(Article Review)
1. Latar Belakang
Organisasi terdiri dari berbagai individu yang memiliki
kepribadian yang berbeda-beda. Pemahaman akan perilaku individual dan
perbedaan-perbedaannya dapat membantu membuat organisasi itu semakin solid
sehingga akan lebih mudah mencapai tujuannya. Oleh karena itu, pembahasan akan
kepribadian dan persepsi sangat relevan dalam upaya memahami perilaku keorganisasian.
2. Permasalahan
Permasalahan pokok dalam dua artikel berikut ini adalah
bagaimana memahami perilaku individual
serta perbedaan-perbedaannya. Artikel yang ditulis oleh Zalkind & Costelo
(1962) menyoroti permasalahan tersebut dengan membahas tentang persepsi. Hal
itu sangat relevan karena persepsi seseorang dapat mempengaruh perilaku orang
tersebut dalam organisasi. Sedangkan Ashton (1998) membahas tentang
kepribadian. Sebab, sebagaimana dengan persepsi, kepribadian seseorang sangat
menentukan perilaku individual dan perbedaan-perbedaannya.
3. Pembahasan
Zalkind & Costelo (1962) membatasi pembahasannya
tentang persepsi dengan menekankan pada beberapa penelitian yang telah ada
serta implikasinya bagi administrasi. Ia merangkum berbagai penemuan pada
persepsi yang telah dikembangkan baik melalui penelitian laboratoris maupun
organisasional dan kemudian ia
merumuskan beberapa implikasi manajerial dan administratif.
Hasil rangkuman yang telah dilakukannya sehubungan dengan
penelitian tentang persepsi itu digolongkannya dalam beberapa tema pokok,
yaitu:
- Faktor-faktor mendasar dalam sifat proses yang berkenaan dengan persepsi
- Pembentukan impresi dari orang yang lain
- Karakteristik dari orang yang melakukan persepsi (perceiver) dan yang dipersepsi (perceived)
- Pengaruh situasional dan organisasional pada persepsi
- Pengaruh perseptual (yang berkenaan dengan persepsi) terhadap penyelesaian/ penyesuaian interpersonal.
Berbeda dengan artikel di atas, Ashton (1998) menyoroti personality dan job performance dalam
kaitan dengan pentingnya penggunaan kriteria (sifat) yang lebih sempit. Hal ini
muncul karena adanya dilema dalam pengukuran kepribadian (personality). Ones
dan Viswesvaran (1986) mengemukakan bahwa penggunaan pengukuran yang lebih luas
dalam menilai kepribadian lebih disukai karena bentuk itu lebih reliabel dibanding dengan pengukuran
yang menggunakan kriteria yang lebih sempit. Dengan menggunakan kriteria Big Five (extraversion, agreeablesness,
conscientiousness, emotional stability, dan intellect), Ones dan
Viswesvaran membuktikan argumen mereka.
Beberapa peneliti lain justru menunjukkan bahwa pemakaian
pengukuran yang lebih luas itu ternyata tidak menjamin adanya hasil yang lebih
reliabel. Paunonen (1993) justru menunjukkan bahwa pemakaian kriteria yang
lebih luas secara potensial dapat mengurangi validitas penilaian. Ia justru
menunjukkan bahwa beberapa kriteria yang berkenaan dengan perilaku lebih baik
diprediksi dengan menggunakan kriteria dengan level yang lebih rendah (kriteria
yang sempit). Hal itu pun didukung oleh penelitian lain.
Bertitik tolak dari adanya dilema tersebut, Ashton (1998) mencoba menguji apakah penelitian Ones dan Viswesvaran itu
benar atau tidak. Dengan mengambil sampel mahasiswa di Kanada (131 responden), WBQ (workplace behavior questionnaire) sebagai kriteria pengukuran,
Ashton menemukan bahwa pendapat Ones dan Viwesvaran tidak terbukti. Dengan
demikian maka Risk Taking Scales dari
Jackson Personality Inventory memiliki validitas yang lebih tinggi dibanding
dengan Big Five dari Ones dan
Viwesvaran.
4. Tanggapan
Setelah mencermati apa yang dikemukakan oleh para penulis
dalam artikel mereka maka dapat ditarik beberapa poin tentang perilaku
individual secara umum dan persepsi maupun kepribadian individu dalam konteks
lebih khusus. Poin-poin itu adalah
sebagai berikut:
- Pemahaman akan perilaku individual dan perbedaan-perbedaannya dapat membantu memahami perilaku organisasional karena organisasi pada hakekatnya terdiri dari individu-individu. Sedangkan pemahaman akan perilaku individual dan perbedaan-perbedaannya itu sendiri dapat diperoleh antara lain melalui pemahaman akan persepsi dan kepribadian seseorang.
- Persepsi individu dapat dipengaruhi oleh situasi individu itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya termasuk apa yang dipersepsi oleh individu tersebut.
- Ukuran yang lebih sempit yang dipakai dalam menilai kepribadian tidak dengan sendirinya menghasilkan validitas penilaian yang lebih rendah dibanding dengan ukuran yang lebih luas. Hal sebaliknya justru yang terjadi sebagaimana telah dibuktikan oleh Ashton.
=o0o=
References
Ashton, M. C. 1998. Personality and
job performance: the importance of narrow traits. Journal of Organizational
Behavior, 19 (3): 289-304.
Zalkind, S. S., & Costello, T. W. 1962.
Perception: some recent research and implications for administration, in D. Buchanan
and A. Huczynski. 1977. Organizational
Behavior: Integrated Readings. London: Prentice Hall. 5-16.
Bahan Diskusi:
Silahkan membaca buku teks kita dan coba pahami apa yang dimaksud dengan kepribadian dan persepsi. Setelah itu, silahkan tanggapi ketiga poin yang saya gunakan sebagai tanggapan terhadap 2 artikel yang saya review di atas. Selamat mencoba......