelanggaran psikologis dari pemberi kerja terhadap pekerja yaitu saat pemberi kerja tidak mampu memberikan kepada pekerja apa yang dijanjikan misal gaji pokok, tunjangan, komisi, servis, namun pada saat berjalannya waktu, ada saja alasan yang diberikan kepada pekerja sehingga tawaran-tawaran menjanjikan tersebut tidak terpenuhi. Kepercayaan pekerja akan pudar dan jika lama kelamaan tidak dipenuhi makan akan terjadi pengunduran diri. Dan jika pekerja sudah bekerja dengan baik maka pemberi kerja sendiri yang akan merugi. Solusinya ialah memberikan kepada pekerja apa yang dijanjikan, jika memang tidak sanggup, maka jangan ada tawaran di awal atau nama perusahaan sendiri yang jelek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan saudari Hanna dimana contoh pelanggaran psikologis dari pekerja terhadap pemberi kerja adalah menurunnya kinerja karena banyaknya jam kerja. Secara tidak langsung, banyaknya jam kerja yang kurang efektif menyebabkan kinerja karyawan menurun dan kurang berkontribusi untuk organisasinya.

      Saya mau menambahkan mengenai pelanggaran psikologis dari pemberi kerja terhadap pekerja, yakni pemberi kerja sebaiknya memberikan bentuk apresiasi kepada pekerja yang berkontribusi besar daripada karyawan lain dengan tujuan untuk memotivasi karyawannya agar lebih giat lagi dalam bekerja. Apabila pemberi kerja tidak memberikan apresiasi seperti yang anda sebutkan misalnya tunjangan, komisi, dan lainnya maka pekerja akan merasa kurang dihargai hasil kerjanya. Apalagi kalau pemberi kerja sudah menjajikan dan tidak terpenuhi, maka pekerja merasa dikecewakan.
      Terima Kasih

      Hapus
  57. Yang no.1, contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dibuat PEKERJA: "Makan Gaji Buta", istilah yang tepat terhadap pekerja yang membuat perusahaan merugi
    karena "memelihara" pekerja yang seperti ini. Perusahaan sudah melakukuan kewajibannya terhadap pekerja, tetapi pekerja tersebut malah tidak memenuhi kewajibannya
    terhadap perusahaan, seperti bertingkah seolah-olah bekerja saat atasan datang memperhatikan karyawan2nya, setelah itu pekerja tersebut bermain game dan tidak bekerja.

    Untuk mengatasinya, perusahaan harus menetapkan sanksi yang keras bagi pekerja yang ketahuan melanggar peraturan perusahaan, seperti contoh yang di atas.
    Walaupun perusahaan menetapkan aturan yang begitu ketat, tidaklah lupa perusahaan juga memberikan reward yang sepadan dengan aturan2nya, sehingga terjadi keseimbangan.

    Untuk no.2, banyak kasus2 para pemberi kerja yang seenaknya terhadap karyawan, contohnya saja perusahaan yang menunda penggajian karyawannya
    (lihat http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/476957-merpati-dua-kali-tunda-pembayaran-gaji-karyawan).
    Saya hanya bisa berkata "Selamat Datang di Indonesia, Dimana pelamar kerja sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan, melihat sedikitnya lapangan pekerjaan yang bisa dimasuki oleh pelamar kerja"
    Dalam situasi inilah perusahaan2 di Indonesia memanfaatkan keadaan tersebut.

    Cara mengatasinya tidaklah mudah melihat situasi di Indonesia yang seperti ini. Saya hanya bisa sarankan bagi PEKERJA, jika ada perusahaan yang melanggar kontrak psikologisnya,
    alternatif 1: segeralah melaporkan tindakan perusahaan tersebut ke pihak yang berwajib untuk menuntut keadilan.
    alternatif 2: Tanpa basa-basi keluar dari perusahaan tersebut dan carilah pekerjaan lain.
    alternatif 3: Jika ke 2 alternatif diatas gagal, maka mulailah berwirausaha untuk membuka lap pekerjaan baru, walaupun tidaklah mudah.

    Itu menurut pendapat saya, terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin menanggapi pendapat Saudara Samuel, berkaitan dengan kasus di mana perusahaan selaku pemberi kerja tidak mampu membayar gaji karyawannya tepat waktu. Menurut saya alternatif-alternatif yang dapat dilakukan karyawan tersebut, akan kurang tepat bila diterapkan pada situasi-situasi tertentu.

      Misalnya kasus tersebut terjadi karena perusahaan memang tengah mengalami kesulitan keuangan, bila alternatif-alternatif tersebut dilakukan karyawan, maka perusahaan akan sangat dirugikan.

      Sebaiknya sebelum melakukan alternatif 1, karyawan mengusahakan penyelesaian secara internal lebih dahulu. Karena pelaporan kasus tersebut kepada pihak berwajib, akan menimbulkan dampak buruk seperti rusaknya nama baik perusahaan, menimbulkan kekhawatiran bagi karyawan-karyawan lain yang bekerja pada perusahaan dan investor akan takut untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. Sehingga ada kemungkinan bahwa pelaporan tersebut justru mempersulit usaha perusahaan untuk memenuhi kewajibannya terhadap karyawan.

      Dan untuk alternatif ke-2, bila karyawan langsung keluar dari perusahaan tanpa basa-basi sementara perusahaan telah berusaha keras untuk memberikan gaji dan menyampaikan permintaan maaf. Saya memandang bahwa karyawan akan melanggar kontrak psikologis kepada perusahaannya selaku pemberi kerja. Karena ia tidak memberikan yang terbaik bagi perusahaan padahal perusahaan telah berusaha keras memenuhi kewajibannya. Mungkin keluar tanpa basa-basi di sini bukanlah solusi yang dapat dicontoh oleh semua karyawan, di mana sebaiknya masalah tersebut dicoba diselesaikan terlebih dahulu secara internal.
      Sekian pendapat saya, terima kasih^^

      Hapus
    2. Saya setuju dengan sdri.Caroline hanya pada pernyataan "masalah tersebut dicoba diselesaikan terlebih dahulu secara internal."

      Saya tidak setuju dengan sdri.Caroline pada paragraf kedua "bila alternatif-alternatif tersebut dilakukan karyawan, maka perusahaan akan sangat dirugikan." karena menurut saya dalam kasus tersebut karyawan lebih dulu dirugikan dimana karyawan juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya, jika gaji terlambat maka kebutuhan tertunda. Jika saja yg tertunda itu hanya berupa keinginan tidak apa-apa, tapi ini bicara soal "kebutuhan". Ketika karyawan sudah berkontribusi, tapi pemberi kerja terlambat dalam penggajian, saya bilang benar alternatif dari sdra.Samuel untuk keluar dari perusahaan itu. Bisa jadi penundaan penggajian, perusahaan ternyata diketahui bangkrut, mau tidak mau untuk terus memenuhi kebutuhan sehari hari yg terus berjalan tidak mungkin karyawan bekerja di tempat dimana gajinya ditahan dalam waktu yg mungkin bisa dibilang cukup lama.

      Hapus
    3. Terima kasih atas tanggapan saudari Yessica,
      Karyawan memang memiliki hak untuk keluar bila ia memang dirugikan oleh perusahaan. Hal yang saya permasalahkan pada alternatif kedua sebenarnya adalah bagian karyawan keluar “tanpa basa-basi”.
      Menurut saya, sebisa mungkin karyawan menyampaikan pengunduran dirinya secara baik-baik kepada perusahaan, serta mengikuti prosedur lain dalam pelepasan karyawan yang berlaku pada perusahaannya. Mungkin selama jangka waktu tertentu karyawan tetap masuk bekerja, untuk memberikan waktu bagi perusahaan untuk mencari orang yang menggantikan posisinya. Bila karyawan langsung menghilang atau keluar secara tak sopan ada kemungkinan nama baiknya tercemar, bisa juga instansi seperti perguruan tinggi tempat karyawan itu lulus pun ikut tercemar namanya. Lebih buruk lagi bila hal tersebut mengakibatnya kesulitan mencari pekerjaan di tempat lain.
      Demikian pendapat saya^^

      Hapus
  58. 1. ketika seorang pekerja diterima di sebuah perusahaan. dia pasti akan mendapatkan job desk. harapan dan ekspetasi pemberi kerja kepada pekerja tersebut adalah dia dapat menghasilkan pekerjaan yang maksimal. karena itu pemberi kerja akan memberikan semacam kebebasan hak kepada pekerja agar pekerja tersebut dapat melakukan tugasnya dengan baik . pelanggaran kontrak psikologis yang terjadi adalah si pekerja memanfaatkan kebebasan itu untuk melakukan hal hal yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan atau malah merugikan perusahaan, misalkan seorang pekerja diberikan jadwal masuk kerja pada pukul 08.00. Si pekerja meremehkan hal itu dan dia selalu masuk jam 09.00. hal ini dapat mengakibatkan keharmonisan hubungan pemberi kerja dan pekerja rusak karena pemberi kerja merasa bahwa pekerja tersebut meremehkan aturan yang ada dalam perusahaan

    2. Dalam hal pemberi kerja . ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika pekerja ingin melamar dalam suatu perusahaan. pemberi kerja mempunyai tugas menyeleksi para pelamar kerja dan melihat yang terbaik untuk ditawarkan ke dalam perusahaan. pelanggaran kontrak psikologis yang terjadi disini adalah ada beberapa perjanjian antara pekerja dengan perusahaan yang tidak terpenuhi atau berubah. urusan gaji, komisi,hak kebebasan,hak cuti dsb. misalkan seseorang pekerja ingin mengambil cuti 2 hari sebelum hari raya karena dia merasa agar dapat bertemu keluarga lebih cepat, namun perusahaan tidak mengijinkan dan malah memberikan job tambahan kepada pekerja ini. hal ini dapat merusak citra perusahaan dan hubungan perusahaan dengan karyawannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Cara mengatasinya. Perusahaan memberikan peringatan kepada pekerja yang melakukan hal seperti itu, bila tetap berlanjut maka perusahaan harus mengambil langkah tegas untuk mendisiplinkan karyawan tersebut seperti penurunan jabatan (demotion)

      2. dalam hal ini pekerja dapat melaporkan kepada yang berwajib mengenai pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh perusahaan, karena hal ini sudah melanggar perjanjian hak yang dimiliki oleh pekerja tersebut

      Hapus
  59. 1.contohnya ketika pekerja melanggar kontrak psikologis : pada saat awal dia bekerja, karyawan yang baru pertama berkerja pasti akan melakukan tugasnya dengan sebaik-baik mungkin dan lebih sabar dalam menghadapi masalah agar di lihat oleh organisasi memiliki dedikasi yg baik. Masalah dalam bekerja yang terutama adalah bagaimana pekerja mengatur dan memanajemen dirinya sendiri. Terkadang lama bekerja di perusahaan membuat, karyawan tahu kekurangan dr perusahaan/organisasi tersebut. Saya mengambil contoh supir(pengangkut barang). Beberapa perusahaan kebanyakan memberikan fee yang disesuikan dengan berapa jarak dan kebutuhannya dalam 1hari dan biasanya fee yang di berikan sangat pantas dan berlebih. Jika supir tersebut tidak bisa mengatur pengeluaran dan menggunakan uang tersebut untuk hal yg tidak berguna, maka uang yg tadinya berlebih menjadi kekurangan dan supir tersebut meminta kepada organisasi untuk memberikan uang yang berlebih. Jika tidak di beri maka supir akan menjual barang-barang dari organisasi (misalnya :dongkra,dsb). ini adalah awal bagaimana pekerja melanggar kontrak psikologis.
    Solusinya : meniliti apa masalah yg di hadapi karyawan
    2.contoh pelanggaran psikologis dari pemberi kerja adalah ketidakadilan dalam pemberian fee / melanggar kontrak yang di sepakati. Misalnya manajer memberikan bayaran kepada karyawan A yang sudah dulu bekerja selama 2tahun dengqn bayaran Rp1.000.000 dan memberikan kepada karywan B yang baru masuk sebesar Rp 1.250.000. Karywan B mendapatkan bayaran lebih besar sedikit karena adanya kebijakan baru dari pemerintah tentang peningkatan Umr.
    Hal ini merupakan salah suatu pelanggaran yang menybabkan kontrak psikologis dilakukan olh pemberi kerja
    Solusinya : Meskipun kebijakan dari pemerintah harus di lakukan, srbagai seorang pemberi kerja harus melakukan kebijakan adil kepada karyawan yang telah lama bekerja. Jika terlambat dilakukan maka pemberi kerja telah melanggar kontrak kerja dan harus segera melakukan kebijakan untuk mengatur fee agar sesuai dengan sebagimana mestinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disini saya kurang setuju dengan sdra.Nanda pada kasus poin kedua. Mengapa saudara mengatakan bahwa karyawan A hanya diberikan gaji Rp 1 juta padahal si A masih bekerja sampai ditetapkan UMR itu sendiri (Rp 1.250.000) ? Menurut saya jika karyawan A yg diberikan gaji Rp 1.250.000 sama dengan gaji karyawan B ini juga masih dibilang pelanggaran walaupun gaji keduanya sama besar dan pemberi kerja dalam menetapkan penggajian sudah memenuhi UMR tapi seperti yg saudara katakan si A sudah lama bekerja sejak 2 tahun lalu maka si A sebaiknya di atas gaji si B misalnya si A menurut saya layak diberikan Rp 1,5 juta.

      Hapus
    2. Saya setuju dengan contoh kasus yg diberikan saudara nanda.. kepada saudara yessica.. yang dimaksud saudara nanda adalah keadilan psikologis trhadap karyawan yang lama bekerja... apabila karyawan yang baru bekerja diberikan gaji yang lebih besar daripada karyawan yang lama maka karyawan yang lama akan merasa tidak dihargai..
      Dan konteks yang dimaksudkan saudara nanda dari keadilan itu bukan hanya sekedar dari sudut padang gaji.. tetapi faktor psikologi karyawan yang telah bekerja lama jga harus diperhatikan... agar karyawan merasa dihargai dan kinerjanya tidak menurun.. terimakasih

      Hapus
  60. 1. Menurut saya, kontrak psikologis yaitu dimana seorang pekerja meyakini bahwa apa yang diberikan kepada perusahaan seimbang dengan yang pekerja berikan kepada perusahaan. contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja yaitu Pada saat perekrutan karyawan, perusahaan mengharapkan mendapatkan karyawan yang mampu memenuhi semua target yang di inginkan perusahaan. Misalkan saja Pak Andre adalah seorang karyawan dalam perusahaan tersebut. Dalam proses perekrutan, Pak Andre merupakan salah satu karyawan yang memiliki kriteria yang baik untuk bekerja diperusahaan tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari pengalaman bekerja dan prestasi yang dimiliki pak andre selama bekerja diperusahaan lain ataupun selama menuntut ilmu diperguruan tinggi. Dan pada saat wawancara Pak Andre meyakini perusahaan bahwa dia bisa bekerja secara profesional dan mampu memenuhi semua target perusahaan sebaliknya perusahaan telah berjanji akan memberikan pendapatan dan kesejahteran bagi Pak Andre. Selama bekerja diperusahaan tersebut Pak Andre telah memberikan kontribusi yang baik bagi perusahaan namun bagi perusahaan hal tersebut belum cukup karena perusahaan yakin pak Andre mampu memberikan yang lebih lagi bagi perusahaan seperti yang dijanjikan pada awal perekrutan. Dan selama bekerja diperusahaan tersebut, kinerja dari pak Andre terkadang tidak stabil, kadang meningkat kadang menurun. Dari kasus tersebut, solusi yang diberikan yaitu, sebaiknya Pak Andre harus bisa memenuhi semua kesepakatan yang dibuat antara pak andre dan perusahaan pada wawancara yaitu mampu memenuhi target yang dinginkan perusahaan. Dimana pak Andre harus menjadi seorang karyawan yang memiliki komitmen dan target selama melakuka pekerjaannya, sehingga kinerja yang diberikan tidak mengecewakan perusahaan. Dan perusahaan menjadi yakin, dengan apa yang diberikan kepada karyawannya sama dengan apa yang diberikan perusahaan.
    2. Contoh kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEMBERI KERJA. Menurut saya, kembali pada contoh pada soal 1, dimana pak Andre tidak mampu memenuhi target yang diberikan perusahaan. Pada soal nomor 2 ini, yang menjadi permasalahan yaitu Perusahaan tidak mampu memenuhi janjinya kepada Pak Andre yang telah memberikan kontribusi yang lebih sesuai dengan kesepakatan awal. Misalkan saja selama bekerja diperusahaan tersebut, kinerja Pak Andre selalu meningkat dan target yang di inginkan perusahaan dapat tercapai, namun perusahaan tidak menganggap prestasi kerja dari pak Andre. Hal tersebut dapat dilihat dari Gaji yang tidak pernah naik, dan ada perasaan tidak nyaman karyawan bekerja diperusahaan tersebut. Pak Andre tentunya akan berpikir bahwa, saya memberikan kontribusi terbaik, namun saya tidak pernah mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan. Hal tersebut dapat membuat keyakinan pak Andre terhadap karyawan tersebut memudar. solusinya, perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan kinerja karyawan dan memberikan motivasi bagi Pak Andre. Dengan cara tersebut, beliau merasa bahwa keberadaannya di perusahaan tersebut dihargai dan dibutuhkan perusahaan sehingga semangat kerja dari Pak Andre semakin meningkat.
    Terima kasih

    BalasHapus
  61. 1. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEKERJA yaitu ketika kinerja karyawan tidak sesuai dengan harapan dari perusahaan tersebut, misalnya karyawan bekerja malas-malasan,tentu hal itu akan berdampak pada perusahaan. Solusinya adalah sebaiknya perusahaan harus melakukan training untuk mencegah terjadinya hal- hal diatas

    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh PEMBERI KERJA yaitu ketika perusahaan tidak memenuhi kewajibannya kepada karyawan, misalnya awalnya perusahaan berjanji akan memberikan keamanan kerja,tunjangan kesehatan dan penerimaan pensiunan pada karyawannya namun kenyataannya hal itu tidak terjadi. Solusinya adalah perusahaan harus benar-benar memenuhi kewajibannya apabila karyawan sendiri sudah bekerja dengan sangat memuaskan karena jika diabaikan kinerja karyawan akan menurun bahkan keputusan untuk keluar dari perusahaan bisa saja terjadi.

    Terima Kasih


    BalasHapus
    Balasan
    1. yang pertama kepada pak Runtu, mohon maaf bisa minta tolong di hapuskan postingan saya di bawah ini karena saya salah kolom komentar. terima kasih.
      dan kepada saudari Holia, saya ingin bertanya tentang solusi yang anda berikan. tolong anda berikan contoh spesifik training seperti apa yang anda maksudkan diatas. terima kasih

      Hapus
  62. 1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja itu seperti seorang sales yang pada awal rekrutmen dia berkomitmen akan bekerja dengan giat dan memenuhi target penjualan. Setelah diterima dan bekerja di perusahaan tersebut, karyawan tersebut malah bekerja asal-asalan, malas dan sering tidak memenuhi target penjualannya. Solusi untuk pelanggaran kontrak psikologis seperti ini yaitu karyawan diberikan pelatihan yang tepat agar ia dapat memenuhi target penjualan. Selain itu karyawan juga perlu diberi motivasi agar ia mau melakukan pekerjaannya dengan baik. Dan terakhir apabila karyawan tersebut tetap saja tidak berubah maka perusahaan dapat memberikan surat peringatan atau memberhentikan karyawan tersebut.

    2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja yaitu pada waktu rekrutmen, pemberi kerja berjanji bahwa karier karyawan akan terjamin dan meningkat apabila karyawan bekerja dengan baik. Namun pada kenyataannya karyawan tersebut sudah bekerja dengan giat dan baik tapi kariernya “macet” di situ-situ saja sejak dia diterima di perusahaan itu cukup lama. Solusi untuk pelanggaran kontrak psikologis seperti ini yaitu perusahaan diharuskan untuk berkomitmen pada janjinya dan tidak mengingkarinya. Dan apabila karyawan tersebut merasa ada pekerjaan yang lebih baik di tempat lain maka karyawan tersebut sebaiknya pindah tempat saja agar ia dapat berkembang.

    Terima Kasih

    BalasHapus
  63. 1. Menurut saya pelanggaran kontrak psikologis karyawan adalah ketika ia berkomitmen untuk memberikan yang tetbaik bagi perusahaannya dengan beketja sebaik mungkin dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi perusahaan.
    2. Pelanggaran psikologis dari sisi pemberi pekerjaan mungkin juga seperti menurunnya dukungan dari perusahaan tersebut jadi mungkin seperti fasilitas dan dukungan moral yang dahulu diterima dan mampu mendukung para pekerja sudah tidak sama lagi seperti dahulu dan mungkin sudah hilang, hal ini mampu menurunkan hasrat para pekerja untuk bisa bekerja lebih maksimal.

    BalasHapus
  64. 1. contoh pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja adalah seseorang pekerja yang tidak memiliki loyalitas pada perusahaannya atau tempat dia berkerja misalya ada seorang pekerja yang melakukan pembocoran rahasia perusahaan terhadap perusahaan lain yang pasti akan merugikan perusahaannya. cara untuk mengatasi masalah seperti ini adalah dengan mendekatkan perusahaan dengan setiap karyawan agar terjadi hubungan yang loyal dengan setiap karyawannya
    2. contoh pelanggaran psikologis yang di lakukan oleh perusahaan terhadap karyawan contohnya saat karyawan berkerja untuk memenuhi target yang diberikan oleh perusahaan tetapi disisi lain perusahaan tidak menghargai kerja atau usaha yang telah di lakukan oleh kaeyawan tersebut. cara mengatasinya dengan memberikan perhargaan bagi karyawan terbaik atau dengan memberikan komisi lebih bagi yang memenuhi target

    BalasHapus
  65. 1. Menurut saya pelanggran yang dilakukan oleh pekerja adalah seorang pekerja yang tidak loyal terhadap perusahaannya contohnya karyawan tersebut sudah tidak betah dengan suasana di tempat kerja, dan pelanggaran selanjutnya adalah kinerja karyawan yang mulai menurun sehingga merugikan perusahaan. Dengan begitu solusi yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah dengan memberikan mereka pelatihan kembali, memberikan kenaikan gaji atau reward kepada karyawan saya ambil contoh saja pemain bola yang masih belia dan memiliki bakat yang besar akan mudah tergoyahkan loyalitasnya dan mudah berpindah klub apabila klub yang dia bela sekarang tidak memberikan reward dan gaji yang tinggi dan pemain tersebut jarang dimainkan.
    2. Kalau pelanggaran yang dilakukan oleh pemberi kerja adalah tidak ada nya kesempatan bagi karyawan untuk menunjukan potensi dalam dirinya terhadap perusahaan dan ketidak pedulian perusahaan atas kinerja karyawan yang telah membantu perusahaan berkembang. Dengan begitu solusinya adalah perusahaan harus senantiasa untuk selalu meberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi dan mungkin perusahaan dapat membuka kotak saran untuk karyawan agar karyawan mudah untuk mencurahkan isi hatinya terhadap perusahaan sehingga perusahaan dapat melakukan tindakan untuk memperbaiki keadaan.

    BalasHapus
  66. menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah pada saat pekerja sudah diberi tugas yang harus dikerjakan oleh perusahaan tetapi pekerja tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut sesuai yang diharapkan oleh perusahaan berulang kali maka membuat perusahaan semakin tidak bisa berharap banyak terhadap pekerja tersebut karena dapat merugikan suatu perusahaan. Untuk solusinya, sebaiknya perusahaan menegur keras kepada pekerja atau bisa juga untuk memecatnya karena akan berdampak bagi perusahaan tidak mendapatkan hasil yang sudah ditargetkan.

    menurut saya contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi pekerja adalah saat perusahaan memberikan bonus atau gaji lembur kepada pekerja jika ada kerja lembur tetapi kenyataannya perusahaan tidak memberikan bonus atau yang sudah dijanjikannya. Maka solusinya, perusahaan segera menepati perjanjianya untuk memberikan bonus atau gaji lembur kepada pekerja, karena itu bisa membuat pekerja berpikir untuk keluar dari perusahaan yang tidak komitmen pada perjanjian yang telah dibuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syandi F.M_IP(3103011260)

      Saya ingin menambahkan pendapat saudara Febrian...
      1. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja : membongkar rahasia dan informasi penting perusahaan, korupsi anggaran perusahaan, tidak bersedia mengikuti jenjang pendalaman pendidikan dann keterampilan jika dibutuhkan perusahaan, menerima suap sebagai mata-mata perusahaan lain, menerima tawaran pekerjaan di perusahaan lain padahal kontrak kerja pada perusahaan yang lama belum berakhir, tidak bersedia untuk bekerja lembur, tidak mau bekerja sama dengan anggota tim lainnya, dll.

      Cara mengatasi : perusahaan memberikan sanksi tegas terhadap karyawan yang melanggar, mengontrol secara rutin kinerja karawannya, memberikan pengertian pada karyawan agar karyawan tersebut sadar akan pentingnya menaati setiap kesepatan yang terjadi antara karyawan dan pemberi kerja.

      2. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi kerja : manajer tidak menepati janji untuk mempromosikan seorang karyawan ke tingkat yang lebih tinggi padahal karyawan tersebut mencapai target yang ditentukan, di awal kontrak perusahaan berjanji memberikan lingkungan kerja yang aman dan nyaman tetapi ternyata pada kenyataan perusahaan melanggar janii tersebut dengan tidak memberikan fasilitas yang memadai untuk menjaga keamanan pekerja, dll.

      Cara mengatasi : perusahaan harus menepati segala janjinya pada karyawan agar karyawan lebih termotivasi untuk meningkatkan prestasinya dan memberikan timbal balik yang berdampak positif bagi perusahaan.

      terima kasih...

      Hapus
  67. Contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh karyawan menurut saya ketika seorang karyawan memberikan janji/harapan pada perusahaan akan kemampuan, kapabilitas, dan tenaganya secara maksimal, bertanggung jawab,dan sesuai dengan kemampuannya namun janji tersebut lambat laun pudar dan tidak sesuai lagi akan janji yang ia berikan. Karyawan memberikan harapan yang tinggi akan kemampuannya kepada suatu perusahaan supaya ia dapat diterima atau dipromosikan dalam sebuah perusahaan, namun hal tersebut hanya dijadikan kedok oleh karyawan untuk mencapai keinginannya, namun ada pula seorang karyawan melanggar atau tidak memenuhi janji/harapan yang ia berikan karena faktor internal perusahaan atau pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan perusahaan. Contohnya ketika seorang karyawan senior telah memenuhi syarat akan kenaikan jabatan yang di janjikan oleh perusahaan namun perusahaan tidak melakukan tindakan dan tidak merespon hal tersebut. Hal tersebut memberikan pemikiran yang negativ pada karyawan lain, secara tak langsung pula karyawan lain akan berpikir dua kali untuk memberikan loyalitas pada perusahaan sesuai janji/harapan yang karyawan berikan, sehingga karyawan tersebut melakukan pelanggaran dalam kontrak psikologisnya pada perusahaan tersebut. Solusi dari kedua permasalahan tersebut adalah harus adanya komitmen serius perusahaan akan janji/harapan yang diberikan untuk karyawannya maupun sebaliknya. Selain itu perusahaan maupun karyawan harus dapat beradaptasi akan keadaan ekonomi diluar/dalam perusahaan sehingga dari pemahaman tersebut perusahaan maupun karyawan dapat mengerti keinginan dan pemahaman akan hal yang terjadi. Sekian contoh maupun solusi yang dapat saya kemukakan, sekiranya ada pertanyaan maupun komentar dari teman-teman saya terima dengan lapangdada. Terimakasih, Tuhan Yesus memberkati. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut saya apa bila karyawan itu melupakan janji utama yang telah ia kemukakan sendiri maka bisa di nilai bahwa kwalitas karyawan itu kurang bagus. karena ia tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang ia laksanakan.
      Solusi dari saya adalah bisa jadi di saat awal perjanjian ada nya bukti fisik yang di buat menjadi acuan dari pihak karyawan mau pun perusahaan...
      contoh : dokumentasi ,saksi ,adanya surat di tandatangi diatas matrai kalau perlu...
      sekian komentar saya...apabila ada kekurangan dan kesalahaan mohon maaf :)

      Hapus
    2. saya setuju terhadap pendapat saudara antika dan saya kurang setuju terhadap statemen saudari fifi. kenapa saya tidak setuju? karena yang dibahas disini adalah kontrak kerja secara psikologis yang artinya tidak tertulis ataupun ada bukti secara nyata atau fisik seperti yang saudari fifi nyatakan. dan menurut saya karyawan ataupun perusahaan yang melanggar kontrak psikologis itu bukan berarti bahwa kualitasnya kurang bagus melainkan tidak profesional. sekarang contohnya saja ada seorang karyawan yang sebelumnya memiliki reputasi hebat di perusahaan lain lalu masuk ke suatu perusahaan baru dan di tempat bekerja dia yang baru ini dia melanggar kontrak psikologis dengan perusahaan. apakah ini bisa disebut karyawan tersebut tidak memiliki kualitas?? lalu kualitas seperti apakah yang saudari fifi maksudkan diatas? sekian komentar saya, terima kasih.

      Hapus
  68. 1. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan pekerja adalah pekerja tidak menepati janji-janjinya kepada organisasi. Seperti, usaha dan performance kinerja (kesediaan untuk bekerja lebih baik untuk kemajuan organisasi /menjadi berprestasi), loyalitas (bersedia bekerja lebih lama dengan cara tidak menerima tawaran pekerjaan lain), berperilaku lebih baik (tidak membongkar rahasia dan informasi penting perusahaan, tidak korupsi). Solusinya yaitu organisasi / perusahaan memberikan teguran (lisan maupun tulisan, sesuai dengan tingkat pelanggarannya), dan memberikan sanksi jika teguran yang diberikan diabaikan.

    2. Menurut saya, contoh pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pemberi pekerja adalah berupa janji-janji yang tidak ditepati oleh organisasi, seperti tidak memberikan gaji, tunjangan, dan bonus sesuai dengan yang dijanjikan oleh organisasi, tidak memberikan pelatihan, pengembangan karir, kesempatan promosi, dukungan dari atasan dan organisasi, serta keamanan dalam bekerja. Solusinya yaitu dengan menepati janji- janji yang telah diberikan kepada pekerja. Dan tidak memberikan janji jika tidak dapat menepati janji tersebut.

    BalasHapus
  69. 1.Menurut saya pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah seperti ketika pemberi kerja memberikan sebuah peraturan bahwa di tempat kerja tersebut tidak boleh berkata-kata yang tidak terpuji, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pekerja tersebut tidak menaati peraturan tersebut sehingga dia yang sudah terbiasa berbicara kata-kata yang tidak terpuji tersebut tetap melakukannya di tempat kerja. Menurut saya cara mengatasinya adalah dengan cara menggalakkan peraturan tersebut dan apabila melanggarnya, dapat dikenakan pemotongan gaji oleh perusahaan tersebut.

    2.Menurut saya contoh dari pelanggaran kontrak psikologis oleh pemberi kerja adalah seperti pemberi kerja tersebut akan men’check bagaimana kinerja daripada pekerja tersebut se sering mungkin tetapi pada kenyataannya pemberi kerja atau manajer tersebut malas-malasan datang ke perusahaan tersebut dan mengakibatkan pekerja tersebut merasa dibohongi akan manajer tersebut. Solusinya adalah manajer berani untuk menerima konsekuensi atas apa yang dia bicarakan. Jadi perkataanya tersebut adalah benar-benar dilakukan sesuai apa yang diucapkannya. Terima kasih.

    BalasHapus
  70. 1.Menurut saya pelanggaran kontrak psikologis yang dilakukan oleh pekerja adalah seperti perusahaan telah memberikan peraturan yang telah disepakati oleh semua pekerja tetapi lama kelamaan para pekerja tidak mematuhi peraturan tersebut lagi dan terbiasa melanggarnya.
    solusinya adalah memberikan sanksi tegas seperti surat peringatan kepada pekerja yang melanggar aturan tersebut sehingga pekerja perusahaan tersebut tidak akan melanggar aturan kembali.
    2.Menurut saya contoh dari pelanggaran kontrak psikologis oleh pemberi kerja adalah seperti seorang manajer suatu perusahaan berbuat semena-mena terhadap bawahannya dan menekan bawahannya sehingga manajer tersebut hanya bermalas-malasan untuk datang ke perusahaan tersebut. Solusinya adalah memberikan sanksi yang tegas terhadap manajer tersebut sehingga manajer tersebut tidak berani mengulangi sikapnya tersebut.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  71. Kepada saudara agatha saya mau bertanya ,di sana kan ada di jelaskan tentang pelanggaran kontrak psikologis ,nah carany agar kita sebagai manajer atau pemberi kerja mengetahui bahwa pekerja kita itu melakukan pelanggaran kontrak psilogis iu bagaimana? ,dan saya juga mau bertanya jika suatu pelanggaran kontrak psikologis itu terjadi ,caranya agar tidak terulang lagi itu bagimana?, thanks

    BalasHapus